@milka.milsovna:

Milka Milsovna
Milka Milsovna
Open In TikTok:
Region: PT
Monday 31 August 2026 23:10:47 GMT
549
49
3
1

Music

Download

Comments

gilbert.nisbet.67
Gilbert Nisbet [email protected] :
ĥ
2026-08-31 23:52:38
4
edsonalbano466
Edson Albano zito :
maravilhosa
2026-09-01 18:17:12
2
jos.itanare91
José Itanare :
💖💖💖
2026-08-31 23:38:16
4
To see more videos from user @milka.milsovna, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Makna tersebut ada bagian yang sesuai dengan ajaran Islam, tetapi ada juga bagian yang perlu diluruskan agar tidak dipahami secara berlebihan. 1. Ridha suami memang memiliki kedudukan penting Dalam Islam, seorang istri diperintahkan untuk menaati suaminya dalam perkara yang ma'ruf (baik dan tidak bertentangan dengan syariat). Rasulullah ﷺ juga bersabda bahwa wanita yang meninggal dalam keadaan suaminya ridha kepadanya mendapatkan kabar gembira masuk surga. Hadis ini diriwayatkan oleh Tirmidzi.  Jadi, tulisan “istri hendaknya berbakti dan taat kepada suaminya” memiliki dasar dalam Islam. Namun, ketaatan itu bukan ketaatan mutlak. Jika suami memerintahkan kemaksiatan, kezhaliman, atau sesuatu yang bertentangan dengan syariat, maka tidak boleh ditaati. 2. “Semua dosa istri langsung diampuni karena ridha suami” perlu diluruskan Kalimat dalam gambar: “Saat istri mendapat ridho dari suami, maka semua dosa-dosa istri langsung dimaafkan oleh Allah SWT.” Tidak tepat jika dipahami secara mutlak. Ridha suami bukan berarti seluruh dosa seorang istri otomatis terhapus. Ampunan dosa pada hakikatnya adalah hak Allah dan berkaitan dengan taubat, iman, amal saleh, serta rahmat Allah. Hadis tentang wanita yang meninggal dalam keadaan suaminya ridha menunjukkan besarnya keutamaan menjaga hak suami, bukan berarti seseorang boleh melakukan dosa kemudian menganggap semuanya otomatis terampuni karena suaminya ridha. 3. Suami juga mempunyai kewajiban besar Islam tidak hanya berbicara tentang kewajiban istri kepada suami. Suami juga diperintahkan memperlakukan istrinya dengan baik. Allah berfirman dalam QS. An-Nisa' ayat 19: “Dan bergaullah dengan mereka secara patut.”  Karena itu, suami tidak boleh menjadikan “istri harus taat” sebagai alasan untuk berlaku kasar, merendahkan, menzalimi, atau mengambil hak istrinya. Justru rumah tangga dalam Islam dibangun dengan kasih sayang, tanggung jawab, penghormatan, dan saling menunaikan hak. 4. Makna “suami adalah jalan menuju surga” bukan berarti suami memiliki kekuasaan tanpa batas Yang lebih tepat adalah: ketaatan seorang istri kepada suami dalam perkara yang ma'ruf merupakan salah satu sebab datangnya pahala dan keridaan Allah. Demikian pula, seorang suami yang menunaikan kewajibannya kepada istri, menyayanginya, memberi nafkah, melindunginya, dan memperlakukannya dengan baik juga sedang menjalankan perintah Allah. Jadi hubungan suami-istri bukan: “Suami berkuasa, istri harus tunduk.” Melainkan: “Suami mempunyai amanah dan hak, istri mempunyai amanah dan hak, dan keduanya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.” 5. Tentang hadis “hak suami paling besar” Hadis yang sering dikutip dalam tema ini memang menunjukkan besarnya hak suami atas istrinya. Salah satu riwayat Tirmidzi bahkan menggambarkan besarnya hak tersebut dengan perumpamaan yang sangat kuat.  Tetapi hadis tersebut tidak boleh dipakai untuk menghapus hak-hak istri atau membenarkan kezaliman suami. Al-Qur'an sendiri memerintahkan suami untuk memperlakukan istrinya dengan cara yang baik.  Kesimpulannya Pesan positif  tersebut adalah: Seorang istri hendaknya menghormati, berbakti, dan menaati suaminya dalam perkara yang ma'ruf. Menjaga keridaan suami merupakan perkara yang besar pahalanya. Tetapi keridaan suami bukanlah penghapus otomatis seluruh dosa, dan ketaatan kepada suami tidak berlaku dalam kemaksiatan. Di sisi lain, suami juga wajib menyayangi, menghormati, melindungi, menafkahi, dan memperlakukan istrinya dengan baik. Dengan demikian, **tujuan pernikahan menurut Islam bukan sekadar agar istri mendapatkan ridha suami, tetapi agar suami dan istri sama-sama mendapatkan ridha Allah melalui pelaksanaan hak dan kewajiban masing-masing.**
