@grace_agro.gh: #farmers #farming #agriculture #agrochemicals #seedlings

Grace Agro chemical Store
Grace Agro chemical Store
Open In TikTok:
Region: GH
Friday 04 September 2026 12:09:49 GMT
961
32
3
1

Music

Download

Comments

user9744860741556
IKE :
where are you located?
2026-09-04 14:15:11
0
sermicola
Sermicola ( Kyeremateng) :
you are doing very madam CEO😊
2026-09-07 22:08:43
0
To see more videos from user @grace_agro.gh, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

yang pernah datang tanpa rencana, lalu menetap di ruang yang bahkan tak kusadari ada. Kau hadir bukan sebagai kebetulan, tapi sebagai doa yang tiba dalam wujud manusia. Kau tahu? Aku tak pernah meminta cinta datang seindah itu, dan aku juga tak pernah siap saat ia harus pergi. Namun begitulah takdir — ia memberi kita rasa yang besar, tanpa memberi waktu yang panjang. Kita berjalan di dunia yang sama, namun arah kita tak lagi sejalur. Kau punya tangan lain yang harus kau genggam, dan aku punya hati sendiri yang harus kubujuk agar tenang. Tapi meski jarak membentang sejauh apa pun, aku tahu — ada sesuatu dari kita yang tak bisa dihapus oleh waktu. Kita adalah rahasia yang hidup di antara doa dan luka. Rahasia yang tak butuh saksi, tak memerlukan penjelasan, karena yang memahaminya hanya dua hati yang pernah saling bergetar dalam sunyi. Malam-malam terasa panjang, dan dalam setiap hembusan udara yang dingin, ada bisik namamu yang menepi di dadaku. Aku berbicara dengan bayanganmu, seolah semesta paham bahwa aku masih di sini — menunggu, meski tanpa janji. Aku menulis namamu di setiap doa, bukan untuk meminta kembali, tapi agar Tuhan tahu bahwa aku masih mengingatmu tanpa dendam, masih merindukanmu tanpa pamrih, dan masih mencintaimu dengan cara yang tenang — seperti angin yang selalu tahu jalan pulang ke pohon yang sama. Kau tahu, cinta? Ada kalanya aku ingin marah pada waktu, karena ia terlalu cepat mempertemukan, dan terlalu kejam memisahkan. Namun di sisi lain, aku bersyukur pernah mengenalmu — sebab di antara banyak luka, kau adalah alasan kenapa aku belajar tentang ketulusan. Kini aku hidup berdampingan dengan kenangan, berteman dengan doa, dan berdamai dengan luka. Namun dalam setiap denyut yang masih berani mengingat, ada keyakinan yang tak bisa kupadamkan: bahwa kita belum selesai. Mungkin semesta hanya sedang menyembunyikan kelanjutan kisah ini, menulis bab selanjutnya di langit yang belum sempat kita baca. Mungkin suatu hari, ketika segalanya telah tenang dan luka telah berubah menjadi cahaya, kau akan kembali — bukan sebagai rahasia, tapi sebagai takdir yang disempurnakan oleh waktu. Aku tidak lagi ingin terburu-buru. Cinta ini tidak menuntut untuk segera bersatu, ia hanya ingin tetap hidup — lembut, sabar, dan setia. Karena yang tumbuh dari doa tidak akan mati, dan yang lahir dari luka tidak akan rapuh. Maka biarlah sekarang aku mencintaimu dari kejauhan, menyebut namamu di antara lirih malam, menitipkan rindu pada angin, dan membiarkan Tuhan yang menerjemahkan segalanya. Sebab aku percaya, bila sesuatu ditulis oleh tangan-Nya, maka tak ada jarak yang terlalu jauh, tak ada waktu yang terlalu lama, dan tak ada luka yang terlalu dalam untuk akhirnya menyatukan dua jiwa yang sejak awal memang diciptakan untuk saling kembali. Dan bila kelak hari itu datang — hari di mana tak lagi ada rahasia, tak lagi ada air mata, tak lagi ada “mungkin”, maka aku akan memandangmu dengan mata yang sama, namun hati yang lebih tenang. Akan kuucap pelan, bukan dengan gemetar, tapi dengan keyakinan: > “Aku menunggumu bukan karena tak bisa melupakan, tapi karena aku percaya — beberapa cinta memang ditakdirkan untuk berputar jauh, hanya agar bisa kembali dengan cara yang lebih indah.” Sampai hari itu tiba, aku akan tetap di sini, menjaga rahasia ini dengan lembut, mendoakanmu dalam diam, dan mencintaimu tanpa batas waktu. Kita adalah rahasia yang hidup di antara doa dan luka — namun juga harapan yang disucikan oleh waktu, yang akan menemukan jalannya sendiri untuk akhirnya bersatu, dalam tenang, dalam cahaya, dalam nama yang sama: kita.
