@yellowpawpaw_04: 🙂 #yellowpawpaw #viral #tiktoklive

Yellowpawpaw-4
Yellowpawpaw-4
Open In TikTok:
Region: NG
Tuesday 25 August 2026 21:28:05 GMT
830
199
19
13

Music

Download

Comments

klausxaddictive
Sir Klarius :
I selected it.
2026-09-01 13:41:55
0
queen.arike.iyalode
Queen🪄Aríkẹ́👑Iyalode.💫♊️🌻 :
Confirmed 👍🏽
2026-09-05 07:52:26
0
popjay50
Pop jay :
I'm a free thinker
2026-08-25 23:41:34
1
o.m.e.r.m.o.h.a.m
١ :
2026-09-06 15:29:25
0
elshanky8
ELSHANKY :
Pawpaw that’s yellow 🤔
2026-08-27 10:01:27
0
furnitureboyforlife
EMMY FURNITURE LTD :
keep up with that, let others wake up
2026-08-31 22:16:26
0
stanleyat4
Stanley Atafoh. :
You are very much on point....
2026-08-26 06:04:09
0
kriotiti5
kriotiti5🇸🇱🇬🇭🇳🇬🇬🇧🤎📚 :
2026-08-26 08:22:26
0
o.m.e.r.m.o.h.a.m
١ :
2026-09-06 15:28:41
0
o.m.e.r.m.o.h.a.m
١ :
2026-09-06 15:28:31
0
o.m.e.r.m.o.h.a.m
١ :
2026-09-06 15:29:02
0
jimfrosh
jimfrosh :
they r all cr**zy
2026-09-05 08:50:21
0
olamide000169
olamide0001 :
👍👍👍
2026-08-25 21:34:11
2
user542404225
Chi Chi :
♥️♥️♥️
2026-09-03 06:22:32
0
To see more videos from user @yellowpawpaw_04, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Suku Sawang di Bangka Selatan Makin Langka, Regenerasi Terhenti dan Kini Tersisa Dua Keluarga Laut menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Suku Sawang atau Suku Sekak, yang juga dikenal sebagai Suku Laut, di Desa Kumbung, Kecamatan Lepar, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Dahulu, puluhan kepala keluarga Suku Sawang hidup berdampingan di kawasan pesisir tersebut, mengikuti arah angin dan musim sebagai bagian dari kehidupan mereka. Kini, jumlahnya semakin sedikit, sementara regenerasi masyarakat asli Suku Sawang di desa itu disebut telah berhenti. Jejak Suku Sawang yang semakin sedikit di Desa Kumbung menarik perhatian Bangkapos.com untuk menelusuri lebih jauh kehidupan komunitas tersebut. Perjalanan itu membawa kami meninggalkan pusat Kota Toboali, menyeberangi laut menuju Pulau Lepar, hingga masuk ke permukiman warga yang berada di ujung perjalanan. Bukan sekadar mencari tahu tentang keberadaan mereka, perjalanan ini menjadi upaya untuk melihat lebih dekat bagaimana sebuah komunitas yang dahulu terdiri atas puluhan kepala keluarga kini perlahan menyusut. Perjalanan menuju Desa Kumbung dari pusat Kota Toboali membutuhkan waktu hingga dua jam.  Perjalanan dimulai menuju Pelabuhan Penyeberangan Sadai, kemudian dilanjutkan menggunakan speedboat menuju Pelabuhan Penutuk di Pulau Lepar selama sekitar lima hingga sepuluh menit, tergantung kondisi cuaca. Dari Penutuk, perjalanan kembali dilanjutkan sekitar 20 kilometer atau 30 menit menggunakan kendaraan roda dua, roda empat, maupun bus yang tersedia bagi penumpang. Sepanjang perjalanan menuju Desa Kumbung, perkebunan sawit, lada, dan karet silih berganti menghiasi sisi jalan.  Sesekali, bongkahan batu terlihat di antara perbukitan dan hamparan hijau Pulau Lepar. Sebelum tiba di Kumbung, perjalanan melewati Desa Tanjung Sangkar yang lokasinya bersebelahan dan nyaris tak memiliki batas yang terlihat jelas. Batas kedua desa hanya ditandai jalan dan sebuah gapura.  Memasuki Kumbung, suasana berubah menjadi lebih padat dengan rumah-rumah penduduk yang berdiri berdekatan. Jalan menuju permukiman semakin menyempit hingga hanya dapat dilalui satu mobil. Di tempat inilah jurnalis Bangkapos.com mencoba mendalami jejak mereka, dari kehidupan sehari-hari hingga cerita leluhur yang masih tersimpan dalam ingatan para tetua adat. Di sebuah rumah di Desa Kumbung, kami bertemu Matyani yang baru saja pulang dari berkebun. Kupluk hitam masih menempel di kepalanya, dipadukan dengan baju abu-abu bergaris, sementara sebilah parang lengkap dengan sarungnya masih terikat di pinggang. Setelah duduk, perlahan ia melepas parang tersebut dan meletakkannya di samping.  Dari percakapan sederhana itulah cerita tentang Suku Sawang mulai mengalir. Matyani, yang merupakan tokoh adat Suku Sawang Desa Kumbung, menjadi orang yang menyimpan cerita tentang perjalanan panjang komunitasnya. Ia mengaku tidak lagi mengetahui secara pasti generasi ke berapa dirinya dalam garis keturunan Suku Sawang di Desa Kumbung. Namun, diperkirakan berada pada generasi kedelapan atau kesembilan.  Sejak lahir pada era 1970-an, ia telah menetap di Kumbung dan menyaksikan perubahan komunitas Suku Sawang dari masa ke masa. “Kalau tidak salah, saya keturunan kedelapan atau kesembilan,” katanya kepada Bangkapos.com, Rabu (12/8/2026). Menurutnya, jejak Suku Sawang di Desa Kumbung telah ada sejak 1932.  Sebelum menetap, leluhur mereka dikenal sebagai masyarakat yang hidup berpindah dari satu pulau ke pulau lainnya mengikuti musim dan kondisi laut. Cerita yang diwariskan para tetua adat menyebut perjalanan mereka bermula dari kawasan perairan Riau dan Kepulauan Riau-Lingga, sebelum akhirnya sampai ke Kepulauan Bangka Belitung. Perjalanan panjang itu membawa mereka ke sejumlah wilayah di Bangka Belitung.  Dari Belinyu, Kabupaten Bangka, mereka kemudian berpindah ke Pulau Semujur dan sebagian menyebar hingga Pulau Pongok sebelum akhirnya menetap di Desa Kumbung.