Makna tersebut ada bagian yang sesuai dengan ajaran Islam, tetapi ada juga bagian yang perlu diluruskan agar tidak dipahami secara berlebihan. 1. Ridha suami memang memiliki kedudukan penting Dalam Islam, seorang istri diperintahkan untuk menaati suaminya dalam perkara yang ma'ruf (baik dan tidak bertentangan dengan syariat). Rasulullah ﷺ juga bersabda bahwa wanita yang meninggal dalam keadaan suaminya ridha kepadanya mendapatkan kabar gembira masuk surga. Hadis ini diriwayatkan oleh Tirmidzi. Jadi, tulisan “istri hendaknya berbakti dan taat kepada suaminya” memiliki dasar dalam Islam. Namun, ketaatan itu bukan ketaatan mutlak. Jika suami memerintahkan kemaksiatan, kezhaliman, atau sesuatu yang bertentangan dengan syariat, maka tidak boleh ditaati. 2. “Semua dosa istri langsung diampuni karena ridha suami” perlu diluruskan Kalimat dalam gambar: “Saat istri mendapat ridho dari suami, maka semua dosa-dosa istri langsung dimaafkan oleh Allah SWT.” Tidak tepat jika dipahami secara mutlak. Ridha suami bukan berarti seluruh dosa seorang istri otomatis terhapus. Ampunan dosa pada hakikatnya adalah hak Allah dan berkaitan dengan taubat, iman, amal saleh, serta rahmat Allah. Hadis tentang wanita yang meninggal dalam keadaan suaminya ridha menunjukkan besarnya keutamaan menjaga hak suami, bukan berarti seseorang boleh melakukan dosa kemudian menganggap semuanya otomatis terampuni karena suaminya ridha. 3. Suami juga mempunyai kewajiban besar Islam tidak hanya berbicara tentang kewajiban istri kepada suami. Suami juga diperintahkan memperlakukan istrinya dengan baik. Allah berfirman dalam QS. An-Nisa' ayat 19: “Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” Karena itu, suami tidak boleh menjadikan “istri harus taat” sebagai alasan untuk berlaku kasar, merendahkan, menzalimi, atau mengambil hak istrinya. Justru rumah tangga dalam Islam dibangun dengan kasih sayang, tanggung jawab, penghormatan, dan saling menunaikan hak. 4. Makna “suami adalah jalan menuju surga” bukan berarti suami memiliki kekuasaan tanpa batas Yang lebih tepat adalah: ketaatan seorang istri kepada suami dalam perkara yang ma'ruf merupakan salah satu sebab datangnya pahala dan keridaan Allah. Demikian pula, seorang suami yang menunaikan kewajibannya kepada istri, menyayanginya, memberi nafkah, melindunginya, dan memperlakukannya dengan baik juga sedang menjalankan perintah Allah. Jadi hubungan suami-istri bukan: “Suami berkuasa, istri harus tunduk.” Melainkan: “Suami mempunyai amanah dan hak, istri mempunyai amanah dan hak, dan keduanya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.” 5. Tentang hadis “hak suami paling besar” Hadis yang sering dikutip dalam tema ini memang menunjukkan besarnya hak suami atas istrinya. Salah satu riwayat Tirmidzi bahkan menggambarkan besarnya hak tersebut dengan perumpamaan yang sangat kuat. Tetapi hadis tersebut tidak boleh dipakai untuk menghapus hak-hak istri atau membenarkan kezaliman suami. Al-Qur'an sendiri memerintahkan suami untuk memperlakukan istrinya dengan cara yang baik. Kesimpulannya Pesan positif tersebut adalah: Seorang istri hendaknya menghormati, berbakti, dan menaati suaminya dalam perkara yang ma'ruf. Menjaga keridaan suami merupakan perkara yang besar pahalanya. Tetapi keridaan suami bukanlah penghapus otomatis seluruh dosa, dan ketaatan kepada suami tidak berlaku dalam kemaksiatan. Di sisi lain, suami juga wajib menyayangi, menghormati, melindungi, menafkahi, dan memperlakukan istrinya dengan baik. Dengan demikian, **tujuan pernikahan menurut Islam bukan sekadar agar istri mendapatkan ridha suami, tetapi agar suami dan istri sama-sama mendapatkan ridha Allah melalui pelaksanaan hak dan kewajiban masing-masing.**

About