@isah_halimah: glitters and 3D work #glitters #3D

Bead,glitters and paint work
Bead,glitters and paint work
Open In TikTok:
Region: NG
Monday 07 September 2026 00:23:54 GMT
110354
3966
38
144

Music

Download

Comments

exquitanatelier_enitan
The fashion workshop Exquitan :
Nice work, i thought fabric glue alone can’t be used for glitter work
2026-09-11 07:48:38
0
yusuff.aminat.yet
@Meenah fashion :
Beautiful
2026-09-11 14:21:46
0
fati320454
Timah's stitches :
pls is the first glue a fabric glue?
2026-09-08 09:46:17
2
royalty_8
Oluwabunmi | Digital Growth :
Welcome. This is very nice💯
2026-09-07 04:27:30
1
harbahke1
Harbahke :
pls I want to buy how much n location ma
2026-09-07 08:23:11
1
jural_house
Jụral House :
nice 👍
2026-09-07 12:11:35
1
veilsbyzarah
veilsbyzarah NWE :
Wowww🥰❤️
2026-09-07 07:40:13
1
ijayy268
ijayy@ :
this is fine mama🥰
2026-09-10 14:31:41
0
prec857
precious 🌹🦋 :
Name of the glues pls ma
2026-09-09 20:28:57
0
dudulewa69
Dúdúlẹwa :
Beautiful
2026-09-07 17:39:35
1
obasib
D.bee Empire :
Beautiful
2026-09-07 04:51:16
1
mamandanbaba5
maman dan baba :
Macha Allah
2026-09-07 19:08:15
1
midesnacks
MIDE SNACKS-ng :
Repost this need to go viral 💯💯💯
2026-09-07 08:22:31
1
mayaah022
🌹sumayyah🌹 :
gaskiya Kuna da experience Allah ya Kara basira
2026-09-09 18:14:03
0
sawadogo.nuria
sawadogo ❤️💯🥳🥰💋🙏 :
💕💕💕
2026-09-08 11:44:46
1
kadijatu1995
obapakadi :
😁😁😁
2026-09-08 23:51:58
0
halima.autar.mama
halima autar mama💋💋💋 :
🥰🥰🥰
2026-09-07 23:46:53
1
halima.autar.mama
halima autar mama💋💋💋 :
🥰🥰🥰
2026-09-07 23:46:53
1
assybelle
Kattra Aissata Sidib :
😂😂😂
2026-09-10 15:28:52
0
To see more videos from user @isah_halimah, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

