@sejarah_lokal: Perayaan Maulid Nabi di Aceh adalah tradisi turun-temurun yang berlangsung selama tiga bulan berturut-turut dan berakar dari masa Kesultanan Aceh Darussalam. Asal-Usul dan Sejarah Masa Kesultanan: Tradisi peringatan Maulid di Aceh mulai tercatat resmi sejak masa pemerintahan Sultan Ali Mughayat Syah (pendiri Kesultanan Aceh Darussalam) pada abad ke-16. Perluasan Durasi: Tradisi perayaan yang memakan waktu hingga tiga bulan ini semakin berkembang pada masa Sultan Iskandar Muda (1607–1636). Durasi yang panjang ini diatur agar seluruh warga di berbagai gampong (desa) dapat bergantian merayakan dan saling mengundang secara khidmat tanpaberbenturan. Pembagian Bulan Perayaan (Tiga Bulan Maulid) Masyarakat Aceh membagi perayaan Maulid ke dalam tiga tahapan waktu dalam almanak lokal: Molot Awal (Maulid Awal): Bulan pertama atau Rabiul Awal. Adoe Molot (Maulid Pertengahan): Bulan kedua atau Rabiul Akhir. Molot Keuneulheueh (Maulid Akhir): Bulan ketiga atau Jumadil Awal. Bentuk dan Aktivitas Perayaan Kenduri (Khanduri Molod): Inti acara berupa jamuan makan bersama. Menu khas yang disajikan meliputi kuah beulangong (gulai daging khas Aceh yang dimasak dalam belanga besar) serta bu kulah (nasi bungkus daun pisang berbentuk piramida). Santunan Sosial: Berbagi makanan kepada fakir miskin dan memberikan santunan kepada anak yatim piatu. Aktivitas Keagamaan: Pembacaan kitab Barzanji, lantunan zikir, dalail khairat, serta ceramah agama di meunasah, surau, atau masjid. #sejarahlokal #kearifanlokal #sejarahislam