@gallitospacenos: #conjuntosdecuerdahn #musicadecuerdahonduras #talentoysabor #musicadecuerda #santarositaguajiquirolapaz

Gallitos Paceños
Gallitos Paceños
Open In TikTok:
Region: HN
Wednesday 26 August 2026 00:01:55 GMT
49300
1978
112
211

Music

Download

Comments

maraita360
Historias De Terror :
Son completos 😎😎🤝
2026-08-27 04:22:06
1
kalix6739
kalix :
que buen grupo churrun chunchun exelente
2026-08-27 03:34:06
1
vasquez5328
Vasquez 23 :
El baterista anda en otro nivel
2026-08-27 02:34:22
1
josuesabillon9
𝕵𝖔𝖘𝖚𝖊 𝕾𝖆𝖇𝖎𝖑𝖑𝖔𝖓 :
He he he he
2026-08-26 05:23:26
0
lopezdavid1206
López David :
esos son mis gallitos , Saludos Bendiciones 🫡🫡🫡🫡
2026-08-26 02:46:21
14
74lopezivan
Ivan A. López :
Tremendo grupo, poniendo muy en alto la imagen de nuestro municipio de Opatoro, felicidades.
2026-08-26 12:51:19
6
chey.211
Cheily Espino.🖤🦋 :
Que quiere,la niña fresa.😍💃🕺🏻
2026-08-26 03:00:40
3
darwinamayacruz
EL AMATEÑO-1207 :
2026-08-26 21:06:11
1
desarrollo464
Desarrollo :
les hace falta
2026-08-26 01:41:09
0
maraita360
Historias De Terror :
Me gusta el paso del bajista 😎😎 Felicidades 🤝🤝
2026-08-27 04:23:21
1
_tu_pesadilla._.18
El_çhølö♾️♠️🧃 :
chulada
2026-08-26 17:38:19
1
franklin.carrillo85
Franklin Carrillo :
2026-08-26 15:29:50
1
user1385000430399
roxxi Contreras :
muy linda música. y ellos también. ♥️😊
2026-08-26 15:39:38
2
yohana50461
Yohana 504🇭🇳❤️ :
2026-08-26 01:17:05
1
garcya457
Garcya🫨 :
2026-08-26 00:22:24
1
felipon504
Jelipe :
Son completos los paisanos 👏👏👏👏 masiso tocan
2026-08-26 21:32:55
1
kevincalix35
🖤Kevin❤️💥💣🥱 :
Belleza de conjunto
2026-08-26 01:36:42
3
marelgmez
gomez :
que chulada como van subiendo de nivel
2026-08-26 00:32:37
1
user9247049108076
user9247049108076 :
Al 1000 k lujo
2026-08-26 11:14:59
0
juniorjoel062
junior Joel.... :
que grupazo le ponen ambiente
2026-08-27 00:36:37
1
garciajos1224
❗...GARCÍA...☯️ :
Me llega andan muy bien
2026-08-26 02:52:26
2
andrewss333
R. Andres :
En el aniversarios del equipo Lempira en Santa Rosita, se tiraron un ambientazo
2026-08-26 03:31:44
4
adalbertojosuesan
Adalberto josue Sanchez sierra :
buen grupo bendiciones👼🙏❤
2026-08-26 01:41:47
2
jeym49
mmmm :
bendisiones chicos 👍
2026-08-26 14:38:35
2
chino.ntrax512
chino ántrax :
Andan con todo mis respetos chavalos
2026-08-26 13:02:49
2
To see more videos from user @gallitospacenos, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

