@davronr87:

Davron R87
Davron R87
Open In TikTok:
Region: UZ
Tuesday 08 September 2026 12:00:13 GMT
4786
75
0
2

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @davronr87, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

#الفيۃ ابن مالك
#الفيۃ ابن مالك "MISTERI DIBALIK DUA BAIT DALAM NADZOM ALFIYAH IBN MALIK" Nadhom Alfiyah Ibn Malik karya Syaikh Muhammad bin Abdullah bin Malik, merupakan sebuah karya yang sangat fenomenal, yang tidak akan pernah terhapus dalam khazanah intelektualitas pesantren. Khususnya Pesantren Salaf (Bukan SalafiWahabi yang dimaksud). Kitab ini bertemakan tentang qaidah-qaidah gramatika bahasa arab, seputar nahwu shorof, dan di antara keunikan dari kitab ini adalah penempatan kata-kata dan contoh dalam nadzhom yang tidak sembarangan, melainkan mempunyai maksud dan isyaroh tersendiri. Semisal kalam-kalam hikmah, falsafah dan nasehat hidup. Beliau menamai nadzhom tersebut dengan nama Alfiyah, diambil dari jumlah bait dalam nadzom tersebut yakni seribu, (baca dalam bahasa arab; alfun). Namun pada kenyataannya, jumlah bait dari nadzhom alfiyah itu sendiri adalah 1002 bait, ada tambahan 2 bait di muqoddimah, dan juga ada cerita menarik di balik penambahan 2 bait tersebut. Tentang arti dari sebuah rasa bangga, tentang ta’dzim kepada sang guru, tentang tulusnya sebuah karya, juga tentang adab terhadap orang yang sudah meninggal. … Diceritakan bahwa Syaikh Ibnu Malik dalam menyusun nazhom Alfiyah ini terinspirasi dari almarhum sang guru yang sudah terlebih dahulu menyusun sebuah nadzhom yang berjumlah 500 bait. Beliau adalah Syaikh Ibn Mu’thiy. Karyanya tersebut diberi nama Alkaafiyah, namun mashur juga disebut dengan Alfiyah Ibn Mu’thiy. (Disebut Alfiyah, karena terdiri dari 1000 satar, adapun satar, adalah setengah bagian dari satu bait). Ketika beliau sudah mantap menyimpan semua gambaran nadzhom alfiyah dalam memori otaknya, beliaupun memulai untuk menulis untaian nadzom-nadzom indah tersebut. Hingga pada saat beliau menulis bait ke lima, bagian satar ke sepuluh yang berbunyi; وتَقتضِى رضًا بغير سخطٍ # فائقةً ألفيّةً ابن معطى (Dan kitab alfiyah itu akan menarik keridhoan yang tanpa didasari kemarahan Dan kitab alfiyah ini lebih unggul dari kitab alfiyahnya ibnu mu’thiy) Seketika semua hafalan yang sudah tersimpan rapi dalam memori otak beliaupun lenyap. Beliau tidak ingat satu hurufpun. Syaikh Ibnu Malik pun merasa cemas, sedih, juga bingung, entah apa yang harus beliau lakukan. Hingga akhirnya beliaupun tertidur pulas. Dalam mimpinya, beliau dibangunkan oleh seorang kakek yang memakai pakaian serba putih, jubahnya hampir menutupi sebagian kepalanya sehingga wajahnya tidak nampak secara jelas. Kakek itu menepuk pundak Syaikh Ibnu Malik sambil berkata; “Wahai anak muda, bangunlah! Bukankah kamu sedang menyusun sebuah kitab?” “Iya Kek,” seketika Ibnu Malik terbangun. “Namun aku lupa semua hafalanku, sehingga aku tak mampu untuk melanjutkanya” lanjutnya. Kakek itu pun bertanya, “Sudah sampai mana kamu menulisnya?” “Baru sampai bait kelima”, beliau menjawab sambil membacakan bait yang terakhir. “bolehkah aku melanjutkan hafalanmu,?” tanya kakek tersebut. “Tentu saja”. Kakek itupun membacakan sepasang bait; فائقةً من نحو ألف بيتي # والحيّ قد يغلب ألف ميّتي (Seperti halnya mengungguli dalam seribu bait # Orang yang masih hidup, terkadang mengalahkan 1000 orang yang sudah meninggal) Seketika setelah mendengar satu bait yang diucapkan oleh kakek tersebut, Syaikh Ibnu Malik pun terbangun. Dan beliaupun menyadari satu hal, bahwa kakek dalam mimpinya itu tidak lain adalah sang guru, yakni Syaikh Ibnu Mu’thiy yang dengan jelas menegur Syaikh Ibnu Malik dengan sindiran di bait tersebut. Beliau juga sadar, bahwa ungkapan bangga yang beliau ungkapkan dalam bait kelima tersebut ternyata merupakan perasaan takabbur yang timbul dari nafsunya, perasaan yang secara tidak langsung telah menerobos sebuah adab, akhlaqul karimah seorang murid kepada gurunya. Sadar akan hal itu, Ibnu Malik pun bertaubat kepada Sang Pencipta atas rasa takabburnya. Beliau juga hendak meminta maaf kepada Ibnu Mu’thiy, beliau berziarah ke makam Syaikh Ibnu Mu’thiy. Selepas berziarah, beliaupun hendak melanjutkan karangan tersebut dengan menambahkan 2 bait di bagian Muqoddimah yang pada awalnya tidak masuk dal

About