@joshi3196: se acaba agosto y comienza sonar... #septemberend #cancionesdegreenday #wakemeupwhenseptemberends🎶 #greendaysounds

Joshi3196
Joshi3196
Open In TikTok:
Region: EC
Monday 31 August 2026 19:51:10 GMT
5838
203
2
79

Music

Download

Comments

giovanniosorio1920
Kurt 1901 :
Green Day temazo 💕
2026-09-01 05:00:45
0
To see more videos from user @joshi3196, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV: Dua hari berturut-turut gawai milikmu tidak berhenti bergetar. Rekan sejawat residen tahun ketiga berbondong mencari keberadaanmu. Informasi terakhir kamu pergi dari depan ruang operasi tanpa meninggalkan rumah sakit. Tidak ada yang tahu kebiasaanmu berada. Sejak mengemban tugas sebagai koas sampai residen detik ini, sebuah area kecil yang hampir tidak pernah menjadi perhatian publik menjadi tempatmu menenangkan diri.  Dalam bilik janitor, lantai yang dingin menjadi alas dudukmu. Pandanganmu kosong, jemarimu bergerak gelisah memilin ujung kaos seraya bersandar penuh keresahan. Pikiranmu enggan berhenti menyalahkan diri sendiri atas tindakan yang kamu sesali. Andai saja waktu itu kamu tidak terlalu lama melakukan resusitasi mungkin kakakmu, Nadira, tidak akan mengalami koma panjang sekarang. Kepercayaan dirimu hilang. Rasa cemas berintensitas tinggi di lingkungan rumah sakit membuatmu takut menunjukkan batang hidung. Kamu khawatir akan cecar orang-orang dan ciut tuk sekadar menghadapi mereka.  Bagaimana tanggapan khalayak tentang dokter yang gagal mendiagnosis sekaligus menyelamatkan nyawa pasiennya? Tentu saja penuh cemoohan. Lantaran sibuk berperang batin, kamu tidak sadar bahwa pintu ruangan terbuka. Kala cahaya dari luar menembus masuk di kegelapan, tubuhmu tersentak pelan. Jantungmu berdetak cepat ketika suara sosok paling kamu takuti di rumah sakit terdengar jelas. “(Y/N),” sapa seorang pria dewasa dengan suara tegasnya. Ia tahu kamu duduk meringkuk di balik rak alat kebersihan.  Kamu tidak langsung menjawab. Rasa cemas semakin naik intensitasnya mendengar derap langkah pria mendekat. Kepalamu tak sedikit pun menoleh ketika ia berdiri tepat di sampingmu. “Kenapa di sini? Saya mencarimu ke mana-mana,” lirihnya duduk berjongkok. Satu kakinya menekuk ke belakang agar ia bisa melihatmu jelas, meski kamu memalingkan wajah menyembunyikan mata sembab. “M-Maaf, Dokter,” balasmu tidak tahu harus berkata apa. Tarikan napas panjang terdengar sesaat. Namun helaan lega terbesit tenang mengetahui kamu aman di depan matanya. Tanpa banyak bicara, ia menarikmu lembut masuk ke dalam dekapan. Mulanya kamu terkejut, tetapi tak butuh waktu lama air matamu keluar deras. Sapuan lembut telapak tangannya seperti melindungimu dari tumpukan rasa takut. Tanganmu meremas kuat pakaiannya di bagian pinggang.  “Habis ini saya antar pulang,” katanya tenang yang kamu balas dengan gelengan kepala. “Jangan, Dokter… saya takut…” “Pulang ke rumah saya, (Y/N). Nggak apa-apa,” teduhnya semakin membuat tanganmu meremas kuat pakaiannya. Di saat kedua orang tuamu seperti kebanyakan orang yang menyalahkan, sampai mereka ingin kamu meninggalkan negara guna menetap di Amerika, pria ini berbeda. Dokter Jay. Sosok yang selama ini kamu takuti akan ketegasannya sebagai kepala bedah saraf tampaknya tahu bagaimana merangkulmu. Ia mulai membantumu berdiri dan menyampirkan jaketnya ke tubuh. Rasanya hangat seolah Jay terus memeluk.  Dini hari seperti ini tidak banyak dokter yang berjaga. Jay sengaja membawamu keluar dari rumah sakit tanpa mengundang banyak perhatian. Ia tidak peduli batasan seorang residen dengan spesialis sepertinya. Hati Jay tergerak membawamu kembali menemukan ketenangan darinya. “Saya siapkan air hangat dulu. Setelah mandi, langsung makan. Saya tunggu di lantai bawah.” “Dokter,” sahutmu menahan lengannya. Jay tadinya hendak meluncur ke kamar mandi berhenti sejenak. Ia membalikkan badan ke arahmu yang menatapnya ragu. “Jangan panggil begitu. Kita di luar rumah sakit. Seperti biasanya saja, (Y/N),” balasnya mengingatkan. Jika seperti biasanya berarti, “Om Jay…” “Ya?” “Habis ini tolong antar aku pulang,” pintamu tak diduga.  Jay ingat betul sebelumnya kamu takut pulang. “Kenapa-“ “Lebih baik aku keluar negeri saja, Om. Aku gagal jadi dokter,” ucapmu merendahkan suara di akhir kalimat. Kata gagal itu sangat dibenci Jay. Alisnya bertaut geram dengan rahang mengeras.  “Batalkan rencanamu. Calon istri saya tidak pernah gagal, (Y/N).” Kamu tertegun. (+(1-3)) #jay #enhypenedit
