@snedybn10_: Lo que suena cada vez que la toca Lamine😆✨🕺🏾#lamineyamal #yamal #fcbarcelona #lamineyamal💎 #fyp

𝐒𝐍𝐄𝐃𝐘 | 𝐀𝐋𝐄 ★
𝐒𝐍𝐄𝐃𝐘 | 𝐀𝐋𝐄 ★
Open In TikTok:
Region: AR
Saturday 12 September 2026 05:43:10 GMT
85656
24260
124
1210

Music

Download

Comments

laex31
𝐋𝐀𝐄𝐗 :
Reposted Lamine🔜🕺
2026-09-12 07:42:07
19
laith.reslan10
Laith Reslan :
Lamine yamal will repost
2026-09-12 05:57:10
9
laminejamakk0
cumoo&LamineeJ. :
hello shedy br❤️
2026-09-12 07:07:31
0
dilax2472
BLUE🫅🏼 :
que se siente que snedy te saludé
2026-09-12 05:48:33
6
its_jora04
༄ :
firstt
2026-09-12 05:45:22
1
kamilbollatii_
𝓚𝓪𝓶𝓲𝓵𝓵 :
Q aura este editt ✨😮‍💨
2026-09-12 10:57:47
3
mr..champions.leag8
𝐙𝟕𝐗 𝐥 ★ :
sneyde un saludo porfa me gustan tus edits 🕺💫🙏
2026-09-12 05:53:28
3
star09868
loraa_y7 :
Yamal is the best player in the world 😏🤫💙❤️
2026-09-12 07:32:34
0
galvez115
𝗔𝗟𝗘𝗦𝗔𝗡𝗗𝗥𝗢★ :
Que se sentirá que snedy te salude 👊🏽🪄
2026-09-12 06:32:12
1
pdr.vx8
𝓟 :
Snedy no dormís 😭
2026-09-12 05:46:44
1
iamislxm
ISLA〽️ :
el mejor editor de LY 🕺⭐️
2026-09-12 09:51:56
3
To see more videos from user @snedybn10_, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Pernyataan paradoks ini menggambarkan hakikat hubungan ontologis antara manusia (hamba) dan Tuhan (Al-Haqq) dalam makrifatullah. Kalimat ini menyentuh inti ajaran tentang kesadaran Fana'  dan Wahdatul Wujud.  ​Untuk memahami ungkapan ini, para ulama sufi terlebih dahulu membedakan dua kata ganti dalam ungkapan tersebut: • ​ ​1. Bedah Makna Dua Paragraf Utama. ​A. "Jika kamu ada, Aku tiada". ​Dinding Penghalang: Selama seorang manusia masih merasa dirinya "ada" (merasa mampu, merasa berilmu, merasa berkuasa, merasa beribadah, atau mengagungkan egonya), maka keberadaan Aku (Wujud Sejati Allah) menjadi "tiada" dalam kesadaran spiritual manusia tersebut. ​Ilusi Kemutlakan: Ketika "kamu" (ego) mengambil panggung kesadaran, cahaya Ketuhanan tertutupi oleh bayang-bayang ego. Allah tidak terlihat dalam mata hati karena hati dipenuhi oleh rasa "keakuan" hamba. ​B. "Jika kamu tiada, Aku ada". ​Proses Pelenyapan Diri: Ketika manusia berhasil meleburkan dan meniadakan persangkaan egonya—menyadari bahwa dirinya sejatinya adalah ketiadaan yang hanya ada karena didatangkan oleh Allah—maka pada saat itulah "Aku" (Wujud dan Kehadiran Allah) mentajalli (menampakkan diri) secara nyata dalam kesadarannya. ​Fana' dan Baqaa': Inilah tingkatan di mana hamba mengalami Fana' (hancurnya sifat-sifat ke-hambaan yang merasa mandiri) dan memasuki Baqaa' (kekal bersama sifat-sifat Allah). Ketika ego sirna, yang tersisa hanyalah Allah (Lillahi al-Wahid al-Qahhar). ​Pandangan Tauhid Hakiki: Dalam maqam ini, hamba menyadari rahasia kalimat Laa Ilaaha Illallah yang bermakna mendalam: "Laa Mawjuda Illallah" (Tidak ada yang benar-benar Wujud kecuali Allah). > ​2. Konsep-Konsep Kunci Tasawuf yang Terkait. • 1. Tauhid al-Af'al, al-Sifat, dan al-Dzat. - ​Tauhid Af'al: Menghilangkan anggapan bahwa ada perbuatan dari selain Allah. (Tentu bukan berarti tidak berikhtiar, melainkan menyadari daya dan upaya berasal dari-Nya). - ​Tauhid Sifat: Menyadari bahwa pendengaran, penglihatan, dan kekuatan pada diri hamba adalah pinjaman dari sifat-sifat Allah. - ​Tauhid Dzat: Puncak penyadaran bahwa hakikat zat hamba adalah kosong tanpa tiupan ruh dan kurnia wujud dari Allah. • 2. Metafora Bayangan dan Cermin. ​Para sufi seperti Ibn 'Arabi menggambarkan alam semesta dan manusia seperti bayangan dalam cermin: ​Bayangan tidak memiliki keberadaan mandiri. Bayangan hanya "ada" karena ada sosok yang berdiri di depan cermin. ​Jika bayangan mengklaim "Aku ada", itu adalah ilusi. Namun jika bayangan menyadari ketiadaannya, ia memahami bahwa yang ada hanyalah Sosok yang dipantulkan tersebut. > ​3. Tahapan Spiritual untuk Mencapai Penyadaran Ini. • ​Takhalli: Mengikis penyakit hati seperti Ujub, Riya', Takabbur, dan rasa kepemilikan atas amal ibadah. • ​Tahalli: Mengisi hati dengan kesadaran kesederhanaan, penyerahan total, dan kesadaran akan kelemahan diri di hadapan Allah. • ​Tajalli: Hati diterangi oleh cahaya Ma'rifat, sehingga pandangan hatinya tidak lagi tertuju pada makhluk atau egonya sendiri, melainkan senantiasa menyaksikan keagungan Allah (Musyahadah). ​~ Jadi pernyataan "Jika kamu ada, Aku Tiada. Jika kamu tiada, Aku Ada" adalah panggilan transformasi spiritual dari kesadaran Egoistis (Ke-aku-an Hamba) menuju kesadaran Ilahiah (Tauhid Hakiki). ° ​Syarat utama untuk "menemukan" Allah dalam kedalaman jiwa bukanlah dengan menambahkan sesuatu pada diri kita, melainkan dengan mengarahkan ego menuju ketiadaan (Fana'), sehingga yang tersisa dalam ruang hati hanyalah Kehadiran-Nya yang Maha Mutlak. #AngsaPutih 🪿#ponpesjayabaru #tasawuf " width="135" height="240">
Pernyataan paradoks ini menggambarkan hakikat hubungan ontologis antara manusia (hamba) dan Tuhan (Al-Haqq) dalam makrifatullah. Kalimat ini menyentuh inti ajaran tentang kesadaran Fana' dan Wahdatul Wujud. ​Untuk memahami ungkapan ini, para ulama sufi terlebih dahulu membedakan dua kata ganti dalam ungkapan tersebut: • ​"Kamu" (Ego/Diri yang Merasa Ada): Merujuk pada perasaan keakuan manusia (egoismus), persangkaan bahwa diri manusia memiliki wujud yang berdiri sendiri, memiliki kehendak bebas yang terpisah dari Tuhan, serta merasa memiliki kepemilikan dan kehebatan. • ​"Aku" (Al-Haqq / Wujud Mutlak Allah): Merujuk pada Wujud Sejati Allah SWT. Allah adalah Al-Wujud al-Mutlaq, yang mana tiada wujud yang hakiki selain diri-Nya. > ​1. Bedah Makna Dua Paragraf Utama. ​A. "Jika kamu ada, Aku tiada". ​Dinding Penghalang: Selama seorang manusia masih merasa dirinya "ada" (merasa mampu, merasa berilmu, merasa berkuasa, merasa beribadah, atau mengagungkan egonya), maka keberadaan Aku (Wujud Sejati Allah) menjadi "tiada" dalam kesadaran spiritual manusia tersebut. ​Ilusi