@terry_taga.zw:

✔️👣MUSHE MUSHE 👣✔️
✔️👣MUSHE MUSHE 👣✔️
Open In TikTok:
Region: ZA
Thursday 10 September 2026 18:49:56 GMT
52890
6633
187
265

Music

Download

Comments

bozabbozab
bozab bozab :
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣aiwa mushe mushe eeee 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2026-09-10 20:20:49
0
petertauyabuwerim
Baba Yekie :
Ooohhh fenesh. ndaida kuti finish but my keyboard is finished
2026-09-10 22:35:16
1
user6958190876840
sabie :
amen babe
2026-09-11 11:07:21
0
andakijt4
TJA :
😅😅😅😅Don't do that kani Rumbie
2026-09-10 19:00:08
23
edsonchiruva819
Chiflower :
ameni bhebhi
2026-09-10 19:26:55
47
taku4262
Kuku19 :
Mundidzosewo
2026-09-10 20:12:45
16
elroi_06
Miss Candy🍭🍬🦋♌ :
[Tears of joy][Tears of joy][Tears of joy][Tears of joy]yhowe
2026-09-11 07:16:34
0
lisahofficial25
Lisah..zw :
nhy hako hawakuudze 😭😭😭😭
2026-09-10 19:55:25
16
tapiwachauke
Tapiwa chauke :
😂😂😂 don't do that
2026-09-10 18:54:54
0
anesyblessed
Anne :
Eh nhai nhai mushe mushe ihhh😏😂😂😂
2026-09-10 20:34:38
4
maroster321
maroster321 :
ndodzvanya papi kuti ndilykwe
2026-09-10 19:03:45
5
simbarasheemuronz
@Big smoke :
first comment
2026-09-10 18:53:21
1
user4393625013184
official Mutsetse :
haa iwewe
2026-09-10 20:23:46
0
lindagweje
user9847371527822 :
😂😂 better data ndariwana mubhero zvangu
2026-09-10 20:42:08
0
usemillanzi
Gama :
kkkkk
2026-09-10 19:44:43
1
user8295792347452
lolobae🥰 :
hesi mushe mushe 🤣🤣🤣
2026-09-10 21:09:13
0
taliagreys
Talia :
Iweee ini ndikutoziva munhu anosara achidya mai neighbor baba vacho vaenda kubasa but l choose peace and minding my own business 😂😂😂😂
2026-09-11 06:53:09
0
kinnycimcenturionlyrcis
KINNYCIM the CENTURION Designs :
Kkkkkk uyu anogona amana
2026-09-11 05:04:12
3
rubunya8
panexie :
kkkkkkkk yes haunyepe
2026-09-10 19:48:16
1
user60275944470052
user60275944470052 :
🤣🤣🤣🤣 mushe mushe ka zvobuda hre
2026-09-10 19:02:52
1
prettyandprincess
Mamoyo wepa07 Buhera :
kana muridzi we wattsapp anototiziva hedu tese
2026-09-11 08:42:38
1
To see more videos from user @terry_taga.zw, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Jika piringan hitam master buatan pria Tionghoa ini gagal diselundupkan dari kejaran intelijen musuh, kita mungkin tidak akan pernah mendengar suara asli lagu Indonesia Raya hari ini. Tidak banyak yang tahu, siapa sosok nekat dibalik aksi ini. Beliau bukan pejuang di medan fisik, melainkan seorang pengusaha rekaman piringan hitam yang mendedikasikan hidupnya demi menyelamatkan lagu kebangsaan kita. Namanya Yo Kim Tjan yang juga dikenal dengan nama Johan Kertayasa. Di era pergerakan nasional, ketika otoritas masa itu berupaya keras membatasi peredaran simbol kemerdekaan, sosok inilah yang berdiri di garda terdepan untuk menjaga aset paling berharga milik Republik Indonesia. Lahir pada tahun 1899 di Garut, Jawa Barat, Yo Kim Tjan tumbuh dalam keluarga Peranakan Tionghoa Sunda yang mapan dari pasangan Yo Sin Seng dan Sim Pipi Nio. Sejak muda, ia menempuh pendidikan modern yang membuatnya sangat lihai dalam mengelola bisnis kebudayaan. Memasuki era 1920-an di Batavia, ia sukses mendirikan studio rekaman piringan hitam. Berkat bisnis seni inilah, ia menjalin persahabatan yang sangat erat dengan musisi idealis, Wage Rudolf Soepratman. Pada tahun 1927, setahun sebelum fajar Sumpah Pemuda menyingsing, W.R. Soepratman dilanda kecemasan karena lagu ciptaannya,
