@klizzyyung: Which type of @OREO dunker are you? 🌟 The kiss 🌟 The sweet spot 🌟 The submarine I have to say these choco mint @오레오 OREO Korea are my favorite flavor to date to dunk! #oreo #cookie #cookies #dunk #sweet Not an ad, just love Oreos! 😉

Lizzy ❌
Lizzy ❌
Open In TikTok:
Region: US
Monday 31 August 2026 03:12:34 GMT
145
22
21
5

Music

Download

Comments

crumblord503
crumblord503 :
I love Oreos but the white part is so bad for u and I’ve heard some stories that makes me question if I want to eat them anymore which sucks they are so good
2026-08-31 05:23:11
1
vermont_comfort_food
Vermont Comfort Food :
😁 love to dunk
2026-09-01 00:14:29
0
kelskitchenph
Amiga Kel :
ohh yesss, love the dunk
2026-09-01 13:21:54
0
aperfectfeast
A Perfect Feast :
Chocolate mint sounds delicious
2026-08-31 19:35:33
1
afraid.strawberry
Trish ✨ :
I’m #2, but I’m ALWAYS tempted to go all the way in!
2026-08-31 19:28:02
1
suzette_lost_it
Suzette_lost_it :
Can you believe I’ve never dunked mine?? 🫣
2026-08-31 21:25:16
1
cyndazzle1
CynDazzle 💫 :
That looks soooo good!
2026-08-31 03:53:46
1
bonnsappetit
BonnsAppetit :
Love Oreos with milk
2026-08-31 18:58:17
1
seeing_art_in_life
seeing_art_in_life :
Mint chocolate is so good 🥰
2026-08-31 07:24:11
1
iamtireex
Trixie :
yum!
2026-08-31 04:33:53
1
To see more videos from user @klizzyyung, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