yang pernah datang tanpa rencana, lalu menetap di ruang yang bahkan tak kusadari ada. Kau hadir bukan sebagai kebetulan, tapi sebagai doa yang tiba dalam wujud manusia. Kau tahu? Aku tak pernah meminta cinta datang seindah itu, dan aku juga tak pernah siap saat ia harus pergi. Namun begitulah takdir — ia memberi kita rasa yang besar, tanpa memberi waktu yang panjang. Kita berjalan di dunia yang sama, namun arah kita tak lagi sejalur. Kau punya tangan lain yang harus kau genggam, dan aku punya hati sendiri yang harus kubujuk agar tenang. Tapi meski jarak membentang sejauh apa pun, aku tahu — ada sesuatu dari kita yang tak bisa dihapus oleh waktu. Kita adalah rahasia yang hidup di antara doa dan luka. Rahasia yang tak butuh saksi, tak memerlukan penjelasan, karena yang memahaminya hanya dua hati yang pernah saling bergetar dalam sunyi. Malam-malam terasa panjang, dan dalam setiap hembusan udara yang dingin, ada bisik namamu yang menepi di dadaku. Aku berbicara dengan bayanganmu, seolah semesta paham bahwa aku masih di sini — menunggu, meski tanpa janji. Aku menulis namamu di setiap doa, bukan untuk meminta kembali, tapi agar Tuhan tahu bahwa aku masih mengingatmu tanpa dendam, masih merindukanmu tanpa pamrih, dan masih mencintaimu dengan cara yang tenang — seperti angin yang selalu tahu jalan pulang ke pohon yang sama. Kau tahu, cinta? Ada kalanya aku ingin marah pada waktu, karena ia terlalu cepat mempertemukan, dan terlalu kejam memisahkan. Namun di sisi lain, aku bersyukur pernah mengenalmu — sebab di antara banyak luka, kau adalah alasan kenapa aku belajar tentang ketulusan. Kini aku hidup berdampingan dengan kenangan, berteman dengan doa, dan berdamai dengan luka. Namun dalam setiap denyut yang masih berani mengingat, ada keyakinan yang tak bisa kupadamkan: bahwa kita belum selesai. Mungkin semesta hanya sedang menyembunyikan kelanjutan kisah ini, menulis bab selanjutnya di langit yang belum sempat kita baca. Mungkin suatu hari, ketika segalanya telah tenang dan luka telah berubah menjadi cahaya, kau akan kembali — bukan sebagai rahasia, tapi sebagai takdir yang disempurnakan oleh waktu. Aku tidak lagi ingin terburu-buru. Cinta ini tidak menuntut untuk segera bersatu, ia hanya ingin tetap hidup — lembut, sabar, dan setia. Karena yang tumbuh dari doa tidak akan mati, dan yang lahir dari luka tidak akan rapuh. Maka biarlah sekarang aku mencintaimu dari kejauhan, menyebut namamu di antara lirih malam, menitipkan rindu pada angin, dan membiarkan Tuhan yang menerjemahkan segalanya. Sebab aku percaya, bila sesuatu ditulis oleh tangan-Nya, maka tak ada jarak yang terlalu jauh, tak ada waktu yang terlalu lama, dan tak ada luka yang terlalu dalam untuk akhirnya menyatukan dua jiwa yang sejak awal memang diciptakan untuk saling kembali. Dan bila kelak hari itu datang — hari di mana tak lagi ada rahasia, tak lagi ada air mata, tak lagi ada “mungkin”, maka aku akan memandangmu dengan mata yang sama, namun hati yang lebih tenang. Akan kuucap pelan, bukan dengan gemetar, tapi dengan keyakinan: > “Aku menunggumu bukan karena tak bisa melupakan, tapi karena aku percaya — beberapa cinta memang ditakdirkan untuk berputar jauh, hanya agar bisa kembali dengan cara yang lebih indah.” Sampai hari itu tiba, aku akan tetap di sini, menjaga rahasia ini dengan lembut, mendoakanmu dalam diam, dan mencintaimu tanpa batas waktu. Kita adalah rahasia yang hidup di antara doa dan luka — namun juga harapan yang disucikan oleh waktu, yang akan menemukan jalannya sendiri untuk akhirnya bersatu, dalam tenang, dalam cahaya, dalam nama yang sama: kita.

About