Suku Sawang di Bangka Selatan Makin Langka, Regenerasi Terhenti dan Kini Tersisa Dua Keluarga Laut menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Suku Sawang atau Suku Sekak, yang juga dikenal sebagai Suku Laut, di Desa Kumbung, Kecamatan Lepar, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Dahulu, puluhan kepala keluarga Suku Sawang hidup berdampingan di kawasan pesisir tersebut, mengikuti arah angin dan musim sebagai bagian dari kehidupan mereka. Kini, jumlahnya semakin sedikit, sementara regenerasi masyarakat asli Suku Sawang di desa itu disebut telah berhenti. Jejak Suku Sawang yang semakin sedikit di Desa Kumbung menarik perhatian Bangkapos.com untuk menelusuri lebih jauh kehidupan komunitas tersebut. Perjalanan itu membawa kami meninggalkan pusat Kota Toboali, menyeberangi laut menuju Pulau Lepar, hingga masuk ke permukiman warga yang berada di ujung perjalanan. Bukan sekadar mencari tahu tentang keberadaan mereka, perjalanan ini menjadi upaya untuk melihat lebih dekat bagaimana sebuah komunitas yang dahulu terdiri atas puluhan kepala keluarga kini perlahan menyusut. Perjalanan menuju Desa Kumbung dari pusat Kota Toboali membutuhkan waktu hingga dua jam. Perjalanan dimulai menuju Pelabuhan Penyeberangan Sadai, kemudian dilanjutkan menggunakan speedboat menuju Pelabuhan Penutuk di Pulau Lepar selama sekitar lima hingga sepuluh menit, tergantung kondisi cuaca. Dari Penutuk, perjalanan kembali dilanjutkan sekitar 20 kilometer atau 30 menit menggunakan kendaraan roda dua, roda empat, maupun bus yang tersedia bagi penumpang. Sepanjang perjalanan menuju Desa Kumbung, perkebunan sawit, lada, dan karet silih berganti menghiasi sisi jalan. Sesekali, bongkahan batu terlihat di antara perbukitan dan hamparan hijau Pulau Lepar. Sebelum tiba di Kumbung, perjalanan melewati Desa Tanjung Sangkar yang lokasinya bersebelahan dan nyaris tak memiliki batas yang terlihat jelas. Batas kedua desa hanya ditandai jalan dan sebuah gapura. Memasuki Kumbung, suasana berubah menjadi lebih padat dengan rumah-rumah penduduk yang berdiri berdekatan. Jalan menuju permukiman semakin menyempit hingga hanya dapat dilalui satu mobil. Di tempat inilah jurnalis Bangkapos.com mencoba mendalami jejak mereka, dari kehidupan sehari-hari hingga cerita leluhur yang masih tersimpan dalam ingatan para tetua adat. Di sebuah rumah di Desa Kumbung, kami bertemu Matyani yang baru saja pulang dari berkebun. Kupluk hitam masih menempel di kepalanya, dipadukan dengan baju abu-abu bergaris, sementara sebilah parang lengkap dengan sarungnya masih terikat di pinggang. Setelah duduk, perlahan ia melepas parang tersebut dan meletakkannya di samping. Dari percakapan sederhana itulah cerita tentang Suku Sawang mulai mengalir. Matyani, yang merupakan tokoh adat Suku Sawang Desa Kumbung, menjadi orang yang menyimpan cerita tentang perjalanan panjang komunitasnya. Ia mengaku tidak lagi mengetahui secara pasti generasi ke berapa dirinya dalam garis keturunan Suku Sawang di Desa Kumbung. Namun, diperkirakan berada pada generasi kedelapan atau kesembilan. Sejak lahir pada era 1970-an, ia telah menetap di Kumbung dan menyaksikan perubahan komunitas Suku Sawang dari masa ke masa. “Kalau tidak salah, saya keturunan kedelapan atau kesembilan,” katanya kepada Bangkapos.com, Rabu (12/8/2026). Menurutnya, jejak Suku Sawang di Desa Kumbung telah ada sejak 1932. Sebelum menetap, leluhur mereka dikenal sebagai masyarakat yang hidup berpindah dari satu pulau ke pulau lainnya mengikuti musim dan kondisi laut. Cerita yang diwariskan para tetua adat menyebut perjalanan mereka bermula dari kawasan perairan Riau dan Kepulauan Riau-Lingga, sebelum akhirnya sampai ke Kepulauan Bangka Belitung. Perjalanan panjang itu membawa mereka ke sejumlah wilayah di Bangka Belitung. Dari Belinyu, Kabupaten Bangka, mereka kemudian berpindah ke Pulau Semujur dan sebagian menyebar hingga Pulau Pongok sebelum akhirnya menetap di Desa Kumbung.

About