- Wilson Aditama (W) - Kaluna Maharani (K) --- Wilson Aditama, remaja asal Malang, jauh-jauh datang ke Jakarta setelah sekian lama tak bertemu kekasihnya, Kaluna Maharani. Sejak lama hubungan mereka dijalani dengan jarak; Malang–Jakarta bukanlah hal mudah. Wilson terlalu sering tersita waktunya—kerja serabutan, bantu bapaknya berkebun, juga merawat ibunya yang sakit. Sementara Kaluna di Jakarta terbiasa dengan kehidupan kota yang cepat, ramai, dan penuh perhatian. Hari itu, mereka bertemu di sebuah café kecil di Senopati. Wilson tersenyum lega ketika melihat Kaluna datang. “Lun… aku kangen banget karo kowe,” ucapnya lirih sambil menatap dalam. (Lun… aku kangen banget sama kamu.) Kaluna hanya menarik napas panjang. Ia duduk tanpa banyak kata, wajahnya berat. “Aku juga kangen, Wil. Tapi… aku nggak kuat lagi.” Wilson terdiam, senyumnya perlahan memudar. “Maksudmu opo, Lun?” (Maksudmu apa, Lun?) Kaluna menunduk, menggenggam cangkir kopinya erat. Suaranya bergetar, tapi tegas. “Aku mau putus, kita akhiri sampai sini aja hubungan kita. Aku capek, Wil. Kamu selalu sibuk sama dunia kamu sendiri. Aku ngerti kamu kerja keras, aku ngerti kamu harus ngurus keluarga. Tapi aku… aku butuh pasangan yang ada buat aku, yang punya waktu buat aku. Aku udah nggak bisa.” Seolah ada palu menghantam dadanya. Tapi Wilson tetap berusaha tegar. Ia tersenyum pahit, meski matanya berkaca-kaca. “Lun, aku nyatane pancen ora iso maringi wektu akeh kanggo kowe. Aku sibuk kerja, sibuk karo bapak ibuku. Nanging dudu mergo aku ora tresno karo kowe. Aku mung pengin nggawe kabeh apik, supaya kowe bisa luwih bahagia. Nanging nek kowe ngrasakke kuwi ora cukup… yo aku ikhlas.” (Lun, aku memang nggak bisa kasih banyak waktu buat kamu. Aku sibuk kerja, sibuk dengan bapak-ibuku. Tapi itu bukan karena aku nggak sayang kamu. Aku cuma pengin bikin semua baik, supaya kamu bisa lebih bahagia. Tapi kalau kamu merasa itu nggak cukup… ya aku rela.) Air mata Kaluna jatuh. “Maaf, Wil. Aku sayang kamu, tapi aku nggak bahagia lagi.” Wilson hanya menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. “Sing penting, kowe bahagia, Lun. Senajan ra bareng aku.” (Yang penting kamu bahagia, Lun. Meski bukan bersamaku.) Kaluna berdiri, meninggalkan Wilson sendirian di meja café. Wilson menatap punggung itu menjauh, lalu menunduk, menahan perih di dadanya. Malamnya, di kamar kos kecil tempat ia menginap, Wilson menulis di catatan ponselnya: “Kadang, wong sing paling kowe tresnani, yo sing paling nggawe kowe loro. Nanging tresna iki ora kudu nduwé. Cukup ndelok dheweke mesem, atiku wes legowo, senajan kudu loro dhewekan.” (Kadang, orang yang paling kamu cintai, justru yang paling bikin kamu sakit. Tapi cinta ini nggak harus memiliki. Cukup melihat dia tersenyum, hatiku sudah rela, meski harus menanggung sakit sendirian.)
- Wilson Aditama (W) - Kaluna Maharani (K) --- Wilson Aditama, remaja asal Malang, jauh-jauh datang ke Jakarta setelah sekian lama tak bertemu kekasihnya, Kaluna Maharani. Sejak lama hubungan mereka dijalani dengan jarak; Malang–Jakarta bukanlah hal mudah. Wilson terlalu sering tersita waktunya—kerja serabutan, bantu bapaknya berkebun, juga merawat ibunya yang sakit. Sementara Kaluna di Jakarta terbiasa dengan kehidupan kota yang cepat, ramai, dan penuh perhatian. Hari itu, mereka bertemu di sebuah café kecil di Senopati. Wilson tersenyum lega ketika melihat Kaluna datang. “Lun… aku kangen banget karo kowe,” ucapnya lirih sambil menatap dalam. (Lun… aku kangen banget sama kamu.) Kaluna hanya menarik napas panjang. Ia duduk tanpa banyak kata, wajahnya berat. “Aku juga kangen, Wil. Tapi… aku nggak kuat lagi.” Wilson terdiam, senyumnya perlahan memudar. “Maksudmu opo, Lun?” (Maksudmu apa, Lun?) Kaluna menunduk, menggenggam cangkir kopinya erat. Suaranya bergetar, tapi tegas. “Aku mau putus, kita akhiri sampai sini aja hubungan kita. Aku capek, Wil. Kamu selalu sibuk sama dunia kamu sendiri. Aku ngerti kamu kerja keras, aku ngerti kamu harus ngurus keluarga. Tapi aku… aku butuh pasangan yang ada buat aku, yang punya waktu buat aku. Aku udah nggak bisa.” Seolah ada palu menghantam dadanya. Tapi Wilson tetap berusaha tegar. Ia tersenyum pahit, meski matanya berkaca-kaca. “Lun, aku nyatane pancen ora iso maringi wektu akeh kanggo kowe. Aku sibuk kerja, sibuk karo bapak ibuku. Nanging dudu mergo aku ora tresno karo kowe. Aku mung pengin nggawe kabeh apik, supaya kowe bisa luwih bahagia. Nanging nek kowe ngrasakke kuwi ora cukup… yo aku ikhlas.” (Lun, aku memang nggak bisa kasih banyak waktu buat kamu. Aku sibuk kerja, sibuk dengan bapak-ibuku. Tapi itu bukan karena aku nggak sayang kamu. Aku cuma pengin bikin semua baik, supaya kamu bisa lebih bahagia. Tapi kalau kamu merasa itu nggak cukup… ya aku rela.) Air mata Kaluna jatuh. “Maaf, Wil. Aku sayang kamu, tapi aku nggak bahagia lagi.” Wilson hanya menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. “Sing penting, kowe bahagia, Lun. Senajan ra bareng aku.” (Yang penting kamu bahagia, Lun. Meski bukan bersamaku.) Kaluna berdiri, meninggalkan Wilson sendirian di meja café. Wilson menatap punggung itu menjauh, lalu menunduk, menahan perih di dadanya. Malamnya, di kamar kos kecil tempat ia menginap, Wilson menulis di catatan ponselnya: “Kadang, wong sing paling kowe tresnani, yo sing paling nggawe kowe loro. Nanging tresna iki ora kudu nduwé. Cukup ndelok dheweke mesem, atiku wes legowo, senajan kudu loro dhewekan.” (Kadang, orang yang paling kamu cintai, justru yang paling bikin kamu sakit. Tapi cinta ini nggak harus memiliki. Cukup melihat dia tersenyum, hatiku sudah rela, meski harus menanggung sakit sendirian.)

About