Language
English
عربي
Tiếng Việt
русский
français
español
日本語
한글
Deutsch
हिन्दी
简体中文
繁體中文
API
Home
How To Use
Language
English
عربي
Tiếng Việt
русский
français
español
日本語
한글
Deutsch
हिन्दी
简体中文
繁體中文
Home
Detail
@lood_0: اوف 😍🤍#explore #عسير #fypシ゚viral #خميس_مشيط #باتونيا
وليد الفيفي 🫀
Open In TikTok:
Region: SA
Tuesday 15 September 2026 19:40:51 GMT
46426
90
4
21
Music
Download
No Watermark .mp4 (
3.76MB
)
No Watermark(HD) .mp4 (
5.26MB
)
Watermark .mp4 (
6.5MB
)
Music .mp3
Comments
غيمة :
في كود خصم في متجرهم ؟
2026-09-16 23:11:53
0
🖇️ :
أسعارهم ناروين التخفيضات ٢٤٩ريال
2026-09-16 19:51:07
0
نبيل ا الزهراني |عسير 📸 ⛰️ :
الشنطة اخذتها بـ ٤٩٠ والله خصمها جباااار
2026-09-16 17:03:44
0
user278904173 :
😁😄😃
2026-09-16 18:20:56
0
To see more videos from user @lood_0, please go to the Tikwm homepage.
Other Videos
67 🔥🔥#dunknatachai #joongdunk #joongarchen #joongdunk
Tilam ni memang soft dan best sangat #tilam #bed #mattress #tilammurah #tilamviral
#CapCut
Angin gurun meniup lembut pasir Hudaibiyah. Hari itu, Madinah dan Mekkah terikat oleh sebuah perjanjian berat yg kelak mengubah arah sejarah: Perjanjian Hudaibiyah. Di antara pasal-pasalnya, ada satu yg menusuk hati kaum muslimin—siapa pun yg datang dari Mekkah ke Madinah harus dikembalikan, meski ia datang sebagai Muslim yg disiksa. Ketika tinta perjanjian itu belum sepenuhnya kering, seorang lelaki berwajah tegar berlari menembus padang pasir. Nafasnya tak beraturan, jubahnya compang-camping, matanya penuh harapan. Dialah Abu Basir, seorang Muslim yg dibelenggu oleh Quraisy karena imannya. Ia berhasil lolos dari Mekkah, namun saat tiba di perkemahan Nabi ﷺ, dua utusan Quraisy menyusul. “Wahai Muhammad,” kata mereka, “ini Abu Basir. Sesuai perjanjian, engkau harus mengembalikannya.” Para sahabat terdiam. Abu Basir memohon tanpa suara. “Ya Rasulullah… selamatkan aku. Mereka akan menyiksaku. Aku hanya ingin beriman.” Nabi ﷺ menatapnya dengan penuh kasih. Suara beliau lembut namun tegas demi maslahat umat: “Wahai Abu Basir, bersabarlah. Allah akan membuat untukmu dan mereka yg sepertimu kelapangan dan jalan keluar.” Air mata Abu Basir jatuh, namun ia tidak membantah. Dengan tubuh lemah, ia berjalan bersama dua penjaga Quraisy membawa kembali rantai-rantai penindasan. Setelah perjalanan meninggalkan Hudaibiyah, mereka singgah di suatu tempat untuk beristirahat. Salah satu penjaga Quraisy, merasa yakin bahwa Abu Basir kini tak berdaya, meletakkan pedangnya di dekatnya sambil sombong berkata: “Aku adalah orang yg paling gagah di antara Quraisy. Lihat pedangku… betapa tajamnya.” Abu Basir menatap pedang itu. Hatinya bergolak—antara hidup dan mati, antara kembali disiksa atau melawan. Dengan suara datar ia berkata: “Benarkah pedangmu setajam itu?” Penjaga itu tertawa puas. “Tentu saja.” Abu Basir mendekat perlahan. “Bolehkah aku melihatnya?” Tanpa curiga, musuh itu menyerahkan pedangnya. Dengan kecepatan yg lahir dari putus asa dan iman yg tak mau dihancurkan, Abu Basir mengayunkan pedang itu. Satu hentakan, dan penjaga Quraisy itu tersungkur tak bernyawa. Penjaga yg lain melarikan diri ketakutan, langsung menuju Madinah. Tak lama kemudian, penjaga itu tiba di Masjid Nabawi sambil berteriak: “Wahai Muhammad! Abu Basir telah membunuh temanku!” Dan tak lama berselang, Abu Basir menyusul, dengan wajah tegas namun penuh gelisah. Ia berdiri di hadapan Nabi ﷺ. Ia berkata: “Ya Rasulullah… engkau telah menunaikan perjanjian kepada mereka. Engkau telah membebaskan diri dariku. Demi Allah, aku tidak akan membiarkan mereka menangkapku lagi.” Nabi ﷺ memandangnya dengan penuh rasa sedih, namun juga memahami keteguhan imannya. Beliau bersabda: “Celakalah ibunya, ia adalah penyulut perang—andai saja ia memiliki penolong.” Kalimat yang dimaksud Nabi ﷺ bukan celaan, melainkan isyarat: Abu Basir adalah lelaki berani yang hanya butuh tempat untuk bertahan. Abu Basir mengerti. Ia tidak menetap di Madinah, karena itu melanggar perjanjian. Ia juga tidak kembali ke Mekkah. Ia memilih jalan ketiga—ke arah pantai Laut Merah, menuju daerah ’Is, jalur perdagangan Quraisy. Kabar keberanian Abu Basir tersebar cepat di Mekkah. Muslim-muslim yg disiksa pun mulai kabur, satu per satu bergabung bersamanya. kelompok kecil ini tumbuh menjadi pasukan gerilya Muslim. Mereka tidak menyerang Mekkah. Mereka hanya menghadang kafilah Quraisy yang melewati jalur itu. Quraisy panik. Perdagangan mereka terancam. Tak ada hari yang aman bagi kafilah yang melewati daerah Abu Basir. Akhirnya mereka mengirim surat kepada Nabi ﷺ: “Wahai Muhammad… demi Allah, ambillah orang-orang itu ke Madinah. Kami mencabut pasal perjanjian itu. Kami tidak sanggup menghadapi mereka.” Allah menepati janji-Nya. Muslim yang tertindas akhirnya bebas berhijrah tanpa rintangan. Namun Abu Basir tidak sempat melihat akhir dari perjuangan panjangnya. ia wafat di tepi pantai sebelum perintah pengampunan itu sampai kepadanya. Ia wafat sebagai lelaki merdeka, dengan iman yang tegak, dengan kehormatan yang tidak bisa dipatahkan Quraisy.
#flowers #fyp #xyzbca
About
Robot
API
Legal
Privacy Policy