@thadmak: Disposable air fryer liners, oil‑proof non‑stick, no‑clean baking paper #airfryerliners #kitchengadgets #airfryeraccessories #bakingpaper #homeessentials

thadmak
thadmak
Open In TikTok:
Region: US
Wednesday 26 August 2026 10:49:15 GMT
36166
103
4
17

Music

Download

Comments

kay844318
kay :
They catch on fire
2026-09-01 01:49:51
1
freakles01
TMIC :
Nah they catch fire.
2026-08-30 16:18:53
1
labori625
Lydia :
I use a smaller size and that shit shrink 😂 i got me the rubber ones they are very good . Much better
2026-08-30 22:28:26
0
ninanbrownskin
Empress Nina ❌ 💋 :
There is leakage
2026-08-30 20:10:49
0
To see more videos from user @thadmak, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Di balik kabut tebal dan gemuruh tanpa henti Gunung Dukono, masyarakat Halmahera Utara mewariskan sebuah legenda tua tentang sosok penjaga gaib gunung bernama Meme Tolori. Konon pada masa lampau, sebelum Dukono dikenal seperti sekarang, sebuah gunung besar bernama Tarakani meletus dahsyat hingga menghancurkan kampung-kampung di sekitarnya. Langit berubah gelap dipenuhi abu vulkanik, tanah bergetar hebat, hujan batu panas menghantam rumah-rumah kayu beratap ilalang, dan seluruh penduduk panik melarikan diri menuju pantai untuk menyelamatkan diri menggunakan perahu-perahu nelayan. Di tengah kepanikan itu, warga terus memohon kepada seorang nenek tua bernama Tolori agar ikut pergi bersama mereka. Tangan keriput sang nenek digenggam erat, tubuhnya ditarik menuju kapal yang telah penuh oleh pria, wanita, dan anak-anak yang menangis ketakutan. Namun Meme Tolori hanya memandang desa yang tertutup abu dengan mata penuh kesedihan dan keteguhan. Ia perlahan melepaskan genggaman warga dan menolak meninggalkan tanah leluhurnya. Bagi dirinya, kampung itu bukan sekadar tempat tinggal, melainkan tanah warisan yang telah dijaga sepanjang hidupnya. Saat kapal-kapal mulai menjauh diterjang ombak dan hujan abu, Meme Tolori berjalan kembali menuju desanya seorang diri. Langit dipenuhi asap hitam dan cahaya merah letusan gunung, sementara seluruh kampung telah berubah menjadi reruntuhan sunyi. Rumah-rumah kayu hangus terbakar dan setengah tertimbun abu vulkanik, pohon-pohon tertutup debu hitam, dan udara panas bercampur bau belerang menyelimuti lereng gunung. Di punggungnya tergantung sebuah keranjang rotan besar tua berbentuk lonjong memanjang, dianyam kasar dari rotan hutan Halmahera dengan tali alang-alang dan jerami tebal yang melilit bahu hingga dada. Dengan tubuh renta dan tangan keriput penuh abu, Meme Tolori mulai membersihkan desa yang telah hancur. Ia memunguti bebatuan vulkanis dan abu panas sedikit demi sedikit ke dalam keranjang tuanya sambil berjalan perlahan di antara reruntuhan rumah warga. Meski hujan abu terus turun dan gunung masih mengaum di kejauhan, sang nenek tidak pernah berhenti. Ia memilih bertahan demi menjaga tanah leluhur yang dicintainya hingga akhir hayat. Namun ketika ia sedang mengangkat timbunan abu dari dekat rumah-rumah yang telah runtuh, letusan susulan tiba-tiba mengguncang gunung jauh lebih dahsyat dari sebelumnya. Langit berubah merah gelap, kawah memuntahkan gelombang abu panas dan hujan batu vulkanik ke seluruh desa. Meme Tolori mencoba bertahan sambil memeluk keranjang rotan di punggungnya, tetapi muntahan abu dan bebatuan panas runtuh menimbun tubuh renta itu tanpa ampun. Sang nenek tewas terkubur bersama keranjang tua bertali alang-alang yang sejak tadi dibawanya. Sejak saat itu masyarakat Halmahera percaya arwah Meme Tolori tidak pernah benar-benar pergi. Ia diyakini menjadi penjaga gaib Gunung Dukono, roh tua yang tetap mengawasi hutan, kabut, dan tanah leluhur yang dipertahankannya hingga kematian. Hingga sekarang, banyak pendaki dan warga sekitar mengaku mengalami kejadian aneh saat melintasi jalur gunung, terutama ketika malam turun dan kabut mulai menyelimuti lereng Dukono. Beberapa orang mendengar suara perempuan tua memanggil nama mereka lirih dari balik pepohonan, sementara sebagian lainnya mengaku melihat sosok nenek tua membawa keranjang rotan besar berjalan perlahan di antara kabut dan asap belerang sebelum menghilang tanpa jejak. Bagi masyarakat setempat, legenda Meme Tolori bukan sekadar cerita mistis tentang arwah penjaga gunung. Ia adalah simbol kesetiaan terhadap tanah leluhur, pengorbanan, dan penghormatan kepada alam yang dipercaya memiliki roh penjaga sejak zaman dahulu. Hingga kini, di tengah gemuruh Gunung Dukono yang tak pernah benar-benar diam, masyarakat Halmahera percaya napas sang penjaga tua masih hidup di antara kabut, abu vulkanik, dan hutan gelap yang menyelimuti gunung tersebut. #horrormedia #gunungdukono #halmaherautara #ghost #creepy
