@gospelhouztv1: Wow Edward Akwasi Boateng powe ministration at wonder boy program @Wonder boy @STATE BLOGGER✪ @TOMMY_BLOGGER ✪

Gospel House TV
Gospel House TV
Open In TikTok:
Region: GH
Monday 31 August 2026 04:26:40 GMT
2159
323
1
1

Music

Download

Comments

agyei.sarpong.michael
AGYEI SARPONG MICHAEL :
Eeeiii sɔfo Miller I saw your Dancing move👏👏👏
2026-08-31 06:56:49
0
To see more videos from user @gospelhouztv1, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Kalimat ini sebenarnya sedang mengingatkan kita pada satu kenyataan sederhana yang sering sengaja dilupakan: kehidupan bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling menderita, melainkan panggilan untuk memahami pengorbanan satu sama lain. Dalam filsafat Islam, manusia tidak dinilai hanya dari apa yang tampak di tangannya, tetapi dari amanah yang dipikul jiwanya. Laki-laki mungkin lebih sering terlihat sebagai orang yang pergi pagi, pulang malam, mengejar nafkah, memikul kebutuhan keluarga, menelan lelah tanpa banyak bicara. Dunia sering melihat hasil pekerjaannya, tetapi jarang melihat kecemasan yang ia sembunyikan di balik kalimat,
Kalimat ini sebenarnya sedang mengingatkan kita pada satu kenyataan sederhana yang sering sengaja dilupakan: kehidupan bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling menderita, melainkan panggilan untuk memahami pengorbanan satu sama lain. Dalam filsafat Islam, manusia tidak dinilai hanya dari apa yang tampak di tangannya, tetapi dari amanah yang dipikul jiwanya. Laki-laki mungkin lebih sering terlihat sebagai orang yang pergi pagi, pulang malam, mengejar nafkah, memikul kebutuhan keluarga, menelan lelah tanpa banyak bicara. Dunia sering melihat hasil pekerjaannya, tetapi jarang melihat kecemasan yang ia sembunyikan di balik kalimat, "Aku baik-baik saja." Namun perempuan juga memiliki medan perjuangan yang tidak kalah berat. Ia bisa mengorbankan waktu, tenaga, kenyamanan, impian, bahkan sering kali dirinya sendiri demi menjaga keluarga tetap hidup dalam kehangatan. Pengorbanan perempuan kadang begitu sunyi hingga orang-orang menganggapnya sebagai sesuatu yang "memang sudah seharusnya". Lucunya, manusia sering sangat pandai menghitung uang yang keluar dari dompet, tetapi begitu bodoh menghitung air mata, kesabaran, waktu, dan tenaga yang keluar dari kehidupan seseorang. Di sinilah pemikiran Ibn Miskawayh menjadi relevan. Dalam Tahdzib al-Akhlaq, ia menjelaskan bahwa kesempurnaan manusia berkaitan dengan pembentukan akhlak dan keseimbangan jiwa. Kebaikan lahir dari kemampuan manusia menempatkan dirinya secara benar dalam hubungan dengan orang lain. Maka dalam keluarga, laki-laki bukan penguasa yang harus selalu dilayani, dan perempuan bukan pelayan yang wajib selalu mengalah. Keduanya adalah pemikul amanah. Laki-laki yang bekerja seumur hidup tetapi bersikap kasar, sesungguhnya belum memahami arti tanggung jawab. Perempuan yang berkorban seumur hidup tetapi menjadikan pengorbanannya senjata untuk merendahkan pasangan, juga belum memahami hakikat pengorbanan. Pengorbanan sejati tidak sibuk mengumumkan perjuangannya. Ia bekerja dalam diam karena tahu cinta bukan panggung untuk mendapatkan tepuk tangan. Islam mengajarkan ta'awun, saling menopang dalam kebaikan. Allah berfirman: "Dan orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain." (QS. At-Taubah: 71) Perhatikan baik-baik: penolong bagi sebagian yang lain. Keduanya harus belajar menjadi rumah bagi satu sama lain. Laki-laki mungkin membawa beban di pundaknya. Perempuan mungkin membawa beban di dadanya. Laki-laki bekerja agar keluarga bertahan hidup. Perempuan berkorban agar keluarga tetap memiliki alasan untuk disebut rumah. Jangan pernah meremehkan laki-laki yang diam ketika lelah, dan jangan meremehkan perempuan hanya karena pengorbanannya tidak tercatat di slip gaji. Tidak semua yang bernilai memiliki harga. Tidak semua yang berharga bisa dihitung. Yang salah adalah ketika seseorang hanya ingin dimengerti, tetapi tidak pernah belajar mengerti. Rumah tangga adalah tentang dua manusia yang sama-sama lelah, tetapi tetap memilih untuk tidak saling menambah luka. Cinta yang dewasa bukan bertanya, "Apa yang sudah kamu lakukan untukku?", melainkan berbisik, "Setelah semua yang kau pikul, apa yang bisa kubantu agar langkahmu sedikit lebih ringan?" Di situlah laki-laki menemukan kemuliaannya, dan perempuan menemukan kehormatannya. Bukan dalam siapa yang paling banyak berkorban, tetapi dalam siapa yang paling tulus menjaga amanah cinta. #LogikaJiwa #FilsafatHidup #LiterasiJiwa #ParentingIslamic #RenunganDiri

About