@kak_wanie:

Kak Jelita
Kak Jelita
Open In TikTok:
Region: MY
Monday 24 August 2026 08:31:00 GMT
53
0
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @kak_wanie, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV : Setelah mengakhiri hubungan dengan Sunghoon—aktor yang kariernya tengah berada di puncak—kamu mengira hidupmu akhirnya akan kembali tenang. Kamu yakin, di balik gemerlap popularitas dan jadwalnya yang padat, keberadaanmu hanyalah masa lalu yang tak lagi ia butuhkan. Tekanan dari media dan bayang-bayang namanya perlahan mulai memudar dari benakmu. Keyakinan itu semakin kuat saat mengingat bagaimana ia merespon pesan perpisahanmu tempo hari. Tidak ada kata-kata, tidak ada perdebatan, ia hanya membiarkannya di kolom read. Sebuah keheningan yang seolah menegaskan bahwa ia memang tidak peduli. Namun, kamu keliru. Demi menghapus jejak, kamu melakukan segalanya. Pindah ke kota yang jauh, mengganti nomor ponsel, hingga membeli sebuah rumah baru yang lokasinya tak diketahui siapa pun. Beberapa hari pertama di sana terasa damai, hanya ada kesunyian malam yang normal. Hingga malam ini. Saat kamu berdiri di balik pintu kaca yang menghadap ke arah taman, napasmu mendadak tercekat. Di luar sana, di tengah remang cahaya lampu taman, berdiri seorang pria. Seluruh tubuhnya tertutup pakaian serba hitam, kontras dengan kegelapan malam. Wajahnya tersembunyi di balik sebuah topeng yang dingin dan tak berekspresi. Jantungmu berdegup kencang saat pria itu perlahan mengangkat tangan, melambai pelan ke arahmu—seolah ia sudah lama menunggumu menyadari kehadirannya. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan berjalan santai menjauh, menghilang ke balik kegelapan. Rasa panik yang luar biasa langsung menyerangmu. Dengan tangan yang gemetar hebat, kamu segera merogoh ponsel, menekan nomor panggilan darurat secepat yang kamu bisa, sementara matamu tetap terpaku pada taman yang kini kembali sepi namun terasa sangat mengancam. Belum sempat jempolmu menyentuh tombol panggil, suara hantaman keras memecah keheningan. Prang! Kaca jendela pintu belakangmu hancur berkeping-keping, menciptakan lubang besar yang menganga. Langkahmu seketika membeku. Pria itu kini sudah berada di dalam rumahmu, menginjak serpihan kaca dengan sepatu hitamnya yang berat. Kamu mulai berjalan mundur perlahan, jantungmu berdegup kencang hingga terasa menyakitkan di dada. Namun, setiap kali kamu mundur selangkah, pria itu maju selangkah—tenang, namun penuh intimidasi. Lalu, ia mengangkat tangannya. Dengan gerakan lambat yang sengaja dilakukan untuk menyiksa mentalmu, ia menarik lepas topeng yang menutupi wajahnya. Di balik topeng itu, terpampang wajah yang sangat kamu kenal. Wajah yang biasanya kamu lihat di layar lebar dengan sorot mata penuh kasih, kini menatapmu dengan binar yang sulit diartikan—dingin sekaligus obsesi.