“Aku bersaksi kepada Allah”… tapi siapa sebenarnya ‘aku’ yang sedang bersaksi? Syahadat bukan hanya kalimat yang diucapkan lisan. Ia adalah perjalanan untuk mengecilkan “aku” dan membesarkan Allah di dalam hati. MURID: Guru… saya baru memahami sesuatu. Ketika kita mengucapkan “Asyhadu alla ilaha illallah”, bukankah ada dua? Ada yang bersaksi, dan ada yang disaksikan. Kalau begitu… siapa yang sedang bersaksi? GURU: Pertanyaan itu sederhana, tetapi bisa mengguncang batinmu. Banyak orang mengucapkan syahadat, tetapi tak pernah bertanya: “Siapa aku yang berkata: aku bersaksi?” MURID: Bukankah “aku” itu saya, Guru? GURU: Secara lahir, benar. Engkau adalah hamba yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Tetapi manusia sering berhenti pada lisan. Ia berkata, “Allah Maha Esa”, namun ketenangannya masih bergantung kepada manusia. Takut kehilangan pujian, harta, pasangan, masa depan. MURID: Jadi masalahnya bukan karena saya tidak tahu Allah itu Esa? GURU: Bukan sekadar tidak tahu. Pengetahuan itu belum turun dari kepala ke hati. Lisan berkata “La ilaha illallah”, tetapi hati berkata: “Tanpa dia aku tak bahagia. Tanpa harta aku tak aman. Tanpa pengakuan manusia aku tak berarti.” Kita mengucapkan tauhid, sementara hati masih memiliki “tuhan-tuhan kecil” yang kita kejar, takuti, dan agungkan. MURID: Lalu bagaimana agar syahadat tidak hanya menjadi kalimat? GURU: Mulailah dengan menyadari siapa yang bersaksi. Ketika berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah,” jangan terburu-buru. Aku hamba. Allah Rabb. Aku membutuhkan. Allah tidak membutuhkan. Perhatikan hidupmu. Saat dipuji, tanyakan: “Aku mencari Allah atau pengakuan manusia?” Saat kehilangan, tanyakan: “Aku kehilangan sesuatu, atau merasa kehilangan Allah?” Saat takut, tanyakan: “Kepada siapa hatiku bersandar?” Di situlah syahadat mulai hidup. MURID: Jadi musyahadah itu bukan berarti melihat Allah dengan mata? GURU: Bukan. Jangan salah memahami. Musyahadah bukan berarti manusia menjadi Allah atau Allah menyatu dengan manusia. Allah tetap Allah. Hamba tetap hamba. Hati mulai menyaksikan tanda-tanda kebesaran-Nya dalam setiap keadaan. Ia tidak lagi menjadikan diri sebagai pusat kehidupan. “Aku” yang dahulu ingin dipuji belajar ikhlas. “Aku” yang takut kehilangan dunia belajar percaya kepada Pemilik dunia. MURID: Berarti semakin dalam syahadat, semakin kecil rasa “aku”? GURU: Bukan tubuhmu yang hilang, dan bukan pula dirimu menjadi Allah. Yang harus hilang adalah kesombongan bahwa dirimu berdiri sendiri tanpa-Nya. Mungkin yang menghalangimu mengenal Allah bukan jauhnya Allah… tetapi terlalu ramainya dirimu sendiri. MURID: Guru… lalu apa yang tersisa ketika “aku” tidak lagi menjadi pusat? GURU: Yang tersisa adalah hamba yang tahu ke mana harus pulang. Mungkin inilah rahasia terdalam syahadat: Kita memulai dengan berkata, “Aku bersaksi kepada Allah.” Lalu perjalanan batin mengajarkan kita berhenti membesarkan “aku” dan mulai membesarkan Allah. Jangan sampai lidahmu mengucapkan La ilaha illallah… tetapi hatimu masih berlutut kepada dunia. **Kalau hatimu terasa kosong dan ingin memahami tauhid bukan hanya dengan pikiran, tapi dengan kedalaman rasa, pilih kitab tasawuf di showcase. Mungkin ada kalimat yang selama ini dicari hatimu. #Tasawuf #Tauhid #Syahadat #MaRifat #renunganislam
