@ujangsigarantang_: Pernahkah Anda memperhatikan lukisan atau kisah orang-orang saleh dan bijak zaman dulu? Mereka jarang berteriak, tidak sibuk memproduksi ribuan opini, dan irit kata-kata. Namun saat mereka melangkah masuk ke sebuah ruangan, suasana mendadak hening dan semua orang menaruh segan tanpa rasa takut. Bandingkan dengan era sekarang: orang berlomba-lomba bicara paling keras, paling cepat berkomentar di media sosial, dan menuntut perhatian publik. Sayangnya, semakin bising suara yang dikeluarkan, bobot pengaruhnya justru semakin ringkih. Secara psikologis dan spiritual, wibawa (haibah) sejati tidak pernah lahir dari kelihaian merangkai kalimat. Orang zaman dulu memiliki gravitasi batin yang besar karena tiga rahasia disiplin diri yang hari ini nyaris punah: 1. Menghitung Kata sebagai Bagian dari Amal Bagi generasi terdahulu, lidah bukan alat untuk mencari panggung, melainkan organ yang paling berbahaya bagi keselamatan jiwa. Ulama salaf Fudhail bin 'Iyadh merangkum prinsip ini dengan sangat tajam: "Siapa saja yang memandang ucapannya sebagai bagian dari amal perbuatannya, niscaya perkataannya akan menjadi sedikit, kecuali untuk hal-hal yang benar-benar bermanfaat." Banyak orang kehilangan wibawa karena "inflasi kata-kata". Ketika seseorang terlalu sering berbicara tanpa saringan, nilai setiap ucapannya merosot drastis. Diamnya orang bijak bukan berarti pasif, melainkan sebuah pertahanan sadar agar tidak terpeleset dalam dusta, ghibah, atau riya. 2. Matinya Nafsu Mencari Pengakuan (Khumul) Mengapa orang zaman dulu tampak begitu kokoh dan berwibawa? Karena batin mereka tidak membutuhkan validasi manusia. Orang yang haus pujian biasanya sangat cerewet: mereka gemar memamerkan pencapaian, meninggikan nada bicara saat berdebat, dan gelisah jika pendapatnya tidak didengar. Semua itu adalah tanda ego yang rapuh. Sebaliknya, orang yang sudah menundukkan egonya tidak butuh membuktikan apa pun. Ketenangan batin yang bersandar penuh kepada Allah itulah yang memancarkan aura ketegasan alami yang membuat orang lain menaruh hormat. 3. Selarasnya Hati dan Gerak Lahiriah Dalam tradisi hikmah, wibawa adalah pantulan langsung dari integritas batin. Rasulullah ﷺ pernah bersabda bahwa orang yang menjaga hubungan rahasianya dengan Allah (sarirah), Allah sendiri yang akan mengurus wibawa lahiriahnya ('alaniyyah) di mata manusia. Ketika batin seseorang bersih dari kedengkian, kepalsuan, dan ambisi rendahan, kata-kata yang keluar dari lisannya—meski hanya satu atau dua kalimat—akan menembus langsung ke relung hati pendengarnya. Kata-kata mereka memiliki bobot karena diproduksi dari keheningan tafakur, bukan dari letupan emosi sesaat. Jika ingin perkataan Anda didengar dan dihargai, berhentilah berbicara terlalu banyak. Tundukkan nafsu untuk selalu memberi komentar, jaga lisan saat amarah memuncak, dan bangun kedalaman batin di ruang sunyi. Sebab, bejana yang terisi penuh dengan air tidak akan berisik saat diguncang; hanya bejana kosong yang suaranya memekakkan telinga. #motivation #muslimquotes #fyp #viral #trending

Ujang Sigarantang
Ujang Sigarantang
Open In TikTok:
Region: ID
Saturday 19 September 2026 13:27:13 GMT
18401
836
7
49

Music

Download

Comments

khomar.udin11
Khomar Udin :
alloh
2026-09-20 12:30:38
2
krisnantoatin
abah krisna :
Maha benar Allah dengan segala firmannya
2026-09-20 04:35:47
4
ketuanagasaki
Pais :
subhanallah walhamdulillah wallahu'akbar🥺
2026-09-22 13:11:02
1
makindoank322
Jaka kelana :
hilangkan pengakuan terhadap makhluk untuk merasakan nikmatnya kesendirian
2026-09-20 00:59:36
2
hendri.hendry67
Hendry 🍁 :
Urip sik biasa wae, pokoke los ..
2026-09-26 22:35:41
1
narul605
narul :
manusia dahulu perkataan dan tingkah laku'y sama2 baik kalau jaman skrng perkataan dan tingkah laku berbeda kelakuan mungkin sangat jauh berbeda........
2026-10-05 07:00:52
1
firman.yamaha.mar
firman yamaha maros :
menarik 🥰
2026-09-27 12:34:18
1
To see more videos from user @ujangsigarantang_, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos


About