@imlangkoonao:

im lặng không ồn ào
im lặng không ồn ào
Open In TikTok:
Region: VN
Friday 04 September 2026 14:19:47 GMT
37
10
0
1

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @imlangkoonao, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Duduklah Bersama Dunia, Tetapi Hadirkan Qalbu Bersama Allah Syekh Abdul Qadir al-Jailani memberikan sebuah isyarat ruhani yang sangat dalam. Kalam hikmah ini bukan ajakan untuk meninggalkan dunia, melainkan mengajarkan tata letak kesadaran seorang salik. Tubuh tetap berada di dunia, menjalankan kewajiban, bekerja, berkeluarga, mencari nafkah dan berinteraksi dengan manusia. Namun qalb jangan sampai diperbudak oleh dunia. Ia harus diarahkan kepada akhirat, sementara rasa batin terdalam—sirr—senantiasa menghadap kepada Allah. Inilah keseimbangan antara syariat, suluk dan hakikat. Allah berfirman: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77) Ayat ini mengajarkan bahwa Islam tidak memerintahkan manusia menjadi anti-dunia. Dunia adalah wasilah, bukan ghayah; sarana, bukan tujuan akhir. Harta boleh berada di tangan, tetapi jangan sampai bersemayam di hati. Jabatan boleh dimiliki, tetapi jangan menjadi sumber kesombongan. Kenikmatan boleh dirasakan, tetapi jangan membuat hati lalai dari Sang Pemberi nikmat. Tubuh di Dunia, Qalb Menghadap Akhirat Syekh al-Jailani seakan mengajarkan pembagian wilayah kesadaran. Jasad berada di dunia karena memang ia diciptakan untuk menjalani kehidupan dunia. Ia bekerja, makan, tidur, menikah, berusaha dan berikhtiar. Tetapi qalb harus melihat lebih jauh daripada apa yang tampak. Ia menyadari bahwa kehidupan dunia hanyalah dar al-imtihan, tempat ujian, bukan tempat tinggal abadi. Rasulullah ﷺ bersabda: “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.” (HR. al-Bukhari) Musafir tetap berjalan di bumi, tetapi ia tidak membangun seluruh harapan hidupnya di tempat persinggahan. Demikian pula seorang mukmin: menggunakan dunia tanpa diperbudak dunia. Karena itu, zuhud bukan berarti tidak memiliki sesuatu. Hakikat zuhud adalah tidak dimiliki oleh sesuatu. Rasa Bersama Rabb Bagian terdalam dari hikmah ini adalah: “rasamu bersama Rabbmu.” Inilah wilayah ihsan, ketika seorang hamba berusaha menghadirkan muraqabah: kesadaran bahwa Allah senantiasa melihatnya. Rasulullah ﷺ menjelaskan: “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim) Maka seorang salik tidak hanya bertanya, “Apa yang sedang aku lakukan?” tetapi juga, “Untuk siapa aku melakukannya?” Ia bekerja karena Allah. Ia mencari nafkah sebagai amanah. Ia menolong karena Allah. Ia beribadah bukan sekadar mengejar pahala, tetapi karena hatinya mengenal Rabb yang disembahnya. Di sinilah tazkiyatun nafs menemukan maknanya: membersihkan hati dari riya’, ujub, takabbur, hubb ad-dunya dan ketergantungan kepada selain Allah. Dunia di Tangan, Akhirat di Hati, Allah di Kesadaran Kalam ini pada akhirnya mengajarkan sebuah disiplin batin: jangan menukar yang abadi dengan yang sementara. Dunia cukup ditempatkan di tangan. Akhirat ditempatkan dalam orientasi qalb. Sedangkan Allah menjadi pusat penghambaan dan kesadaran. Allah mengingatkan: “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megahan di antara kamu dan berlomba dalam kekayaan serta anak-anak.” (QS. Al-Hadid: 20) Bukan berarti dunia harus dibenci. Yang harus diwaspadai adalah ghaflah—ketika dunia membuat manusia lupa kepada Allah dan lupa kepada tujuan penciptaannya. Maka jalan para ‘arifin bukan melarikan diri dari dunia, tetapi menjernihkan hubungan dengan dunia. Ia hidup di tengah manusia, tetapi hatinya tidak kehilangan kiblat. Ia memiliki dunia, tetapi dunia tidak memilikinya. Pada tingkat inilah seorang hamba belajar menjadi ‘abd secara utuh: jasadnya menjalankan syariat, akalnya memahami amanah, qalb-nya merindukan akhirat, dan sirr-nya senantiasa menghadap kepada Allah. Sebab keselamatan bukan ketika dunia keluar dari kehidupan kita, melainkan ketika dunia keluar dari perbudakan hati kita. Salam santun 🙏
