@jzx__8597: #jzx100 #markll #1jz #jdm #fyp

ちゃらんぽらん
ちゃらんぽらん
Open In TikTok:
Region: JP
Friday 04 September 2026 09:50:23 GMT
5803
718
7
7

Music

Download

Comments

lllzjzgtexloo
lllzjzgtexloo :
カッコ良すぎます
2026-09-05 02:00:07
0
skzjinipiri
🩵まいぴん🩵 :
おすすめなう☺️
2026-09-05 04:59:35
0
zzrrxx400llll
さぶみーと :
2026-09-04 10:00:37
0
lephosang07
Ông Chủ Bánh Ngọt. :
いい車ですね。
2026-09-04 10:32:28
0
enzoharuyamada
🇧🇷Enzo 🇯🇵エンツォ :
😳😳😳
2026-09-04 09:53:15
0
To see more videos from user @jzx__8597, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Bayangkan dua orang petarung yang sama-sama ingin mengubah dunia, tapi ketika duduk satu meja strategi, mereka tiba-tiba sadar… peta yang mereka bawa ternyata berbeda arah. Gramsci percaya bahwa kekuasaan tidak hanya berdiri dengan senjata atau negara, tetapi dengan cara orang berpikir. Ia menyebutnya hegemoni : kalau rakyat sudah menerima suatu cara berpikir sebagai “normal”, maka kekuasaan akan berdiri dengan sangat kokoh—bahkan tanpa terasa. Sementara Malaka punya temperamen yang berbeda, seakan berkata, “Teorinya bagus, tapi kalau penjajah masih ada, kita harus bertindak.” Melalui gagasan rasional dalam Madilog dan aktivitas revolusionernya, Tan Malaka percaya bahwa kesadaran harus diikutii keberanian bertindak. Kalau diringkas Gramsci punya ide : Menang dulu di kepala orang, sedangkan Malaka : Menang dulu di lapangan Bayangkan saja. Gramsci sedang menjelaskan panjang lebar tentang hegemoni budaya, sementara Tan Malaka mungkin sudah mengangkat alis sambil berkata pelan: “Baik… tapi kapan kita bergerak?” Yang membuat kisah keduanya semakin terasa syahdu adalah akhir hidup mereka. Gramsci menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya di penjara rezim Benito Mussolini. Tubuhnya sakit, kesehatannya hancur, tetapi pikirannya tetap bekerja. Dari ruang tahanan lahirlah Prison Notebooks catatan yang kelak mengubah cara dunia memahami kekuasaan dan budaya. Ia tidak melihat revolusi yang ia bayangkan, tetapi gagasannya hidup jauh setelah tubuhnya berhenti. Tan Malaka juga tidak mendapatkan akhir yang romantis. Setelah berkelana dari satu negeri ke negeri lain demi kemerdekaan, ia akhirnya wafat dalam kekacauan revolusi Indonesia pada 1949. Ironisnya, sosok yang sepanjang hidup memperjuangkan kemerdekaan itu justru gugur di tanah airnya sendiri, dalam situasi yang penuh salah paham sejarah. Kalau kedua tokoh ini bisa mendengar lagu Sorry karya NTRL di ujung perjalanan hidup mereka, mungkin suasananya akan terasa seperti ini: Gramsci duduk di sel penjara, berkawan dengan kesepian. Tan Malaka berjalan sendirian di jalan revolusi yang rumit. Dan lirik itu terasa begitu pas: Sekarang aku berkawan dengan kesepian Sekarang kita berdua sependeritaan.... Seolah lirik lagu ini berkata pelan kepada mereka berdua: “Maaf, kalian memang tak sepaham… tapi dunia tetap belajar dari kalian berdua.” Dan di situlah humor pahit sejarah muncul: kadang para pemikir besar memang tidak selalu sepakat tapi justru dari ketidaksepahaman itulah sejarah bergerak.
Bayangkan dua orang petarung yang sama-sama ingin mengubah dunia, tapi ketika duduk satu meja strategi, mereka tiba-tiba sadar… peta yang mereka bawa ternyata berbeda arah. Gramsci percaya bahwa kekuasaan tidak hanya berdiri dengan senjata atau negara, tetapi dengan cara orang berpikir. Ia menyebutnya hegemoni : kalau rakyat sudah menerima suatu cara berpikir sebagai “normal”, maka kekuasaan akan berdiri dengan sangat kokoh—bahkan tanpa terasa. Sementara Malaka punya temperamen yang berbeda, seakan berkata, “Teorinya bagus, tapi kalau penjajah masih ada, kita harus bertindak.” Melalui gagasan rasional dalam Madilog dan aktivitas revolusionernya, Tan Malaka percaya bahwa kesadaran harus diikutii keberanian bertindak. Kalau diringkas Gramsci punya ide : Menang dulu di kepala orang, sedangkan Malaka : Menang dulu di lapangan Bayangkan saja. Gramsci sedang menjelaskan panjang lebar tentang hegemoni budaya, sementara Tan Malaka mungkin sudah mengangkat alis sambil berkata pelan: “Baik… tapi kapan kita bergerak?” Yang membuat kisah keduanya semakin terasa syahdu adalah akhir hidup mereka. Gramsci menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya di penjara rezim Benito Mussolini. Tubuhnya sakit, kesehatannya hancur, tetapi pikirannya tetap bekerja. Dari ruang tahanan lahirlah Prison Notebooks catatan yang kelak mengubah cara dunia memahami kekuasaan dan budaya. Ia tidak melihat revolusi yang ia bayangkan, tetapi gagasannya hidup jauh setelah tubuhnya berhenti. Tan Malaka juga tidak mendapatkan akhir yang romantis. Setelah berkelana dari satu negeri ke negeri lain demi kemerdekaan, ia akhirnya wafat dalam kekacauan revolusi Indonesia pada 1949. Ironisnya, sosok yang sepanjang hidup memperjuangkan kemerdekaan itu justru gugur di tanah airnya sendiri, dalam situasi yang penuh salah paham sejarah. Kalau kedua tokoh ini bisa mendengar lagu Sorry karya NTRL di ujung perjalanan hidup mereka, mungkin suasananya akan terasa seperti ini: Gramsci duduk di sel penjara, berkawan dengan kesepian. Tan Malaka berjalan sendirian di jalan revolusi yang rumit. Dan lirik itu terasa begitu pas: Sekarang aku berkawan dengan kesepian Sekarang kita berdua sependeritaan.... Seolah lirik lagu ini berkata pelan kepada mereka berdua: “Maaf, kalian memang tak sepaham… tapi dunia tetap belajar dari kalian berdua.” Dan di situlah humor pahit sejarah muncul: kadang para pemikir besar memang tidak selalu sepakat tapi justru dari ketidaksepahaman itulah sejarah bergerak.

About