Jika piringan hitam master buatan pria Tionghoa ini gagal diselundupkan dari kejaran intelijen musuh, kita mungkin tidak akan pernah mendengar suara asli lagu Indonesia Raya hari ini. Tidak banyak yang tahu, siapa sosok nekat dibalik aksi ini. Beliau bukan pejuang di medan fisik, melainkan seorang pengusaha rekaman piringan hitam yang mendedikasikan hidupnya demi menyelamatkan lagu kebangsaan kita. Namanya Yo Kim Tjan yang juga dikenal dengan nama Johan Kertayasa. Di era pergerakan nasional, ketika otoritas masa itu berupaya keras membatasi peredaran simbol kemerdekaan, sosok inilah yang berdiri di garda terdepan untuk menjaga aset paling berharga milik Republik Indonesia. Lahir pada tahun 1899 di Garut, Jawa Barat, Yo Kim Tjan tumbuh dalam keluarga Peranakan Tionghoa Sunda yang mapan dari pasangan Yo Sin Seng dan Sim Pipi Nio. Sejak muda, ia menempuh pendidikan modern yang membuatnya sangat lihai dalam mengelola bisnis kebudayaan. Memasuki era 1920-an di Batavia, ia sukses mendirikan studio rekaman piringan hitam. Berkat bisnis seni inilah, ia menjalin persahabatan yang sangat erat dengan musisi idealis, Wage Rudolf Soepratman. Pada tahun 1927, setahun sebelum fajar Sumpah Pemuda menyingsing, W.R. Soepratman dilanda kecemasan karena lagu ciptaannya, "Indonesia Raya," berisiko dilenyapkan. Banyak pihak menolak mendokumentasikan lagu tersebut karena khawatir akan konsekuensinya. Di titik krusial inilah, Yo Kim Tjan menunjukkan dedikasi besarnya. Ia secara rahasia merekam lagu kebangsaan tersebut langsung di kediamannya di Gunung Sahari menggunakan teknologi piringan hitam. Yo Kim Tjan membagi rekaman itu menjadi dua versi legendaris: versi instrumental biola asli yang digesek langsung oleh W.R. Soepratman, dan versi vokal aransemen keroncong yang dikirim ke luar negeri untuk digandakan. Ketika salinan yang beredar mulai dibatasi secara ketat, master piringan hitam paling orisinal diselamatkan dengan sangat rapi di tempat tersembunyi di bawah rumahnya. Ketegangan mencapai puncaknya pada tahun 1942 saat situasi darurat melanda Nusantara. Yo Kim Tjan mengambil keputusan besar dengan memercayakan tugas sakral ini kepada putri sulungnya yang masih sangat muda, Kartika. Yo Kim Tjan memberikan amanah tegas agar Kartika menjaga rahasia besar tersebut dengan segenap jiwa demi masa depan Indonesia Merdeka. Gadis muda bernama Kartika itu memeluk map berisi piringan hitam master negara tersebut erat-erat. Ia membawanya ikut mengungsi, berjalan kaki menembus rute-rute yang sulit, naik-turun gunung dari Karawang hingga kembali ke Garut demi mengelabui pengawasan ketat di jalan raya. Berkat keberanian ayah dan anak ini, lagu kebangsaan kita selamat melewati era transisi besar dunia. Pada tahun 1957, setelah Indonesia berdiri tegak, Yo Kim Tjan memenuhi janjinya dengan menyerahkan salinan berharga itu kepada Djawatan Kebudayaan Republik Indonesia agar bisa dirawat selamanya oleh negara. Sang tokoh pemberani akhirnya menghembuskan napas terakhirnya pada tahun 1968 di Jakarta karena faktor usia dan dimakamkan dengan damai di tanah Jawa Barat. Sementara putrinya, Ibu Kartika, menuntaskan seluruh amanah ayahnya hingga akhir hayatnya pada tahun 2014. Pada Juli 2025, ahli waris keluarga Yo Kim Tjan secara resmi menghibahkan alat pemutar piringan hitam (gramofon) asli milik Yo Kim Tjan kepada Museum Sumpah Pemuda di Jakarta. Yo Kim Tjan dan Kartika telah lama beristirahat, namun setiap kali lagu "Indonesia Raya" berkumandang membakar semangat kita di hari kemerdekaan, ketahuilah bahwa di dalam setiap nadanya mengalir darah, keberanian, dan kesetiaan tanpa batas dari sebuah keluarga Peranakan untuk ibu pertiwi. . #YoKimTjan #sejarahindonesia #IndonesiaRaya #SejarahPeranakan #kangkuchel

About