Kopi Hitam :
Saqifah dan Muktamar NU ke 35 Jombang: Mencari Keteladanan Abu Bakar dalam Kepemimpinan Umat
Jombang — Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke 35 di Jombang hari ini kembali mengingatkan kita pada sebuah episode penting dalam sejarah umat Islam: Peristiwa Saqifah Bani Sa'idah.
Saqifah bukan sekadar catatan tentang pergantian kepemimpinan setelah wafatnya Rasulullah ﷺ. Ia merupakan gambaran bagaimana para sahabat menghadapi situasi yang penuh dinamika, perbedaan pandangan, dan kebutuhan mendesak untuk menentukan arah kepemimpinan umat.
Di tengah perbedaan tersebut, akhirnya lahir sosok Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, seorang pemimpin yang dikenal karena keteguhan iman, kejujuran, kesederhanaan, serta kemampuannya menjaga persatuan umat.
Muktamar NU di Jombang tentu memiliki konteks dan mekanisme yang berbeda dengan Saqifah. Namun, nilai yang dapat direnungkan memiliki titik temu: bagaimana sebuah organisasi besar memilih pemimpin yang mampu mengutamakan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi dan kelompok.
Semoga Muktamar NU kali ini melahirkan pemimpin yang memiliki keteladanan seperti Abu Bakar: amanah dalam memegang kepercayaan, berani dalam mengambil keputusan, rendah hati dalam memimpin, dan teguh menjaga persatuan umat.
Dan semoga para peserta muktamar dapat meneladani semangat para sahabat dalam Saqifah—bahwa setelah perbedaan pendapat selesai, persatuan umat harus menjadi tujuan yang lebih tinggi daripada kemenangan kelompok.
Karena pada akhirnya, kepemimpinan bukanlah tentang siapa yang paling kuat mendapatkan jabatan, tetapi siapa yang paling mampu memikul amanah dan menjaga umat tetap bersatu.
Semoga dari Jombang lahir pemimpin yang bukan hanya memenangkan muktamar, tetapi mampu memenangkan hati umat.
Wallahu a'lam bish-shawab.
2026-08-31 03:35:51