“Aku bersaksi kepada Allah”… tapi siapa sebenarnya ‘aku’ yang sedang bersaksi? Syahadat bukan hanya kalimat yang diucapkan lisan. Ia adalah perjalanan untuk mengecilkan “aku” dan membesarkan Allah di dalam hati. MURID: Guru… saya baru memahami sesuatu. Ketika kita mengucapkan “Asyhadu alla ilaha illallah”, bukankah ada dua? Ada yang bersaksi, dan ada yang disaksikan. Kalau begitu… siapa yang sedang bersaksi? GURU: Pertanyaan itu sederhana, tetapi bisa mengguncang batinmu. Banyak orang mengucapkan syahadat, tetapi tak pernah bertanya: “Siapa aku yang berkata: aku bersaksi?” MURID: Bukankah “aku” itu saya, Guru? GURU: Secara lahir, benar. Engkau adalah hamba yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Tetapi manusia sering berhenti pada lisan. Ia berkata, “Allah Maha Esa”, namun ketenangannya masih bergantung kepada manusia. Takut kehilangan pujian, harta, pasangan, masa depan. MURID: Jadi masalahnya bukan karena saya tidak tahu Allah itu Esa? GURU: Bukan sekadar tidak tahu. Pengetahuan itu belum turun dari kepala ke hati. Lisan berkata “La ilaha illallah”, tetapi hati berkata: “Tanpa dia aku tak bahagia. Tanpa harta aku tak aman. Tanpa pengakuan manusia aku tak berarti.” Kita mengucapkan tauhid, sementara hati masih memiliki “tuhan-tuhan kecil” yang kita kejar, takuti, dan agungkan. MURID: Lalu bagaimana agar syahadat tidak hanya menjadi kalimat? GURU: Mulailah dengan menyadari siapa yang bersaksi. Ketika berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah,” jangan terburu-buru. Aku hamba. Allah Rabb. Aku membutuhkan. Allah tidak membutuhkan. Perhatikan hidupmu. Saat dipuji, tanyakan: “Aku mencari Allah atau pengakuan manusia?” Saat kehilangan, tanyakan: “Aku kehilangan sesuatu, atau merasa kehilangan Allah?” Saat takut, tanyakan: “Kepada siapa hatiku bersandar?” Di situlah syahadat mulai hidup. MURID: Jadi musyahadah itu bukan berarti melihat Allah dengan mata? GURU: Bukan. Jangan salah memahami. Musyahadah bukan berarti manusia menjadi Allah atau Allah menyatu dengan manusia. Allah tetap Allah. Hamba tetap hamba. Hati mulai menyaksikan tanda-tanda kebesaran-Nya dalam setiap keadaan. Ia tidak lagi menjadikan diri sebagai pusat kehidupan. “Aku” yang dahulu ingin dipuji belajar ikhlas. “Aku” yang takut kehilangan dunia belajar percaya kepada Pemilik dunia. MURID: Berarti semakin dalam syahadat, semakin kecil rasa “aku”? GURU: Bukan tubuhmu yang hilang, dan bukan pula dirimu menjadi Allah. Yang harus hilang adalah kesombongan bahwa dirimu berdiri sendiri tanpa-Nya. Mungkin yang menghalangimu mengenal Allah bukan jauhnya Allah… tetapi terlalu ramainya dirimu sendiri. MURID: Guru… lalu apa yang tersisa ketika “aku” tidak lagi menjadi pusat? GURU: Yang tersisa adalah hamba yang tahu ke mana harus pulang. Mungkin inilah rahasia terdalam syahadat: Kita memulai dengan berkata, “Aku bersaksi kepada Allah.” Lalu perjalanan batin mengajarkan kita berhenti membesarkan “aku” dan mulai membesarkan Allah. Jangan sampai lidahmu mengucapkan La ilaha illallah… tetapi hatimu masih berlutut kepada dunia. **Kalau hatimu terasa kosong dan ingin memahami tauhid bukan hanya dengan pikiran, tapi dengan kedalaman rasa, pilih kitab tasawuf di showcase. Mungkin ada kalimat yang selama ini dicari hatimu. #Tasawuf #Tauhid #Syahadat #MaRifat #renunganislam

About