@tiemcuameuyen: Bộ sạc siêu nhanh dùng cho tất cả các thiết bị điện thoại chống nóng máy siêu bền #xuhuong #thinhhanh #viral

Mẹ Táo Review
Mẹ Táo Review
Open In TikTok:
Region: VN
Thursday 03 September 2026 09:40:39 GMT
88
0
0
1

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @tiemcuameuyen, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Langit Uhud siang itu dipenuhi debu. Jerit kesakitan, denting pedang, dan pekikan perang bercampur menjadi satu. Gunung yang menjadi saksi perjuangan itu seolah ikut berduka menyaksikan apa yang terjadi. Awalnya, kaum Muslim hampir meraih kemenangan. Namun, sebagian pasukan pemanah meninggalkan bukit karena mengira peperangan telah usai.  Mereka tergoda oleh harta rampasan perang, padahal Rasulullah ﷺ telah berpesan agar tidak meninggalkan posisi apa pun yang terjadi. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh pasukan Quraisy. Mereka menyerang dari belakang. Dalam sekejap, keadaan berubah. Barisan kaum Muslim tercerai-berai. Banyak sahabat gugur. Di antara mereka ada singa Allah, Hamzah bin Abdul Muthalib radhiyallahu 'anhu. Dan di tengah kekacauan itu... Musuh berhasil mendekati manusia paling mulia di muka bumi. Batu menghantam wajah Rasulullah. Gigi geraham Rasulullah ﷺ patah. Bibirnya robek. Dahi yang selalu sujud kepada Allah mengucurkan darah. Bayangkan... Wajah yang paling dicintai langit kini berlumuran darah. Para sahabat menangis sambil mati-matian melindungi beliau. Mereka rela menjadi tameng hidup agar satu anak panah pun tak lagi mengenai Rasulullah ﷺ. Namun ada satu pemandangan yang membuat mereka terdiam. Rasulullah ﷺ tidak membiarkan darah itu jatuh begitu saja. Dengan kedua tangan beliau yang mulia, tetesan darah itu ditadah sedikit demi sedikit, lalu diusapkan ke dada beliau agar tidak menyentuh tanah. Di tengah rasa sakit... Di tengah luka... Di tengah ancaman kematian... Yang Rasulullah pikirkan justru bukan dirinya. Usai peperangan, para sahabat bertanya dengan penuh keheranan.
Langit Uhud siang itu dipenuhi debu. Jerit kesakitan, denting pedang, dan pekikan perang bercampur menjadi satu. Gunung yang menjadi saksi perjuangan itu seolah ikut berduka menyaksikan apa yang terjadi. Awalnya, kaum Muslim hampir meraih kemenangan. Namun, sebagian pasukan pemanah meninggalkan bukit karena mengira peperangan telah usai. Mereka tergoda oleh harta rampasan perang, padahal Rasulullah ﷺ telah berpesan agar tidak meninggalkan posisi apa pun yang terjadi. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh pasukan Quraisy. Mereka menyerang dari belakang. Dalam sekejap, keadaan berubah. Barisan kaum Muslim tercerai-berai. Banyak sahabat gugur. Di antara mereka ada singa Allah, Hamzah bin Abdul Muthalib radhiyallahu 'anhu. Dan di tengah kekacauan itu... Musuh berhasil mendekati manusia paling mulia di muka bumi. Batu menghantam wajah Rasulullah. Gigi geraham Rasulullah ﷺ patah. Bibirnya robek. Dahi yang selalu sujud kepada Allah mengucurkan darah. Bayangkan... Wajah yang paling dicintai langit kini berlumuran darah. Para sahabat menangis sambil mati-matian melindungi beliau. Mereka rela menjadi tameng hidup agar satu anak panah pun tak lagi mengenai Rasulullah ﷺ. Namun ada satu pemandangan yang membuat mereka terdiam. Rasulullah ﷺ tidak membiarkan darah itu jatuh begitu saja. Dengan kedua tangan beliau yang mulia, tetesan darah itu ditadah sedikit demi sedikit, lalu diusapkan ke dada beliau agar tidak menyentuh tanah. Di tengah rasa sakit... Di tengah luka... Di tengah ancaman kematian... Yang Rasulullah pikirkan justru bukan dirinya. Usai peperangan, para sahabat bertanya dengan penuh keheranan. "Wahai Rasulullah, mengapa engkau menahan darahmu agar tidak jatuh ke bumi?" Dengan suara yang lembut, beliau menjawab bahwa beliau mendengar sesuatu yang tidak mereka dengar. Seandainya setetes darah beliau menyentuh bumi, Allah dapat menurunkan azab kepada kaum yang telah melukai Rasul-Nya. Betapa mudahnya saat itu bila beliau ingin membalas. Betapa pantasnya jika beliau berdoa agar musuh-musuhnya dibinasakan. Namun, lisan yang mulia itu justru bergetar mengucapkan doa yang membuat hati siapa pun hancur. "Ya Allah... berilah mereka petunjuk, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui." Bukan kutukan. Bukan dendam. Bukan kebencian. Yang keluar dari hati Rasulullah ﷺ hanyalah kasih sayang. Ia lebih memilih memohon hidayah bagi orang-orang yang baru saja membuat wajahnya berdarah. Begitulah akhlak manusia terbaik. Semakin disakiti, semakin luas kasih sayangnya. Semakin dilukai, semakin besar doanya untuk orang lain. Lalu bagaimana dengan kita? Baru dihina sedikit, hati dipenuhi dendam. Baru disakiti sekali, mulut sibuk mendoakan keburukan. Padahal Rasulullah ﷺ yang wajahnya berlumuran darah saja masih mendoakan kebaikan bagi orang yang melukainya. Ya Allah... Betapa jauhnya akhlak kami dari akhlak kekasih-Mu. Semoga Allah menghiasi hati kita dengan kelembutan yang pernah memenuhi hati Rasulullah ﷺ. Kalau kisah ini membuat hatimu bergetar, tinggalkan satu shalawat untuk Rasulullah ﷺ. #sahabatnabi #jejakrasulullah #edukasisejarah #islamiccontent #islamicvedio

About