@abimuhajir_10: “Sesungguhnya seorang ahli surga itu memiliki empat ciri yakni : 1️⃣ wajah yang berseri-seri 2️⃣ kata-kata yang lembut 3️⃣ hati yang penyayang 4️⃣ tangan yang gemar memberi” Al-Imam Ja'far Ash-Shaddiq radhiyallahu 'anhu Hilyatul Auliya Juz 8 hal 216 #Ngaji #Santri #KitabKuning #PositiveVibes #MotivasiIslam

Ariffahmi2308
Ariffahmi2308
Open In TikTok:
Region: ID
Sunday 13 September 2026 14:49:25 GMT
1840
67
1
19

Music

Download

Comments

diraegeun40
Dira Egeun40 :
subhanallah 😭😭😭
2026-09-14 02:54:02
1
To see more videos from user @abimuhajir_10, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Makna Tembang Bedhaya Ketawang Bedhaya Ketawang merupakan tembang sakral yang mengiringi tarian pusaka Keraton Kasunanan Surakarta dan menjadi salah satu karya sastra adiluhung dalam tradisi Jawa.  Secara etimologis, Bedhaya berarti tarian yang dibawakan oleh para penari putri keraton, sedangkan Ketawang berasal dari kata tawang, yang berarti langit atau kahyangan.  Oleh karena itu, Bedhaya Ketawang dimaknai sebagai “Tarian Suci dari Kahyangan” atau “Tarian dari Langit”, yang melambangkan kesucian, keagungan, dan perjalanan spiritual manusia. Isi tembang Bedhaya Ketawang sarat dengan ajaran filsafat dan spiritualitas Jawa.  Setiap baitnya bukan hanya menghadirkan keindahan bahasa, tetapi juga mengandung pesan moral tentang hakikat kehidupan, pengendalian diri, keselarasan batin, serta hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Salah satu bait yang paling dikenal berbunyi: “Yen mati pundi surupe, Kyai?” yang berarti: “Apabila telah mati, ke manakah tujuan akhir manusia, Kyai?” Pertanyaan tersebut bukan sekadar membahas kematian secara jasmani, melainkan menjadi renungan mendalam mengenai asal-usul dan tujuan akhir kehidupan.  Dalam falsafah Jawa, perenungan ini dikenal sebagai sangkan paraning dumadi, yaitu kesadaran bahwa manusia berasal dari Tuhan dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.  Kematian dipahami bukan sebagai akhir dari keberadaan, melainkan sebagai kembalinya jiwa kepada asalnya. Melalui syair-syair yang penuh simbol dan kiasan, tembang Bedhaya Ketawang mengajarkan agar manusia tidak terlena oleh gemerlap kehidupan dunia.  Sebaliknya, manusia diajak untuk senantiasa hidup dengan kebajikan, menjaga keselarasan dengan sesama, alam, dan Tuhan, serta mempersiapkan diri menuju perjalanan akhir kehidupan.  Itulah sebabnya Bedhaya Ketawang tidak hanya dipandang sebagai karya seni, melainkan juga sebagai warisan budaya yang menyimpan nilai-nilai spiritual, etika, dan filsafat Jawa yang luhur. #horrormedia #bedhayaketawang  #jawa #ghost #surakarta
Makna Tembang Bedhaya Ketawang Bedhaya Ketawang merupakan tembang sakral yang mengiringi tarian pusaka Keraton Kasunanan Surakarta dan menjadi salah satu karya sastra adiluhung dalam tradisi Jawa. Secara etimologis, Bedhaya berarti tarian yang dibawakan oleh para penari putri keraton, sedangkan Ketawang berasal dari kata tawang, yang berarti langit atau kahyangan. Oleh karena itu, Bedhaya Ketawang dimaknai sebagai “Tarian Suci dari Kahyangan” atau “Tarian dari Langit”, yang melambangkan kesucian, keagungan, dan perjalanan spiritual manusia. Isi tembang Bedhaya Ketawang sarat dengan ajaran filsafat dan spiritualitas Jawa. Setiap baitnya bukan hanya menghadirkan keindahan bahasa, tetapi juga mengandung pesan moral tentang hakikat kehidupan, pengendalian diri, keselarasan batin, serta hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Salah satu bait yang paling dikenal berbunyi: “Yen mati pundi surupe, Kyai?” yang berarti: “Apabila telah mati, ke manakah tujuan akhir manusia, Kyai?” Pertanyaan tersebut bukan sekadar membahas kematian secara jasmani, melainkan menjadi renungan mendalam mengenai asal-usul dan tujuan akhir kehidupan. Dalam falsafah Jawa, perenungan ini dikenal sebagai sangkan paraning dumadi, yaitu kesadaran bahwa manusia berasal dari Tuhan dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya. Kematian dipahami bukan sebagai akhir dari keberadaan, melainkan sebagai kembalinya jiwa kepada asalnya. Melalui syair-syair yang penuh simbol dan kiasan, tembang Bedhaya Ketawang mengajarkan agar manusia tidak terlena oleh gemerlap kehidupan dunia. Sebaliknya, manusia diajak untuk senantiasa hidup dengan kebajikan, menjaga keselarasan dengan sesama, alam, dan Tuhan, serta mempersiapkan diri menuju perjalanan akhir kehidupan. Itulah sebabnya Bedhaya Ketawang tidak hanya dipandang sebagai karya seni, melainkan juga sebagai warisan budaya yang menyimpan nilai-nilai spiritual, etika, dan filsafat Jawa yang luhur. #horrormedia #bedhayaketawang #jawa #ghost #surakarta

About