@arrufaaci.academy: AR-RUFAACI ACADEMY IYO MAALIN QURUX BADAN @E N Z O 🔥🌟 @magic saabir 🐐🥇🐐 @AWBAKAR ❤️‍🔥🐐 @AL-RUFAACI P.S.S

AR-RUFAACI ACADEMY
AR-RUFAACI ACADEMY
Open In TikTok:
Region: SO
Friday 28 August 2026 17:03:19 GMT
1049
192
16
4

Music

Download

Comments

nayebsadat5
Nayeb Sadat :
2026-08-30 20:38:51
0
user2513521328842
ramadaan kariim :
🥰🥰🥰🥰
2026-08-29 03:50:04
0
shakra_diaz0
shakra diaz :
🥰🥰🥰
2026-08-28 20:09:35
0
user7988812806192
abukar :
🥰🥰🥰
2026-08-28 18:31:31
0
eng.nour.muse
eng nour muse :
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2026-08-28 17:47:13
0
salaad.imaan.aada
0616352978 :
🥰🥰🥰
2026-08-28 17:42:50
0
axmadawgaab7
magic.chiesa :
🥰🥰
2026-08-28 17:17:25
0
somalisports12
NANA :
🥰🥰🥰
2026-08-28 17:13:23
0
bakararnold
AWBAKAR ❤️‍🔥🐐 66 :
🥰🥰
2026-08-28 17:09:20
0
bakararnold
AWBAKAR ❤️‍🔥🐐 66 :
🥰🥰🥰
2026-08-28 17:09:18
0
bakararnold
AWBAKAR ❤️‍🔥🐐 66 :
🥰🥰
2026-08-28 17:09:17
0
barcolla27
Barcola :
🥰🥰🥰
2026-08-28 17:06:44
0
wll___moha22
magic Amiin🔥 :
🔥🔥🔥
2026-08-28 17:06:37
0
bakararnold
AWBAKAR ❤️‍🔥🐐 66 :
🥰🥰🥰
2026-08-28 17:06:23
0
bacwase11
🍀KAAKA🍀🌴🦂 :
🔥🔥🔥
2026-08-28 17:06:01
0
deeqo.dagan4687
umu iqar💋💯umu ibarhim :
🥰🥰🥰
2026-08-31 13:21:46
0
To see more videos from user @arrufaaci.academy, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