POV: Dua hari berturut-turut gawai milikmu tidak berhenti bergetar. Rekan sejawat residen tahun ketiga berbondong mencari keberadaanmu. Informasi terakhir kamu pergi dari depan ruang operasi tanpa meninggalkan rumah sakit. Tidak ada yang tahu kebiasaanmu berada. Sejak mengemban tugas sebagai koas sampai residen detik ini, sebuah area kecil yang hampir tidak pernah menjadi perhatian publik menjadi tempatmu menenangkan diri. Dalam bilik janitor, lantai yang dingin menjadi alas dudukmu. Pandanganmu kosong, jemarimu bergerak gelisah memilin ujung kaos seraya bersandar penuh keresahan. Pikiranmu enggan berhenti menyalahkan diri sendiri atas tindakan yang kamu sesali. Andai saja waktu itu kamu tidak terlalu lama melakukan resusitasi mungkin kakakmu, Nadira, tidak akan mengalami koma panjang sekarang. Kepercayaan dirimu hilang. Rasa cemas berintensitas tinggi di lingkungan rumah sakit membuatmu takut menunjukkan batang hidung. Kamu khawatir akan cecar orang-orang dan ciut tuk sekadar menghadapi mereka. Bagaimana tanggapan khalayak tentang dokter yang gagal mendiagnosis sekaligus menyelamatkan nyawa pasiennya? Tentu saja penuh cemoohan. Lantaran sibuk berperang batin, kamu tidak sadar bahwa pintu ruangan terbuka. Kala cahaya dari luar menembus masuk di kegelapan, tubuhmu tersentak pelan. Jantungmu berdetak cepat ketika suara sosok paling kamu takuti di rumah sakit terdengar jelas. “(Y/N),” sapa seorang pria dewasa dengan suara tegasnya. Ia tahu kamu duduk meringkuk di balik rak alat kebersihan. Kamu tidak langsung menjawab. Rasa cemas semakin naik intensitasnya mendengar derap langkah pria mendekat. Kepalamu tak sedikit pun menoleh ketika ia berdiri tepat di sampingmu. “Kenapa di sini? Saya mencarimu ke mana-mana,” lirihnya duduk berjongkok. Satu kakinya menekuk ke belakang agar ia bisa melihatmu jelas, meski kamu memalingkan wajah menyembunyikan mata sembab. “M-Maaf, Dokter,” balasmu tidak tahu harus berkata apa. Tarikan napas panjang terdengar sesaat. Namun helaan lega terbesit tenang mengetahui kamu aman di depan matanya. Tanpa banyak bicara, ia menarikmu lembut masuk ke dalam dekapan. Mulanya kamu terkejut, tetapi tak butuh waktu lama air matamu keluar deras. Sapuan lembut telapak tangannya seperti melindungimu dari tumpukan rasa takut. Tanganmu meremas kuat pakaiannya di bagian pinggang. “Habis ini saya antar pulang,” katanya tenang yang kamu balas dengan gelengan kepala. “Jangan, Dokter… saya takut…” “Pulang ke rumah saya, (Y/N). Nggak apa-apa,” teduhnya semakin membuat tanganmu meremas kuat pakaiannya. Di saat kedua orang tuamu seperti kebanyakan orang yang menyalahkan, sampai mereka ingin kamu meninggalkan negara guna menetap di Amerika, pria ini berbeda. Dokter Jay. Sosok yang selama ini kamu takuti akan ketegasannya sebagai kepala bedah saraf tampaknya tahu bagaimana merangkulmu. Ia mulai membantumu berdiri dan menyampirkan jaketnya ke tubuh. Rasanya hangat seolah Jay terus memeluk. Dini hari seperti ini tidak banyak dokter yang berjaga. Jay sengaja membawamu keluar dari rumah sakit tanpa mengundang banyak perhatian. Ia tidak peduli batasan seorang residen dengan spesialis sepertinya. Hati Jay tergerak membawamu kembali menemukan ketenangan darinya. “Saya siapkan air hangat dulu. Setelah mandi, langsung makan. Saya tunggu di lantai bawah.” “Dokter,” sahutmu menahan lengannya. Jay tadinya hendak meluncur ke kamar mandi berhenti sejenak. Ia membalikkan badan ke arahmu yang menatapnya ragu. “Jangan panggil begitu. Kita di luar rumah sakit. Seperti biasanya saja, (Y/N),” balasnya mengingatkan. Jika seperti biasanya berarti, “Om Jay…” “Ya?” “Habis ini tolong antar aku pulang,” pintamu tak diduga. Jay ingat betul sebelumnya kamu takut pulang. “Kenapa-“ “Lebih baik aku keluar negeri saja, Om. Aku gagal jadi dokter,” ucapmu merendahkan suara di akhir kalimat. Kata gagal itu sangat dibenci Jay. Alisnya bertaut geram dengan rahang mengeras. “Batalkan rencanamu. Calon istri saya tidak pernah gagal, (Y/N).” Kamu tertegun. (+(1-3)) #jay #enhypenedit

About