@tes.kuping: 🇮🇩Antara Pilih Kasih dan Tebang Pilih🇮🇩 Bank NTT hampir selalu menjadi sorotan kritik publik. Sebagai bank daerah kebanggaan masyarakat Nusa Tenggara Timur, Bank NTT tentu diharapkan bukan hanya terlihat kuat dari luar, tetapi juga sehat, profesional, dan tertib di dalam. Masalahnya, publik kerap bertanya: sejauh mana pengawasan internal benar-benar berjalan? Sanksi dan pembinaan terhadap pegawai yang bermasalah semestinya diberikan berdasarkan aturan yang sama, tanpa melihat siapa orangnya, siapa yang dekat dengannya, atau seberapa besar pengaruhnya. Sebab, ketika aturan terasa tajam kepada sebagian orang tetapi tumpul kepada yang lain, yang rusak bukan hanya rasa keadilan. Kepercayaan terhadap institusi pun ikut dipertaruhkan. Ada sejumlah fakta dan kasus yang patut menjadi bahan evaluasi. Di satu sisi, ada orang yang pernah dikaitkan dengan persoalan atau pemeriksaan hukum, tetapi kemudian justru mendapat promosi ke posisi strategis. Di sisi lain, ada pegawai yang bekerja sesuai aturan, memiliki kemampuan, dan menunjukkan loyalitas, tetapi kariernya seolah berjalan di tempat. Kalau pola seperti ini benar terjadi, pertanyaannya sederhana: apakah sistem penghargaan dan sanksi di Bank NTT sudah benar-benar berbasis kinerja dan integritas? BEBERAPA CONTOH YANG PATUT DIPERTANYAKAN 1. MJM: Dari dugaan Persoalan Hukum ke Jabatan Strategis. Sebelum menjabat sebagai Kepala Kantor Cabang Khusus, MJM diketahui pernah menduduki posisi Kepala Divisi Umum Bank NTT. Pertanyaannya, apakah selama berada di posisi tersebut tidak pernah ada persoalan atau temuan yang perlu menjadi perhatian internal? Nama MJM disebut dalam pemeriksaan Kejaksaan terkait dugaan kasus 70 invoice palsu dengan perkiraan kerugian negara sekitar Rp2,2 miliar. Jika benar yang bersangkutan telah diperiksa dan terdapat pengakuan atau proses penyelesaian sebagaimana diberitakan, tentu seluruh proses hukum harus tetap dihormati dan dikedepankan asas praduga tak bersalah. Namun, dari sisi tata kelola internal, publik tetap berhak bertanya: Mengapa persoalan tersebut tidak berujung pada sanksi atau evaluasi internal yang terbuka, sementara yang bersangkutan justru dipercaya menduduki jabatan strategis? Apakah mekanisme pengawasan internal Bank NTT memang berjalan sebagaimana mestinya? Atau jangan-jangan, standar pengawasan hanya berlaku bagi sebagian orang? 2. Kasus “Om Boy": Mengapa Tetap Stabil? Nama “Om Boy" atau “BN” juga pernah menjadi perhatian publik setelah kehidupan pribadinya menjadi sorotan akun Lika-Liku NTT dan kemudian berujung pada persoalan hukum. Yang menjadi pertanyaan bukan semata-mata soal kehidupan pribadi. Yang perlu dilihat adalah bagaimana institusi menerapkan prinsip tata kelola ketika seorang pejabat atau pegawai terseret dalam persoalan yang telah menjadi konsumsi publik dan berujung pada proses hukum. Jika memang tidak ditemukan pelanggaran internal, tentu tidak adil memberikan sanksi hanya berdasarkan tekanan publik. Namun sebaliknya, jika terdapat persoalan yang berkaitan dengan etika, profesionalitas, atau kepentingan institusi, mengapa tidak ada evaluasi yang transparan? Berganti direksi, tetapi posisi yang bersangkutan tetap stabil sebagai kepala cabang. Lagi-lagi publik bertanya: apa sebenarnya parameter Bank NTT dalam memberikan sanksi, mempertahankan jabatan, atau mempromosikan seseorang?🇮🇩👁️👁️👁️ #nttpride🏝🔥 #fyp #kritik #bankntt

TES KUPING
TES KUPING
Open In TikTok:
Region: ID
Saturday 29 August 2026 01:42:27 GMT
7931
102
3
30

Music

Download

Comments

c4icon9
c4icon9 :
lewat umur ju bisa jadi pegawe...yg penting ad org dlam. contohnya frengki sula.
2026-09-12 04:45:27
1
nabir544
user4844191882989 :
ini bank ntt apalagi kolega yg bupati dan pejabat daerah pasti anak anak atau kolega coba cek pegawainya😂😂
2026-09-17 06:40:35
0
ni.wayan.dua.dirg
Ni Wayan Dua Dirga :
mereka agen hantu...yg tak bisa jadi bisa
2026-08-29 20:53:07
0
To see more videos from user @tes.kuping, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos


About