@aquaagurll1: 4 jurnalis ini membongkar kasus kejahatan di indonesia @SINEMAKU PICTURES #MemburuPemangsa #FilmMemburuPemangsa #prillylatuconsina #umay #laurabasuki

aquaagurll1
aquaagurll1
Open In TikTok:
Region: ID
Tuesday 01 September 2026 12:50:36 GMT
8011
65
1
4

Music

Download

Comments

nrbyngsh
555haha :
😌😌😌
2026-09-01 12:54:56
0
To see more videos from user @aquaagurll1, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Aceh, tahun 1898. Di antara kabut dan bau mesiu, pasukan rakyat Aceh bersembunyi di semak-semak. Mereka menunggu aba-aba serangan ke pos Belanda di Lhoksukon. Tapi malam itu, langkah-langkah sepatu terdengar dari arah berlawanan.bKetika wajah mereka tampak di cahaya obor, bukan kulit putih yang muncul. Wajah-wajah itu hitam manis, ikal berambut, bertubuh sama seperti rakyat di kampung sebelah. Namun mereka datang dengan senapan, bukan rencong. Mereka datang atas nama Ratu Belanda, bukan atas nama tanah air. Malam itu, saudara menembak saudara, dan darah Nusantara kembali tumpah ke tanah sendiri. Merekalah yang disebut LONDO IRENG pribumi berseragam kolonial yang menjadi alat kekuasaan Belanda. Asal Usul Nama dan Awal Keberadaan Kata Londo Ireng berasal dari bahasa Jawa yaitu Londo berarti Belanda, Ireng berarti hitam. Istilah ini pertama kali digunakan untuk menyebut “Zwarte Hollanders”, serdadu kulit hitam dari Afrika Barat (kini Ghana) yang didatangkan Belanda sejak tahun 1830-an untuk memperkuat pasukan kolonial di Hindia Belanda. Namun seiring berjalannya waktu, istilah ini bergeser maknanya. Ketika tentara-tentara pribumi mulai direkrut besar-besaran, masyarakat Jawa mulai menyebut mereka juga sebagai Londo Ireng bukan karena warna kulit, tapi karena jiwa mereka sudah menjadi seperti Belanda, meskipun tubuhnya pribumi. Kebijakan Kolonial: Penciptaan Tentara Pribumi Setelah Perang Diponegoro (1825–1830), Belanda belajar satu hal penting, mereka tidak mungkin menguasai bahasa Hindia hanya dengan orang Eropa. Maka dibentuklah KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger), tentara kerajaan Hindia Belanda, yang sebagian besar anggotanya adalah pribumi. Belanda hanya menjadi perwira, komandan, dan pengatur strategi. Tugas kejam dari patroli di hutan, penyerangan kampung, hingga eksekusi pejuang dilakukan oleh orang Nusantara sendiri. Inilah strategi kolonial yang paling licik: menaklukkan bangsa dengan tangan bangsanya sendiri. Anak Negeri di Balik Senapan Kolonial Pada masa puncaknya, sekitar tahun 1900-an, data resmi KNIL menunjukkan: 39% tentara berasal dari Jawa, 15% dari Manado, 12% dari Ambon, sisanya dari Bugis, Bali, Timor, dan Minahasa. Jumlah serdadu pribumi mencapai lebih dari 80% total pasukan Belanda. Tanpa mereka, kekuasaan kolonial tidak akan bertahan lama di kepulauan yang luas ini. Namun bagi rakyat di medan perang, wajah dan warna kulit para penindas kini tidak lagi asing. Musuh tak lagi datang dari negeri jauh tapi dari kampung sebelah. Perang Aceh: Tragedi Saudara Sebangsa Perang Aceh (1873–1914) menjadi salah satu episode paling berdarah. Belanda menurunkan ribuan pasukan Marsose, satuan pemburu elit gerilyawan Aceh. Sebagian besar anggota pasukan ini justru pribumi yang direkrut dari Jawa, Ambon, dan Manado. Tugas mereka adalah menumpas, membakar, menghancurkan perlawanan rakyat Aceh. Catatan kolonial menunjukkan ribuan rakyat dibantai di daerah seperti Kutaraja, Sigli, dan Pidie. Perempuan dan anak-anak ikut menjadi korban. Foto yang diambil tahun 1897 di Sigli menampilkan sekelompok pasukan Marsose di atas mayat rakyat Aceh. Sebagian besar dari mereka tampak lokal, tapi berseragam kolonial tersenyum beku di bawah topi baja penjajahan.  Sebuah potret tentang betapa jauhnya bangsa ini pernah terpecah oleh sistem penjajahan. Mengapa Mereka Bergabung? Alasan mereka beragam, tapi menyakitkan untuk didengar. 1. Kemiskinan dan kelaparan. Setelah sistem tanam paksa (cultuurstelsel) diberlakukan, banyak rakyat kehilangan tanah. Bergabung dengan KNIL menjadi satu-satunya cara untuk makan dan hidup. 2. Janji upah dan fasilitas. Gaji KNIL bisa 8–10 kali lipat dari petani biasa. Diberi rumah barak, seragam, bahkan sabun dan rokok barang mewah kala itu. 3. Paksaan dan ancaman. Banyak pula yang direkrut secara paksa, atau diancam hukuman bila menolak. Namun berapa pun insentifnya, kenyataannya tetap satu, mereka menembak bangsanya sendiri. Dan di titik itulah, mereka bukan lagi korban, mereka telah menjadi bagian dari sistem penjajahan.