POV : Setelah mengakhiri hubungan dengan Sunghoon—aktor yang kariernya tengah berada di puncak—kamu mengira hidupmu akhirnya akan kembali tenang. Kamu yakin, di balik gemerlap popularitas dan jadwalnya yang padat, keberadaanmu hanyalah masa lalu yang tak lagi ia butuhkan. Tekanan dari media dan bayang-bayang namanya perlahan mulai memudar dari benakmu. Keyakinan itu semakin kuat saat mengingat bagaimana ia merespon pesan perpisahanmu tempo hari. Tidak ada kata-kata, tidak ada perdebatan, ia hanya membiarkannya di kolom read. Sebuah keheningan yang seolah menegaskan bahwa ia memang tidak peduli. Namun, kamu keliru. Demi menghapus jejak, kamu melakukan segalanya. Pindah ke kota yang jauh, mengganti nomor ponsel, hingga membeli sebuah rumah baru yang lokasinya tak diketahui siapa pun. Beberapa hari pertama di sana terasa damai, hanya ada kesunyian malam yang normal. Hingga malam ini. Saat kamu berdiri di balik pintu kaca yang menghadap ke arah taman, napasmu mendadak tercekat. Di luar sana, di tengah remang cahaya lampu taman, berdiri seorang pria. Seluruh tubuhnya tertutup pakaian serba hitam, kontras dengan kegelapan malam. Wajahnya tersembunyi di balik sebuah topeng yang dingin dan tak berekspresi. Jantungmu berdegup kencang saat pria itu perlahan mengangkat tangan, melambai pelan ke arahmu—seolah ia sudah lama menunggumu menyadari kehadirannya. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan berjalan santai menjauh, menghilang ke balik kegelapan. Rasa panik yang luar biasa langsung menyerangmu. Dengan tangan yang gemetar hebat, kamu segera merogoh ponsel, menekan nomor panggilan darurat secepat yang kamu bisa, sementara matamu tetap terpaku pada taman yang kini kembali sepi namun terasa sangat mengancam. Belum sempat jempolmu menyentuh tombol panggil, suara hantaman keras memecah keheningan. Prang! Kaca jendela pintu belakangmu hancur berkeping-keping, menciptakan lubang besar yang menganga. Langkahmu seketika membeku. Pria itu kini sudah berada di dalam rumahmu, menginjak serpihan kaca dengan sepatu hitamnya yang berat. Kamu mulai berjalan mundur perlahan, jantungmu berdegup kencang hingga terasa menyakitkan di dada. Namun, setiap kali kamu mundur selangkah, pria itu maju selangkah—tenang, namun penuh intimidasi. Lalu, ia mengangkat tangannya. Dengan gerakan lambat yang sengaja dilakukan untuk menyiksa mentalmu, ia menarik lepas topeng yang menutupi wajahnya. Di balik topeng itu, terpampang wajah yang sangat kamu kenal. Wajah yang biasanya kamu lihat di layar lebar dengan sorot mata penuh kasih, kini menatapmu dengan binar yang sulit diartikan—dingin sekaligus obsesi. "Kayaknya ada gunanya juga ya aku bintangi film horor kemarin?" tanya Sunghoon dengan nada santai, seolah-olah ia baru saja bertamu lewat pintu depan. Ia menyunggingkan senyum tipis yang tak sampai ke mata. Suaranya yang rendah menggema di ruang tamu yang sunyi. "Lihat betapa mudahnya aku menemukanmu, sayang. Padahal kamu sudah susah payah kabur sejauh ini." Kamu terpojok di dinding, napasmu memburu. Sunghoon sama sekali tidak terlihat peduli dengan fakta bahwa dia baru saja membobol rumahmu. Baginya, ini hanyalah sebuah adegan lain dalam naskah yang ia tulis sendiri. Sunghoon melangkah maju, memperpendek jarak yang tersisa hingga punggungmu benar-benar menempel kaku pada dinding dingin di belakangmu. Ia tidak berhenti sampai ujung sepatunya menyentuh ujung kakimu. Tangannya yang terasa sedingin es perlahan naik, menyelipkan anak rambutmu ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat lembut—namun terasa seperti jeratan. "Kamu pikir dengan ganti nomor dan pindah ke tempat terpencil, aku bakal lepasin kamu gitu aja?" bisiknya tepat di samping telingamu, suaranya rendah dan serak, mengirimkan gelombang ngeri ke sekujur tubuhmu. Ia tertawa kecil, sebuah tawa hambar yang tak pernah ia tunjukkan di depan kamera. ((comsec!) 💬 #pov #sunghoon #enhypen

About