@yuri_pogii00: 🤩🤩🤩 #blowthisup #true #Love #makeitviral #foryoupage

Yuri🤪
Yuri🤪
Open In TikTok:
Region: PH
Friday 11 September 2026 08:48:41 GMT
1849
227
3
9

Music

Download

Comments

_feunaqtz_
🎀Yuhna_pcio :
2026-09-11 09:51:57
1
bataan_ni_dopdop
LOW STANDARD :
https://vt.tiktok.com/ZSqf3kJH4/🤪
2026-09-11 09:03:47
1
To see more videos from user @yuri_pogii00, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Tanah Yang Diperebutkan, Langit Yang Memutuskan Usia telah memutihkan rambut Sa’id bin Zaid Tubuhnya tak lagi sekuat masa muda. Namun namanya tetap bersih—sebersih iman yang ia bawa sejak awal Islam. Ia bukan orang sembarangan. Ia termasuk sepuluh sahabat yang dijamin surga. Ia hidup sederhana, jauh dari ambisi dunia. Tanah baginya hanyalah debu yang akan ia tinggalkan. Namun suatu hari, ketenangan itu pecah. Seorang wanita datang membawa tuduhan. Bukan bisikan kecil. Bukan fitnah ringan. Ia berdiri dan berkata lantang: “Sa’id bin Zaid telah merampas tanahku.” Kalimat itu jatuh seperti batu besar. Di Madinah, tuduhan seperti ini bukan perkara sepele. Bukan hanya soal hak milik— ini menyangkut kehormatan seorang sahabat Nabi ﷺ dan lebih dari itu: keselamatan akhirat. Orang-orang memandang Sa’id. Mereka menunggu pembelaan. Mereka menunggu bantahan keras. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Sa’id gemetar. Bukan karena takut kehilangan nama baik. Bukan karena khawatir dihukum manusia. Ia gemetar karena teringat sabda Rasulullah ﷺ— sabda yang hidup di dalam dadanya, siang dan malam: “Barang siapa mengambil sejengkal tanah secara zalim, niscaya Allah akan mengalungkan tujuh lapis bumi ke lehernya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim) Satu sejengkal. Bukan sebidang luas. Bukan tanah yang mahal. Satu sejengkal saja— cukup untuk menghancurkan seorang hamba di hadapan Allah. Sa’id menunduk. Air mukanya pucat. Ia berkata dengan suara yang tidak keras, namun menusuk: “Ya Allah… jika wanita ini berdusta atas namaku, jika ia menuduhku dengan sesuatu yang tidak aku ambil, maka butakanlah matanya dan wafatkanlah ia di tanah yang ia perebutkan.” Tidak ada makian. Tidak ada sumpah manusia. Hanya penyerahan penuh kepada langit. Waktu berlalu. Dan Madinah menyaksikan sesuatu yang membuat bulu kuduk berdiri. Wanita itu benar-benar kehilangan penglihatannya. Hari-harinya berubah gelap. Langkahnya tak lagi pasti. Hingga suatu hari… ia berjalan di tanah yang ia klaim sebagai miliknya. Tanah yang ia tuduhkan telah dirampas. Ia tidak melihat lubang di hadapannya. Ia terjatuh. Dan di sanalah ia wafat— tepat di tanah yang ia perebutkan. Madinah gemetar. Bukan karena kematian seorang wanita, tetapi karena keputusan Allah yang begitu nyata. Orang-orang berbisik satu sama lain: “Itulah doa Sa’id bin Zaid…” Tidak ada sorak kemenangan. Tidak ada rasa puas. Yang tersisa hanyalah pelajaran yang berat: bahwa kezaliman sekecil apa pun akan diadili oleh Allah— meski manusia menganggapnya remeh. Dan bahwa doa orang yang dizalimi, terlebih seorang hamba yang jujur imannya, tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke langit. Kisah ini diriwayatkan dengan jelas. Dicatat oleh para perawi terpercaya. Dan ditutup dengan pengakuan yang tidak bisa dibantah: Langit telah memutuskan. Jika kisah ini membuat hati bergetar, mari tinggalkan shalawat untuk Rasulullah ﷺ🤍 📌Kisah doa Sa’id bin Zaid رضي الله عنه terhadap wanita yang menuduhnya merampas tanah diriwayatkan secara sahih dalam: HR. Muslim Adapun peringatan Rasulullah ﷺ tentang mengambil sejengkal tanah secara zalim: HR. Bukhari dan Muslim