Aceh, tahun 1898. Di antara kabut dan bau mesiu, pasukan rakyat Aceh bersembunyi di semak-semak. Mereka menunggu aba-aba serangan ke pos Belanda di Lhoksukon. Tapi malam itu, langkah-langkah sepatu terdengar dari arah berlawanan.bKetika wajah mereka tampak di cahaya obor, bukan kulit putih yang muncul. Wajah-wajah itu hitam manis, ikal berambut, bertubuh sama seperti rakyat di kampung sebelah. Namun mereka datang dengan senapan, bukan rencong. Mereka datang atas nama Ratu Belanda, bukan atas nama tanah air. Malam itu, saudara menembak saudara, dan darah Nusantara kembali tumpah ke tanah sendiri. Merekalah yang disebut LONDO IRENG pribumi berseragam kolonial yang menjadi alat kekuasaan Belanda. Asal Usul Nama dan Awal Keberadaan Kata Londo Ireng berasal dari bahasa Jawa yaitu Londo berarti Belanda, Ireng berarti hitam. Istilah ini pertama kali digunakan untuk menyebut “Zwarte Hollanders”, serdadu kulit hitam dari Afrika Barat (kini Ghana) yang didatangkan Belanda sejak tahun 1830-an untuk memperkuat pasukan kolonial di Hindia Belanda. Namun seiring berjalannya waktu, istilah ini bergeser maknanya. Ketika tentara-tentara pribumi mulai direkrut besar-besaran, masyarakat Jawa mulai menyebut mereka juga sebagai Londo Ireng bukan karena warna kulit, tapi karena jiwa mereka sudah menjadi seperti Belanda, meskipun tubuhnya pribumi. Kebijakan Kolonial: Penciptaan Tentara Pribumi Setelah Perang Diponegoro (1825–1830), Belanda belajar satu hal penting, mereka tidak mungkin menguasai bahasa Hindia hanya dengan orang Eropa. Maka dibentuklah KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger), tentara kerajaan Hindia Belanda, yang sebagian besar anggotanya adalah pribumi. Belanda hanya menjadi perwira, komandan, dan pengatur strategi. Tugas kejam dari patroli di hutan, penyerangan kampung, hingga eksekusi pejuang dilakukan oleh orang Nusantara sendiri. Inilah strategi kolonial yang paling licik: menaklukkan bangsa dengan tangan bangsanya sendiri. Anak Negeri di Balik Senapan Kolonial Pada masa puncaknya, sekitar tahun 1900-an, data resmi KNIL menunjukkan: 39% tentara berasal dari Jawa, 15% dari Manado, 12% dari Ambon, sisanya dari Bugis, Bali, Timor, dan Minahasa. Jumlah serdadu pribumi mencapai lebih dari 80% total pasukan Belanda. Tanpa mereka, kekuasaan kolonial tidak akan bertahan lama di kepulauan yang luas ini. Namun bagi rakyat di medan perang, wajah dan warna kulit para penindas kini tidak lagi asing. Musuh tak lagi datang dari negeri jauh tapi dari kampung sebelah. Perang Aceh: Tragedi Saudara Sebangsa Perang Aceh (1873–1914) menjadi salah satu episode paling berdarah. Belanda menurunkan ribuan pasukan Marsose, satuan pemburu elit gerilyawan Aceh. Sebagian besar anggota pasukan ini justru pribumi yang direkrut dari Jawa, Ambon, dan Manado. Tugas mereka adalah menumpas, membakar, menghancurkan perlawanan rakyat Aceh. Catatan kolonial menunjukkan ribuan rakyat dibantai di daerah seperti Kutaraja, Sigli, dan Pidie. Perempuan dan anak-anak ikut menjadi korban. Foto yang diambil tahun 1897 di Sigli menampilkan sekelompok pasukan Marsose di atas mayat rakyat Aceh. Sebagian besar dari mereka tampak lokal, tapi berseragam kolonial tersenyum beku di bawah topi baja penjajahan. Sebuah potret tentang betapa jauhnya bangsa ini pernah terpecah oleh sistem penjajahan. Mengapa Mereka Bergabung? Alasan mereka beragam, tapi menyakitkan untuk didengar. 1. Kemiskinan dan kelaparan. Setelah sistem tanam paksa (cultuurstelsel) diberlakukan, banyak rakyat kehilangan tanah. Bergabung dengan KNIL menjadi satu-satunya cara untuk makan dan hidup. 2. Janji upah dan fasilitas. Gaji KNIL bisa 8–10 kali lipat dari petani biasa. Diberi rumah barak, seragam, bahkan sabun dan rokok barang mewah kala itu. 3. Paksaan dan ancaman. Banyak pula yang direkrut secara paksa, atau diancam hukuman bila menolak. Namun berapa pun insentifnya, kenyataannya tetap satu, mereka menembak bangsanya sendiri. Dan di titik itulah, mereka bukan lagi korban, mereka telah menjadi bagian dari sistem penjajahan.

About