Duduklah Bersama Dunia, Tetapi Hadirkan Qalbu Bersama Allah Syekh Abdul Qadir al-Jailani memberikan sebuah isyarat ruhani yang sangat dalam. Kalam hikmah ini bukan ajakan untuk meninggalkan dunia, melainkan mengajarkan tata letak kesadaran seorang salik. Tubuh tetap berada di dunia, menjalankan kewajiban, bekerja, berkeluarga, mencari nafkah dan berinteraksi dengan manusia. Namun qalb jangan sampai diperbudak oleh dunia. Ia harus diarahkan kepada akhirat, sementara rasa batin terdalam—sirr—senantiasa menghadap kepada Allah. Inilah keseimbangan antara syariat, suluk dan hakikat. Allah berfirman: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77) Ayat ini mengajarkan bahwa Islam tidak memerintahkan manusia menjadi anti-dunia. Dunia adalah wasilah, bukan ghayah; sarana, bukan tujuan akhir. Harta boleh berada di tangan, tetapi jangan sampai bersemayam di hati. Jabatan boleh dimiliki, tetapi jangan menjadi sumber kesombongan. Kenikmatan boleh dirasakan, tetapi jangan membuat hati lalai dari Sang Pemberi nikmat. Tubuh di Dunia, Qalb Menghadap Akhirat Syekh al-Jailani seakan mengajarkan pembagian wilayah kesadaran. Jasad berada di dunia karena memang ia diciptakan untuk menjalani kehidupan dunia. Ia bekerja, makan, tidur, menikah, berusaha dan berikhtiar. Tetapi qalb harus melihat lebih jauh daripada apa yang tampak. Ia menyadari bahwa kehidupan dunia hanyalah dar al-imtihan, tempat ujian, bukan tempat tinggal abadi. Rasulullah ﷺ bersabda: “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.” (HR. al-Bukhari) Musafir tetap berjalan di bumi, tetapi ia tidak membangun seluruh harapan hidupnya di tempat persinggahan. Demikian pula seorang mukmin: menggunakan dunia tanpa diperbudak dunia. Karena itu, zuhud bukan berarti tidak memiliki sesuatu. Hakikat zuhud adalah tidak dimiliki oleh sesuatu. Rasa Bersama Rabb Bagian terdalam dari hikmah ini adalah: “rasamu bersama Rabbmu.” Inilah wilayah ihsan, ketika seorang hamba berusaha menghadirkan muraqabah: kesadaran bahwa Allah senantiasa melihatnya. Rasulullah ﷺ menjelaskan: “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim) Maka seorang salik tidak hanya bertanya, “Apa yang sedang aku lakukan?” tetapi juga, “Untuk siapa aku melakukannya?” Ia bekerja karena Allah. Ia mencari nafkah sebagai amanah. Ia menolong karena Allah. Ia beribadah bukan sekadar mengejar pahala, tetapi karena hatinya mengenal Rabb yang disembahnya. Di sinilah tazkiyatun nafs menemukan maknanya: membersihkan hati dari riya’, ujub, takabbur, hubb ad-dunya dan ketergantungan kepada selain Allah. Dunia di Tangan, Akhirat di Hati, Allah di Kesadaran Kalam ini pada akhirnya mengajarkan sebuah disiplin batin: jangan menukar yang abadi dengan yang sementara. Dunia cukup ditempatkan di tangan. Akhirat ditempatkan dalam orientasi qalb. Sedangkan Allah menjadi pusat penghambaan dan kesadaran. Allah mengingatkan: “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megahan di antara kamu dan berlomba dalam kekayaan serta anak-anak.” (QS. Al-Hadid: 20) Bukan berarti dunia harus dibenci. Yang harus diwaspadai adalah ghaflah—ketika dunia membuat manusia lupa kepada Allah dan lupa kepada tujuan penciptaannya. Maka jalan para ‘arifin bukan melarikan diri dari dunia, tetapi menjernihkan hubungan dengan dunia. Ia hidup di tengah manusia, tetapi hatinya tidak kehilangan kiblat. Ia memiliki dunia, tetapi dunia tidak memilikinya. Pada tingkat inilah seorang hamba belajar menjadi ‘abd secara utuh: jasadnya menjalankan syariat, akalnya memahami amanah, qalb-nya merindukan akhirat, dan sirr-nya senantiasa menghadap kepada Allah. Sebab keselamatan bukan ketika dunia keluar dari kehidupan kita, melainkan ketika dunia keluar dari perbudakan hati kita. Salam santun 🙏

About