@user632735240: চুকনগর গোল চক্র মারাত্মক এক্সিডেন্ট হইছে

Mehedi Hasan
Mehedi Hasan
Open In TikTok:
Region: BD
Tuesday 25 August 2026 11:27:31 GMT
2420
309
10
4

Music

Download

Comments

rfgkkpkezrz
☠️☠︎𝓡𝓐𝓝𝓐 ☠︎ ᡕᠵデ气亠☠️ :
ভাই আমি এই গাড়ির সামনে দাড়াই আছি 😅
2026-08-25 13:00:37
1
rosul632
ROSUL🇦🇷🇦🇷🇧🇩❤️ :
🥰🥰🥰
2026-08-26 15:04:00
1
meghla2013
✨ME GH LA 💫🩵 :
🥰🥰🥰
2026-08-26 08:24:34
1
shjsjs61255
MD😭 ইউসুফ খান মেয়েদের ক্রাস :
🥰🥰🥰
2026-08-26 04:08:04
1
yunusali3775
❤️নীল আকাশের তারা❤️ :
🥰🥰🥰
2026-08-27 01:06:10
0
user303607671
Mehedi Hasan :
🥰🥰🥰
2026-08-25 13:41:45
1
.rukiya.akthar
Rukiya akthar :
🥰🥰🥰
2026-08-25 12:49:36
1
sohagmolla333
সবার প্রিয়সাপোর্ট গ্রুপ সোহাগ :
অসাধারণ চমৎকার একটি ভিডিও শেয়ার কফিলিং ডান
2026-08-26 02:55:53
1
To see more videos from user @user632735240, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