PULANG MAS, PAKET UMROHMU SUDAH AKU BATALKAN “Loh, Mas Yunus nggak jadi berangkat umroh? Kok balik lagi dari bandara? Aku tadi telat dateng karena Vivi tiba-tiba mencret. Jadi kami mampir dulu ke klinik, terus beli bubur juga.” Aku menatap suamiku—pura-pura polos. Pura-pura tidak tahu kalau mereka gagal umroh hari ini, padahal akulah pelakunya, “Kupikir kalian udah berangkat, tapi kok malah di lobi bandara, sih? Koper-koper kalian juga… masih di sini?”   Mas Yunus membuang muka. Wajahnya terlihat kecut. Aku tertawa dalam hati.   Rasain, Mas!     Tapi tiba-tiba dia menatapku ma r a h. “Harusnya aku yang nanya kenapa kamu masih di sini padahal udah tahu telat! Kamu pasti mau ngetawain aku, kan? Aku tahu kalau ini semua ulah kamu! Kamu pasti minta bupati itu buat batalin umroh kami!”   “Vivi nangis-nangis mau ketemu kamu, Mas! Jadi aku nekad tetap datang ke sini meskipun tahu telat. Tapi kenapa kamu malah marah-marah dan nyalahin aku? Aku aja nggak tahu Mas Yunus pake travel umroh apa!” kutatap suamiku dengan ekspresi marah. “Jangan limpahin kesalahan sama aku padahal aku juga nggak tahu apa-apa!”   “Papa.. papa papa..” Vivi yang berada di gendonganku sejak tadi mengulurkan tangan ke arah papanya meminta digendong—tapi Mas Yunus sengaja membuang muka.   “Hala nggak usah sok polos deh! Kamu pasti iri karena kami berangkat umroh nggak ngajak kamu, makanya kamu cura n g!” Mbak Hilda menunjuk-nunjukku dengan ekspresi kesal—dipenuhi kemarahan. “Kamu udah ngapain aja sama bupati itu sampai-sampai dia mau nolongin kamu? Hah? Kalain pasti udah sering ch e c k in ke ho tel, kan? Ngaku aja! Nggak usah s ok suci deh!”   Padahal adiknya sendiri yang suka cela p-cel u p sembarangan. Tapi mereka malah sengaja menuduhku yang tidak-tidak. Di mata mereka, aku ini memang cuma jalan g, kan? Aku dir e n d ahkan karena mereka pikir aku yatim piatu, dan mereka tutup mata soal ua n g modal yang kuberi pada Mas Yunus hingga toko sembako kami makin besar dan bisa mengumrohkan mereka.   “Mbak, tolong jangan bicara tanpa bukti. Kalau Pak Arsyad sampai denger, beliau pasti nggak akan diem, kan? Mbak bisa dilaporin atas dasar pencemaran nama baik,” balasku, dengan nada dingin.   Mbak Hilda langsung diam.   “Alah, bilang aja kalau kamu seneng liat kita nggak jadi umroh. Pasti sekarang kamu mau ngetawain kami kan?” Mbak Lina membalas tidak mau kalah. Dia menatapku dengan ekspresi mencem ooh. “Udah, nggak usah ditahan ketawanya. Bilang alhamdulillah aja karena harapanmu terkabul!”   Aku memang udah ketawa pu a s, Mbak! Aku nggak akan terpancing sama provokasimu karena aku punya misi yang lebih besar untuk memperm a l ukan kalian!   “Mbak nggak takut pahala puasanya hilang, nuduh orang sembarangan?” ujarku, menantang. “Ramadan baru dapat sehari, tapi mbak udah marah-marah dan nuduh aku yang enggak-enggak.”   “Halah, nggak usah sok komen sama ibadah orang lain.” Mbak Hilda membela Mbak Lina sambil melotot padaku. “Bukan kamu kan yang nentuin pahala yang kami dapat?”   Apa mereka berniat melimpahkan kekesalan mereka padaku? Apa mereka sedang menjadikanku samsak tinju?   “Sudah-sudah!” Ibu mertuaku itu maju dan melerai kami. “Ibu mau pulang! Capek! Lagian udah dikasih tahu nggak jadi berangkat juga, kan?” beliau menghampiriku. “Eri, mobil Pak Bupati masih di parkiran, kan? Yunus kamu bawa koper punya Ibuk. Kita pulang sekarang!”   Apa mereka pikir aku mau menampung mereka? Pulang jalan kaki saja sana, Bu!   BACA KISAH SELENGKAPNYA DI APLIKAS I KBM APP YAA JUDUL : PULANG MAS, PAKET UMROHMU SUDAH AKU BATALKAN AUTHOR : INDAAHNS #tiktok #fyp #viralllllll