Kemutlakan: Ketika "kamu" (ego) mengambil panggung kesadaran, cahaya Ketuhanan tertutupi oleh bayang-bayang ego. Allah tidak terlihat dalam mata hati karena hati dipenuhi oleh rasa "keakuan" hamba. ​B. "Jika kamu tiada, Aku ada". ​Proses Pelenyapan Diri: Ketika manusia berhasil meleburkan dan meniadakan persangkaan egonya—menyadari bahwa dirinya sejatinya adalah ketiadaan yang hanya ada karena didatangkan oleh Allah—maka pada saat itulah "Aku" (Wujud dan Kehadiran Allah) mentajalli (menampakkan diri) secara nyata dalam kesadarannya. ​Fana' dan Baqaa': Inilah tingkatan di mana hamba mengalami Fana' (hancurnya sifat-sifat ke-hambaan yang merasa mandiri) dan memasuki Baqaa' (kekal bersama sifat-sifat Allah). Ketika ego sirna, yang tersisa hanyalah Allah (Lillahi al-Wahid al-Qahhar). ​Pandangan Tauhid Hakiki: Dalam maqam ini, hamba menyadari rahasia kalimat Laa Ilaaha Illallah yang bermakna mendalam: "Laa Mawjuda Illallah" (Tidak ada yang benar-benar Wujud kecuali Allah). > ​2. Konsep-Konsep Kunci Tasawuf yang Terkait. • 1. Tauhid al-Af'al, al-Sifat, dan al-Dzat. - ​Tauhid Af'al: Menghilangkan anggapan bahwa ada perbuatan dari selain Allah. (Tentu bukan berarti tidak berikhtiar, melainkan menyadari daya dan upaya berasal dari-Nya). - ​Tauhid Sifat: Menyadari bahwa pendengaran, penglihatan, dan kekuatan pada diri hamba adalah pinjaman dari sifat-sifat Allah. - ​Tauhid Dzat: Puncak penyadaran bahwa hakikat zat hamba adalah kosong tanpa tiupan ruh dan kurnia wujud dari Allah. • 2. Metafora Bayangan dan Cermin. ​Para sufi seperti Ibn 'Arabi menggambarkan alam semesta dan manusia seperti bayangan dalam cermin: ​Bayangan tidak memiliki keberadaan mandiri. Bayangan hanya "ada" karena ada sosok yang berdiri di depan cermin. ​Jika bayangan mengklaim "Aku ada", itu adalah ilusi. Namun jika bayangan menyadari ketiadaannya, ia memahami bahwa yang ada hanyalah Sosok yang dipantulkan tersebut. > ​3. Tahapan Spiritual untuk Mencapai Penyadaran Ini. • ​Takhalli: Mengikis penyakit hati seperti Ujub, Riya', Takabbur, dan rasa kepemilikan atas amal ibadah. • ​Tahalli: Mengisi hati dengan kesadaran kesederhanaan, penyerahan total, dan kesadaran akan kelemahan diri di hadapan Allah. • ​Tajalli: Hati diterangi oleh cahaya Ma'rifat, sehingga pandangan hatinya tidak lagi tertuju pada makhluk atau egonya sendiri, melainkan senantiasa menyaksikan keagungan Allah (Musyahadah). ​~ Jadi pernyataan "Jika kamu ada, Aku Tiada. Jika kamu tiada, Aku Ada" adalah panggilan transformasi spiritual dari kesadaran Egoistis (Ke-aku-an Hamba) menuju kesadaran Ilahiah (Tauhid Hakiki). ° ​Syarat utama untuk "menemukan" Allah dalam kedalaman jiwa bukanlah dengan menambahkan sesuatu pada diri kita, melainkan dengan mengarahkan ego menuju ketiadaan (Fana'), sehingga yang tersisa dalam ruang hati hanyalah Kehadiran-Nya yang Maha Mutlak. #AngsaPutih 🪿#ponpesjayabaru #tasawuf

About