@wf2p4yfmd0: The template in the lower left corner is ready. Upload a photo to make the same video.#capcut #capcutforus #capcutpioneer La plantilla en la esquina inferior izquierda está lista. Sube una foto para crear el mismo vídeo. القالب في الزاوية السفلية اليسرى جاهز. قم بتحميل صورة لصنع نفس الفيديو. Templat di sudut kiri bawah sudah siap. Unggah foto untuk membuat video yang sama Mẫu ở góc dưới trái đã sẵn sàng rồi nè! Chỉ cần tải lên 1 bức ảnh là có thể làm video giống hệt luôn đấy!#ตามจังหวะ

wf2p4yfmd0
wf2p4yfmd0
Open In TikTok:
Region: AU
Saturday 12 September 2026 10:04:03 GMT
3650
243
5
84

Music

Download

Comments

user7384529854787
ود كاشاااات شبلي خطير محمد :
🥰🥰🥰
2026-09-12 12:07:22
0
amidoy4
amidoy :
👍👍👍
2026-09-12 10:12:06
0
sagara3140
sagara :
🥰🥰🥰
2026-09-12 10:10:36
0
youba226naba.de.l
Youba226🔥💥Naba de L'or🇧🇫 :
🥰🥰🥰
2026-09-12 10:08:49
0
user2726619539768
زول لخبات مشتبك :
🥰🥰🥰
2026-09-12 12:50:40
0
To see more videos from user @wf2p4yfmd0, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Komunikasi terakhir Alfonsius Albinus Mehan dengan ibunya, Maria Sukarti Yam, sebelum gugur dalam insiden penembakan di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, menyisakan kenangan mendalam bagi keluarga. Dalam percakapan tersebut, Alfonsius sempat menyampaikan rencana untuk pulang ke Kabupaten Sikka pada Desember 2026. Namun, rencana itu kini tinggal kenangan setelah dokter hewan yang telah hampir sembilan tahun mengabdi di Papua tersebut menjadi korban penembakan pada Rabu (9/9/2026). “Dia telepon bilang, 'Mama, saya mau pulang bulan 12 ini. Saya kerja kumpul uang dulu.’ Dia selalu perhatikan saya, sering kirim uang walau saya bilang tidak usah,” tutur Maria sambil menahan tangis. Suasana duka kini menyelimuti rumah keluarga Alfonsius di Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Maria mengenang putranya sebagai sosok yang baik, peduli dan memiliki jiwa sosial tinggi. “Anak saya itu baik sekali. Dengan warga di situ sangat baik. Dia sudah hampir sembilan tahun bertugas di sana, sejak 2018,” ungkap Maria dengan suara bergetar. Sejak awal, Maria mengaku berat melepas Alfonsius bertugas di Papua karena khawatir dengan kondisi keamanan di wilayah tersebut. Namun, tekad putranya untuk mengabdi membuat Maria akhirnya merelakan kepergiannya. “Waktu itu dia nekat, dia bilang, ‘Mama tidak usah cari tahu, pokoknya Mama doa saja.’ Satu hari penuh kami jalan cari pakaian untuk ke sana, barang-barang di sana kan mahal,” kenangnya. Menurut Maria, Alfonsius juga dikenal sulit menolak ketika ada warga yang membutuhkan bantuan. Sang istri bahkan sempat menceritakan kebiasaan Alfonsius yang selalu sigap menjalankan tugas kemanusiaan. “Istrinya bilang, dia susah dilarang kalau ada yang minta bantuan. Dia pokoknya dari sana kalau orang minta bantuan itu cepat sekali, pagi jam 5 sudah di bandara,” tutur Maria. Sebelum tragedi terjadi, Alfonsius sempat menghubungi Maria untuk meminta sejumlah dokumen keluarga, termasuk surat nikah paroki dan kartu keluarga. Sumber: Tribun Flores
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Komunikasi terakhir Alfonsius Albinus Mehan dengan ibunya, Maria Sukarti Yam, sebelum gugur dalam insiden penembakan di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, menyisakan kenangan mendalam bagi keluarga. Dalam percakapan tersebut, Alfonsius sempat menyampaikan rencana untuk pulang ke Kabupaten Sikka pada Desember 2026. Namun, rencana itu kini tinggal kenangan setelah dokter hewan yang telah hampir sembilan tahun mengabdi di Papua tersebut menjadi korban penembakan pada Rabu (9/9/2026). “Dia telepon bilang, 'Mama, saya mau pulang bulan 12 ini. Saya kerja kumpul uang dulu.’ Dia selalu perhatikan saya, sering kirim uang walau saya bilang tidak usah,” tutur Maria sambil menahan tangis. Suasana duka kini menyelimuti rumah keluarga Alfonsius di Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Maria mengenang putranya sebagai sosok yang baik, peduli dan memiliki jiwa sosial tinggi. “Anak saya itu baik sekali. Dengan warga di situ sangat baik. Dia sudah hampir sembilan tahun bertugas di sana, sejak 2018,” ungkap Maria dengan suara bergetar. Sejak awal, Maria mengaku berat melepas Alfonsius bertugas di Papua karena khawatir dengan kondisi keamanan di wilayah tersebut. Namun, tekad putranya untuk mengabdi membuat Maria akhirnya merelakan kepergiannya. “Waktu itu dia nekat, dia bilang, ‘Mama tidak usah cari tahu, pokoknya Mama doa saja.’ Satu hari penuh kami jalan cari pakaian untuk ke sana, barang-barang di sana kan mahal,” kenangnya. Menurut Maria, Alfonsius juga dikenal sulit menolak ketika ada warga yang membutuhkan bantuan. Sang istri bahkan sempat menceritakan kebiasaan Alfonsius yang selalu sigap menjalankan tugas kemanusiaan. “Istrinya bilang, dia susah dilarang kalau ada yang minta bantuan. Dia pokoknya dari sana kalau orang minta bantuan itu cepat sekali, pagi jam 5 sudah di bandara,” tutur Maria. Sebelum tragedi terjadi, Alfonsius sempat menghubungi Maria untuk meminta sejumlah dokumen keluarga, termasuk surat nikah paroki dan kartu keluarga. Sumber: Tribun Flores

About