“Aku bersaksi kepada Allah”… tapi siapa sebenarnya ‘aku’ yang sedang bersaksi? Syahadat bukan hanya kalimat yang diucapkan lisan. Ia adalah perjalanan untuk mengecilkan “aku” dan membesarkan Allah di dalam hati. MURID: Guru… saya baru memahami sesuatu. Ketika kita mengucapkan “Asyhadu alla ilaha illallah”, bukankah ada dua? Ada yang bersaksi, dan ada yang disaksikan. Kalau begitu… siapa yang sedang bersaksi? GURU: Pertanyaan itu sederhana, tetapi bisa mengguncang batinmu. Banyak orang mengucapkan syahadat, tetapi tak pernah bertanya: “Siapa aku yang berkata: aku bersaksi?” MURID: Bukankah “aku” itu saya, Guru? GURU: Secara lahir, benar. Engkau adalah hamba yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Tetapi manusia sering berhenti pada lisan. Ia berkata, “Allah Maha Esa”, namun ketenangannya masih bergantung kepada manusia. Takut kehilangan pujian, harta, pasangan, masa depan. MURID: Jadi masalahnya bukan karena saya tidak tahu Allah itu Esa? GURU: Bukan sekadar tidak tahu. Pengetahuan itu belum turun dari kepala ke hati. Lisan berkata “La ilaha illallah”, tetapi hati berkata: “Tanpa dia aku tak bahagia. Tanpa harta aku tak aman. Tanpa pengakuan manusia aku tak berarti.” Kita mengucapkan tauhid, sementara hati masih memiliki “tuhan-tuhan kecil” yang kita kejar, takuti, dan agungkan. MURID: Lalu bagaimana agar syahadat tidak hanya menjadi kalimat? GURU: Mulailah dengan menyadari siapa yang bersaksi. Ketika berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah,” jangan terburu-buru. Aku hamba. Allah Rabb. Aku membutuhkan. Allah tidak membutuhkan. Perhatikan hidupmu. Saat dipuji, tanyakan: “Aku mencari Allah atau pengakuan manusia?” Saat kehilangan, tanyakan: “Aku kehilangan sesuatu, atau merasa kehilangan Allah?” Saat takut, tanyakan: “Kepada siapa hatiku bersandar?” Di situlah syahadat mulai hidup. MURID: Jadi musyahadah itu bukan berarti melihat Allah dengan mata? GURU: Bukan. Jangan salah memahami. Musyahadah bukan berarti manusia menjadi Allah atau Allah menyatu dengan manusia. Allah tetap Allah. Hamba tetap hamba. Hati mulai menyaksikan tanda-tanda kebesaran-Nya dalam setiap keadaan. Ia tidak lagi menjadikan diri sebagai pusat kehidupan. “Aku” yang dahulu ingin dipuji belajar ikhlas. “Aku” yang takut kehilangan dunia belajar percaya kepada Pemilik dunia. MURID: Berarti semakin dalam syahadat, semakin kecil rasa “aku”? GURU: Bukan tubuhmu yang hilang, dan bukan pula dirimu menjadi Allah. Yang harus hilang adalah kesombongan bahwa dirimu berdiri sendiri tanpa-Nya. Mungkin yang menghalangimu mengenal Allah bukan jauhnya Allah… tetapi terlalu ramainya dirimu sendiri. MURID: Guru… lalu apa yang tersisa ketika “aku” tidak lagi menjadi pusat? GURU: Yang tersisa adalah hamba yang tahu ke mana harus pulang. Mungkin inilah rahasia terdalam syahadat: Kita memulai dengan berkata, “Aku bersaksi kepada Allah.” Lalu perjalanan batin mengajarkan kita berhenti membesarkan “aku” dan mulai membesarkan Allah. Jangan sampai lidahmu mengucapkan La ilaha illallah… tetapi hatimu masih berlutut kepada dunia. **Kalau hatimu terasa kosong dan ingin memahami tauhid bukan hanya dengan pikiran, tapi dengan kedalaman rasa, pilih kitab tasawuf di showcase. Mungkin ada kalimat yang selama ini dicari hatimu. #Tasawuf #Tauhid #Syahadat #MaRifat #renunganislam
“Aku bersaksi kepada Allah”… tapi siapa sebenarnya ‘aku’ yang sedang bersaksi? Syahadat bukan hanya kalimat yang diucapkan lisan. Ia adalah perjalanan untuk mengecilkan “aku” dan membesarkan Allah di dalam hati. MURID: Guru… saya baru memahami sesuatu. Ketika kita mengucapkan “Asyhadu alla ilaha illallah”, bukankah ada dua? Ada yang bersaksi, dan ada yang disaksikan. Kalau begitu… siapa yang sedang bersaksi? GURU: Pertanyaan itu sederhana, tetapi bisa mengguncang batinmu. Banyak orang mengucapkan syahadat, tetapi tak pernah bertanya: “Siapa aku yang berkata: aku bersaksi?” MURID: Bukankah “aku” itu saya, Guru? GURU: Secara lahir, benar. Engkau adalah hamba yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Tetapi manusia sering berhenti pada lisan. Ia berkata, “Allah Maha Esa”, namun ketenangannya masih bergantung kepada manusia. Takut kehilangan pujian, harta, pasangan, masa depan. MURID: Jadi masalahnya bukan karena saya tidak tahu Allah itu Esa? GURU: Bukan sekadar tidak tahu. Pengetahuan itu belum turun dari kepala ke hati. Lisan berkata “La ilaha illallah”, tetapi hati berkata: “Tanpa dia aku tak bahagia. Tanpa harta aku tak aman. Tanpa pengakuan manusia aku tak berarti.” Kita mengucapkan tauhid, sementara hati masih memiliki “tuhan-tuhan kecil” yang kita kejar, takuti, dan agungkan. MURID: Lalu bagaimana agar syahadat tidak hanya menjadi kalimat? GURU: Mulailah dengan menyadari siapa yang bersaksi. Ketika berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah,” jangan terburu-buru. Aku hamba. Allah Rabb. Aku membutuhkan. Allah tidak membutuhkan. Perhatikan hidupmu. Saat dipuji, tanyakan: “Aku mencari Allah atau pengakuan manusia?” Saat kehilangan, tanyakan: “Aku kehilangan sesuatu, atau merasa kehilangan Allah?” Saat takut, tanyakan: “Kepada siapa hatiku bersandar?” Di situlah syahadat mulai hidup. MURID: Jadi musyahadah itu bukan berarti melihat Allah dengan mata? GURU: Bukan. Jangan salah memahami. Musyahadah bukan berarti manusia menjadi Allah atau Allah menyatu dengan manusia. Allah tetap Allah. Hamba tetap hamba. Hati mulai menyaksikan tanda-tanda kebesaran-Nya dalam setiap keadaan. Ia tidak lagi menjadikan diri sebagai pusat kehidupan. “Aku” yang dahulu ingin dipuji belajar ikhlas. “Aku” yang takut kehilangan dunia belajar percaya kepada Pemilik dunia. MURID: Berarti semakin dalam syahadat, semakin kecil rasa “aku”? GURU: Bukan tubuhmu yang hilang, dan bukan pula dirimu menjadi Allah. Yang harus hilang adalah kesombongan bahwa dirimu berdiri sendiri tanpa-Nya. Mungkin yang menghalangimu mengenal Allah bukan jauhnya Allah… tetapi terlalu ramainya dirimu sendiri. MURID: Guru… lalu apa yang tersisa ketika “aku” tidak lagi menjadi pusat? GURU: Yang tersisa adalah hamba yang tahu ke mana harus pulang. Mungkin inilah rahasia terdalam syahadat: Kita memulai dengan berkata, “Aku bersaksi kepada Allah.” Lalu perjalanan batin mengajarkan kita berhenti membesarkan “aku” dan mulai membesarkan Allah. Jangan sampai lidahmu mengucapkan La ilaha illallah… tetapi hatimu masih berlutut kepada dunia. **Kalau hatimu terasa kosong dan ingin memahami tauhid bukan hanya dengan pikiran, tapi dengan kedalaman rasa, pilih kitab tasawuf di showcase. Mungkin ada kalimat yang selama ini dicari hatimu. #Tasawuf #Tauhid #Syahadat #MaRifat #renunganislam

About