PULANG MAS, PAKET UMROHMU SUDAH AKU BATALKAN “Loh, Mas Yunus nggak jadi berangkat umroh? Kok balik lagi dari bandara? Aku tadi telat dateng karena Vivi tiba-tiba mencret. Jadi kami mampir dulu ke klinik, terus beli bubur juga.” Aku menatap suamiku—pura-pura polos. Pura-pura tidak tahu kalau mereka gagal umroh hari ini, padahal akulah pelakunya, “Kupikir kalian udah berangkat, tapi kok malah di lobi bandara, sih? Koper-koper kalian juga… masih di sini?” Mas Yunus membuang muka. Wajahnya terlihat kecut. Aku tertawa dalam hati. Rasain, Mas! Tapi tiba-tiba dia menatapku ma r a h. “Harusnya aku yang nanya kenapa kamu masih di sini padahal udah tahu telat! Kamu pasti mau ngetawain aku, kan? Aku tahu kalau ini semua ulah kamu! Kamu pasti minta bupati itu buat batalin umroh kami!” “Vivi nangis-nangis mau ketemu kamu, Mas! Jadi aku nekad tetap datang ke sini meskipun tahu telat. Tapi kenapa kamu malah marah-marah dan nyalahin aku? Aku aja nggak tahu Mas Yunus pake travel umroh apa!” kutatap suamiku dengan ekspresi marah. “Jangan limpahin kesalahan sama aku padahal aku juga nggak tahu apa-apa!” “Papa.. papa papa..” Vivi yang berada di gendonganku sejak tadi mengulurkan tangan ke arah papanya meminta digendong—tapi Mas Yunus sengaja membuang muka. “Hala nggak usah sok polos deh! Kamu pasti iri karena kami berangkat umroh nggak ngajak kamu, makanya kamu cura n g!” Mbak Hilda menunjuk-nunjukku dengan ekspresi kesal—dipenuhi kemarahan. “Kamu udah ngapain aja sama bupati itu sampai-sampai dia mau nolongin kamu? Hah? Kalain pasti udah sering ch e c k in ke ho tel, kan? Ngaku aja! Nggak usah s ok suci deh!” Padahal adiknya sendiri yang suka cela p-cel u p sembarangan. Tapi mereka malah sengaja menuduhku yang tidak-tidak. Di mata mereka, aku ini memang cuma jalan g, kan? Aku dir e n d ahkan karena mereka pikir aku yatim piatu, dan mereka tutup mata soal ua n g modal yang kuberi pada Mas Yunus hingga toko sembako kami makin besar dan bisa mengumrohkan mereka. “Mbak, tolong jangan bicara tanpa bukti. Kalau Pak Arsyad sampai denger, beliau pasti nggak akan diem, kan? Mbak bisa dilaporin atas dasar pencemaran nama baik,” balasku, dengan nada dingin. Mbak Hilda langsung diam. “Alah, bilang aja kalau kamu seneng liat kita nggak jadi umroh. Pasti sekarang kamu mau ngetawain kami kan?” Mbak Lina membalas tidak mau kalah. Dia menatapku dengan ekspresi mencem ooh. “Udah, nggak usah ditahan ketawanya. Bilang alhamdulillah aja karena harapanmu terkabul!” Aku memang udah ketawa pu a s, Mbak! Aku nggak akan terpancing sama provokasimu karena aku punya misi yang lebih besar untuk memperm a l ukan kalian! “Mbak nggak takut pahala puasanya hilang, nuduh orang sembarangan?” ujarku, menantang. “Ramadan baru dapat sehari, tapi mbak udah marah-marah dan nuduh aku yang enggak-enggak.” “Halah, nggak usah sok komen sama ibadah orang lain.” Mbak Hilda membela Mbak Lina sambil melotot padaku. “Bukan kamu kan yang nentuin pahala yang kami dapat?” Apa mereka berniat melimpahkan kekesalan mereka padaku? Apa mereka sedang menjadikanku samsak tinju? “Sudah-sudah!” Ibu mertuaku itu maju dan melerai kami. “Ibu mau pulang! Capek! Lagian udah dikasih tahu nggak jadi berangkat juga, kan?” beliau menghampiriku. “Eri, mobil Pak Bupati masih di parkiran, kan? Yunus kamu bawa koper punya Ibuk. Kita pulang sekarang!” Apa mereka pikir aku mau menampung mereka? Pulang jalan kaki saja sana, Bu! BACA KISAH SELENGKAPNYA DI APLIKAS I KBM APP YAA JUDUL : PULANG MAS, PAKET UMROHMU SUDAH AKU BATALKAN AUTHOR : INDAAHNS #tiktok #fyp #viralllllll

About