Tanah Yang Diperebutkan, Langit Yang Memutuskan Usia telah memutihkan rambut Sa’id bin Zaid Tubuhnya tak lagi sekuat masa muda. Namun namanya tetap bersih—sebersih iman yang ia bawa sejak awal Islam. Ia bukan orang sembarangan. Ia termasuk sepuluh sahabat yang dijamin surga. Ia hidup sederhana, jauh dari ambisi dunia. Tanah baginya hanyalah debu yang akan ia tinggalkan. Namun suatu hari, ketenangan itu pecah. Seorang wanita datang membawa tuduhan. Bukan bisikan kecil. Bukan fitnah ringan. Ia berdiri dan berkata lantang: “Sa’id bin Zaid telah merampas tanahku.” Kalimat itu jatuh seperti batu besar. Di Madinah, tuduhan seperti ini bukan perkara sepele. Bukan hanya soal hak milik— ini menyangkut kehormatan seorang sahabat Nabi ﷺ dan lebih dari itu: keselamatan akhirat. Orang-orang memandang Sa’id. Mereka menunggu pembelaan. Mereka menunggu bantahan keras. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Sa’id gemetar. Bukan karena takut kehilangan nama baik. Bukan karena khawatir dihukum manusia. Ia gemetar karena teringat sabda Rasulullah ﷺ— sabda yang hidup di dalam dadanya, siang dan malam: “Barang siapa mengambil sejengkal tanah secara zalim, niscaya Allah akan mengalungkan tujuh lapis bumi ke lehernya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim) Satu sejengkal. Bukan sebidang luas. Bukan tanah yang mahal. Satu sejengkal saja— cukup untuk menghancurkan seorang hamba di hadapan Allah. Sa’id menunduk. Air mukanya pucat. Ia berkata dengan suara yang tidak keras, namun menusuk: “Ya Allah… jika wanita ini berdusta atas namaku, jika ia menuduhku dengan sesuatu yang tidak aku ambil, maka butakanlah matanya dan wafatkanlah ia di tanah yang ia perebutkan.” Tidak ada makian. Tidak ada sumpah manusia. Hanya penyerahan penuh kepada langit. Waktu berlalu. Dan Madinah menyaksikan sesuatu yang membuat bulu kuduk berdiri. Wanita itu benar-benar kehilangan penglihatannya. Hari-harinya berubah gelap. Langkahnya tak lagi pasti. Hingga suatu hari… ia berjalan di tanah yang ia klaim sebagai miliknya. Tanah yang ia tuduhkan telah dirampas. Ia tidak melihat lubang di hadapannya. Ia terjatuh. Dan di sanalah ia wafat— tepat di tanah yang ia perebutkan. Madinah gemetar. Bukan karena kematian seorang wanita, tetapi karena keputusan Allah yang begitu nyata. Orang-orang berbisik satu sama lain: “Itulah doa Sa’id bin Zaid…” Tidak ada sorak kemenangan. Tidak ada rasa puas. Yang tersisa hanyalah pelajaran yang berat: bahwa kezaliman sekecil apa pun akan diadili oleh Allah— meski manusia menganggapnya remeh. Dan bahwa doa orang yang dizalimi, terlebih seorang hamba yang jujur imannya, tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke langit. Kisah ini diriwayatkan dengan jelas. Dicatat oleh para perawi terpercaya. Dan ditutup dengan pengakuan yang tidak bisa dibantah: Langit telah memutuskan. Jika kisah ini membuat hati bergetar, mari tinggalkan shalawat untuk Rasulullah ﷺ🤍 📌Kisah doa Sa’id bin Zaid رضي الله عنه terhadap wanita yang menuduhnya merampas tanah diriwayatkan secara sahih dalam: HR. Muslim Adapun peringatan Rasulullah ﷺ tentang mengambil sejengkal tanah secara zalim: HR. Bukhari dan Muslim

About