@bacaanalya: Kalau orang orang mulai ngga bisa ngomongin situasi hidupnya, emang kita diciptakan dari kedisiplinan yang menghilangkan esensi merasakannya menjadi manusia, sampai burnout. Well, sistem serba cepat itu menuntut kesempurnaan yang segitunya, sebenernya kita ngga harus nurutin itu pun (ya kalau udah punya zona aman). Terus bacaan yang direkomendasikan oleh pak Fahruddin Faiz emang kasih gambaran tersiksanya memenuhi kebutuhan banyak itu dengan mengandalkan satu pemasukan. Belum lagi beban emosionalnya ngga pernah termasuk kedalam pekerjaan, rasanya ngga puas mengerjakan satu hal karena ngga bisa diakui kalau kita memberi makna disitu. Berat banget, kalau kita ngga pernah kerja keras, padahal penghasilannya sangat tidak sebanding. Diri kita diserahkan sepenuhnya yang larut dalam alur yang super toxic. Tapi, in this economy? Tipis sih bukunya, rasanya ngga sebanding mengorbankan nyawa dan tetap bekerja selagi tipes karena ujungnya kekalahan buat kitanya. Namun ruang keluhannya jarang didengar, jadi pekerjaan adalah hal yang ngga bisa exclude gitu, alias orang akan aneh banget kalau ngga ngapa-ngapain. Ngerasa bersalah, ngerasa dirinya ngebebanin orang lain, dan pahitnya menahan depresi; lalu berpikir apakah hidup masih worth it? Capaiannya semuanya diukur dari seberapa besar yang dihasilkan, terus nyari jalan instannya karena kalah gaya. Belum lagi, ngga ada kebebasan, waktu luang pun hanya dimiliki beberapa orang. Ngga ada alasan buat bertahan, karena harusnya dunia ini ada batasnya, bukan menjunjung nilai loyal tapi badan semuanya remuk. Cukup ngga make sense aja bener mengandalkan satu manusia untuk memenuhi semua hal, apalagi dikorbankan atas nama cinta. Orang ngga punya ruang lelahnya, orang ngga punya kesempatan memilih hidupnya sendiri, dan orang ngga berharga kalau dia ngga menopang beban orang lain. Kek ngga punya privasi atas harapan hidupnya sendiri, karena harus ngebayar banyak manusia dalam hidupnya. Seakan relasi bisa berjalan sehat, karena uang, dan jika tidak, apapun ‘dimatikan’ pada akhirnya. Semestinya kita berkontemplasi, emang ngejar sebanyak itu harta buat ngebahagiain siapa? #BookTok #buku #foryou

Alya Putri
Alya Putri
Open In TikTok:
Region: ID
Wednesday 09 September 2026 18:44:58 GMT
305
24
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @bacaanalya, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos


About