. Al-Habib Abubakar Al-Adani Al-Masyhur Melawan Syahwat Di Era Fitnah yang Jahat Agama itu bagaikan rem, sebagaimana kalian menyebut rem pada kendaraan, ia menahan kita agar tidak melampaui batas kemampuan dan kebenaran. Bagaimana agama menahan kita? Bagaimana Islam mengendalikan diri kita?   Seperti kisah Khawat bin Jubair, beliau masuk Islam, dan setelah itu berkata:
. Al-Habib Abubakar Al-Adani Al-Masyhur Melawan Syahwat Di Era Fitnah yang Jahat Agama itu bagaikan rem, sebagaimana kalian menyebut rem pada kendaraan, ia menahan kita agar tidak melampaui batas kemampuan dan kebenaran. Bagaimana agama menahan kita? Bagaimana Islam mengendalikan diri kita? Seperti kisah Khawat bin Jubair, beliau masuk Islam, dan setelah itu berkata: "Wahai Rasulullah, aku ada permintaan." Nabi saw bertanya: "Apakah engkau sudah beriman?" Ia menjawab: "Aku sudah beriman, namun aku punya satu syarat." Nabi bersabda: "Apa syaratmu?" Ia berkata: "Izinkanlah aku berzina, karena aku tidak mampu menahan diri dari wanita. Sesungguhnya hawa nafsuku bagaikan unta yang liar yang tak terkendali." Ia menggambarkan syahwatnya yang tak mampu ia kendalikan. Ini seperti ungkapan seorang penyair (Abu Nawwas): خَلَقْتَ الـجَمالَ لنا فتنةً "Engkau menciptakan keindahan sebagai ujian bagi kami, وقلتَ لنا: يا عبادي اتَّقونْ Lalu Engkau berfirman: Wahai hamba-Ku, bertakwalah kepada-Ku! وأنتَ جميلٌ تحبُّ الـجَمال Padahal Engkau Maha Indah dan mencintai keindahan, فكيفَ عبادُكَ لا يَعشقونْ! Maka bagaimanakah hamba-Mu tidak jatuh cinta?" Ucapan semacam ini berada pada tingkatan akal dan hawa nafsu, bukan pada tingkatan hati, bukan pada tingkatan adab dan penyucian diri. Maka Nabi saw bersabda kepadanya: "Duduklah, wahai Khawat. Duduklah." Karena ketika engkau duduk dan menghadiri majlis, perubahan, pemahaman, dan kesadaran akan mulai tumbuh. Nabi lalu bertanya: "Wahai Khawat, apakah engkau rela jika terjadi perzinaan terhadap ibumu?" Inilah cara yang adil dan seimbang ketika syahwat seseorang mendesak untuk berbuat keburukan, bayangkanlah jika engkau yang menjadi pihak yang dirugikan. Jika engkau dizalimi, apakah engkau rela? Jika engkau menzalimi orang lain, apakah itu pantas? Nabi bertanya lagi: "Apakah engkau rela jika terjadi perzinaan terhadap saudari perempuannmu?" Ia menjawab: "Tidak, wahai Rasulullah." "Apakah engkau rela jika terjadi perzinaan terhadap istrimu?" Maka ia segera mencabut pedangnya dan bersumpah: "Demi Allah, jika aku melihat seseorang melakukannya, pasti aku tebas dengan pedang ini!" Inilah rasa cemburu yang ada pada setiap diri kita. Lalu bagaimana Nabi saw mendidiknya? Bukan dengan hawa nafsu semata, melainkan dengan hukum Syariat. Setiap orang memang memiliki rasa cemburu, namun rasa cemburu yang lahir dari nafsu akan hilang begitu melihat wanita lain. Namun jika diatur oleh syariat, ia akan terjaga untuk semua orang — sehingga kita memahami: Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Tingkat kemanusiaan, pemahaman, dan kesadaran pun naik menjadi lebih tinggi. Khawat bin Jubair pun memahami pesan tersebut, menerima seruan itu, dan pergi. Waktu berlalu, hingga suatu ketika ia datang ke Madinah menunggangi untanya. Nabi saw keluar dari masjid dan melihatnya, lalu memanggil: "Wahai Khawat, apa kabar unta liarmu tadi?" Ia menjawab: "Islam yang telah menundukkannya, wahai Rasulullah." Di manakah letak pengaruh Islam? Apakah Islam menundukkan (mencegah) sebuah rumah, seorang pemuda, seorang gadis, seorang mukmin, atau seorang lelaki yang dulu penuh syahwat? Siapakah yang ditundukkan oleh Islam? Apakah Islam yang berubah bagi kita, atau kita yang berubah karena Islam? Inilah yang butuh kita renungkan dan atur kembali. Zaman terus berubah, waktu berlalu dengan cepat, dan umur manusia sungguh singkat. Jalan yang paling dekat adalah kita mengenal dari majlis-majlis. Inilah rahasia keterikatan kita kepada Pemimpin Para Nabi saw. Poin Singkat dari kalam Al-Habib Abubakar: 1. Agama sebagai pengendali — ibarat rem kendaraan, menahan manusia dari melampaui batas yang wajar. 2. Kisah Khawat bin Jubair — setelah masuk Islam, ia meminta izin berzina karena mengaku tak bisa menahan hawa nafsunya. Ia menyebut dirinya seperti "unta liar" yang tak bisa dikendalikan. 3. Intinya Islam hadir untuk membimbing dan menahan nafsu, bukan membebaskan tanpa aturan. Semoga bermanfaat!

About