Di balik kabut tebal dan gemuruh tanpa henti Gunung Dukono, masyarakat Halmahera Utara mewariskan sebuah legenda tua tentang sosok penjaga gaib gunung bernama Meme Tolori. Konon pada masa lampau, sebelum Dukono dikenal seperti sekarang, sebuah gunung besar bernama Tarakani meletus dahsyat hingga menghancurkan kampung-kampung di sekitarnya. Langit berubah gelap dipenuhi abu vulkanik, tanah bergetar hebat, hujan batu panas menghantam rumah-rumah kayu beratap ilalang, dan seluruh penduduk panik melarikan diri menuju pantai untuk menyelamatkan diri menggunakan perahu-perahu nelayan. Di tengah kepanikan itu, warga terus memohon kepada seorang nenek tua bernama Tolori agar ikut pergi bersama mereka. Tangan keriput sang nenek digenggam erat, tubuhnya ditarik menuju kapal yang telah penuh oleh pria, wanita, dan anak-anak yang menangis ketakutan. Namun Meme Tolori hanya memandang desa yang tertutup abu dengan mata penuh kesedihan dan keteguhan. Ia perlahan melepaskan genggaman warga dan menolak meninggalkan tanah leluhurnya. Bagi dirinya, kampung itu bukan sekadar tempat tinggal, melainkan tanah warisan yang telah dijaga sepanjang hidupnya. Saat kapal-kapal mulai menjauh diterjang ombak dan hujan abu, Meme Tolori berjalan kembali menuju desanya seorang diri. Langit dipenuhi asap hitam dan cahaya merah letusan gunung, sementara seluruh kampung telah berubah menjadi reruntuhan sunyi. Rumah-rumah kayu hangus terbakar dan setengah tertimbun abu vulkanik, pohon-pohon tertutup debu hitam, dan udara panas bercampur bau belerang menyelimuti lereng gunung. Di punggungnya tergantung sebuah keranjang rotan besar tua berbentuk lonjong memanjang, dianyam kasar dari rotan hutan Halmahera dengan tali alang-alang dan jerami tebal yang melilit bahu hingga dada. Dengan tubuh renta dan tangan keriput penuh abu, Meme Tolori mulai membersihkan desa yang telah hancur. Ia memunguti bebatuan vulkanis dan abu panas sedikit demi sedikit ke dalam keranjang tuanya sambil berjalan perlahan di antara reruntuhan rumah warga. Meski hujan abu terus turun dan gunung masih mengaum di kejauhan, sang nenek tidak pernah berhenti. Ia memilih bertahan demi menjaga tanah leluhur yang dicintainya hingga akhir hayat. Namun ketika ia sedang mengangkat timbunan abu dari dekat rumah-rumah yang telah runtuh, letusan susulan tiba-tiba mengguncang gunung jauh lebih dahsyat dari sebelumnya. Langit berubah merah gelap, kawah memuntahkan gelombang abu panas dan hujan batu vulkanik ke seluruh desa. Meme Tolori mencoba bertahan sambil memeluk keranjang rotan di punggungnya, tetapi muntahan abu dan bebatuan panas runtuh menimbun tubuh renta itu tanpa ampun. Sang nenek tewas terkubur bersama keranjang tua bertali alang-alang yang sejak tadi dibawanya. Sejak saat itu masyarakat Halmahera percaya arwah Meme Tolori tidak pernah benar-benar pergi. Ia diyakini menjadi penjaga gaib Gunung Dukono, roh tua yang tetap mengawasi hutan, kabut, dan tanah leluhur yang dipertahankannya hingga kematian. Hingga sekarang, banyak pendaki dan warga sekitar mengaku mengalami kejadian aneh saat melintasi jalur gunung, terutama ketika malam turun dan kabut mulai menyelimuti lereng Dukono. Beberapa orang mendengar suara perempuan tua memanggil nama mereka lirih dari balik pepohonan, sementara sebagian lainnya mengaku melihat sosok nenek tua membawa keranjang rotan besar berjalan perlahan di antara kabut dan asap belerang sebelum menghilang tanpa jejak. Bagi masyarakat setempat, legenda Meme Tolori bukan sekadar cerita mistis tentang arwah penjaga gunung. Ia adalah simbol kesetiaan terhadap tanah leluhur, pengorbanan, dan penghormatan kepada alam yang dipercaya memiliki roh penjaga sejak zaman dahulu. Hingga kini, di tengah gemuruh Gunung Dukono yang tak pernah benar-benar diam, masyarakat Halmahera percaya napas sang penjaga tua masih hidup di antara kabut, abu vulkanik, dan hutan gelap yang menyelimuti gunung tersebut. #horrormedia #gunungdukono #halmaherautara #ghost #creepy

About