@nstonline: #NSTTV Minister in the Prime Minister's Department (Federal Territories) Hannah Yeoh said her input on former prime minister Datuk Seri Najib Razak's pardon application was honest and guided by her conscience. Yeoh said she shared her views with the nation's best interests in mind, after considering the Attorney-General's written opinion at the Federal Territories Pardons Board meeting last Friday. "As a member of the Pardons Board and having considered the written opinion of the Attorney-General, I have provided my views in my capacity as the Minister responsible for the federal territories at the official meeting of the Pardons Board held last Friday, Sept 11," she said in a statement. #NSTTV #MalaysiaNews

NSTonline
NSTonline
Open In TikTok:
Region: MY
Wednesday 16 September 2026 05:32:09 GMT
11663
205
28
24

Music

Download

Comments

asalamalikum3
Asalamalikum :
best and I agree . corrupt leaders should not be given keampunan. this mokery of law.billions the rakyat have to pay by personal tax. hell with this corrupt politicians.
2026-09-16 05:42:18
24
jimmyfalkon7
jimmyfalkon7 :
Crooks gets Pardons
2026-09-16 05:44:36
7
carol.alexander78
Carol Alexander :
Excuse me, The press conference / announcement taken wrong action to speak. Anak Rakyat/ People see GAP/ no mature while in line at work for Advising work. So, Rakan Cope, should encourage writing report/ for easy for new/ future/ hope ??
2026-09-16 11:30:41
0
pengembara0007
Pengembara0007 :
u are the best yb
2026-09-16 06:48:03
6
gary.yong5
Gary Yong :
Our prayers are answered. Tq YB Hannah & our beloved Agong
2026-09-16 13:13:44
3
looenghong2014
looenghong2014 :
The Best Agong.
2026-09-16 08:46:56
4
vijayson16
Vijayson :
good job 👍
2026-09-16 05:48:32
11
margaret.phang
God is with me :
Agung's decision
2026-09-16 07:16:00
3
vki_siva
Vki :
No fear
2026-09-16 12:33:49
1
alan_topboy
Alan@topman :
2026-09-16 11:30:23
2
simon.saimee.sama
Say Mee. :
Ampun kanlah. Boleh la kot with certain syarat yang ketat
2026-09-16 13:29:30
1
sham73586
sham :
among the best ministers...YB Hannah
2026-09-16 06:50:56
4
speaktruthpower
SPEAKTRUTH :
SHE IS OBVIOUSLY A VERY CONSCIENTIOUS PERSON. SHE ONCE SAID THE PM AND THE FINANCE MINISTER SHOULD NOT BE THE SAME PERSON WHEN NAJIB WAS PM. HOW IS HER CONSCIENCE DOING NOW WHEN SHE SITS IN A CABINET WHERE THE PM AND FINANCE MINISTER IS ANWAR???
2026-09-16 08:01:05
1
arba00279
15usuien :
Very expedient placement by the govt. DAP's conscience is clearly executed!
2026-09-16 06:26:54
0
patches18
patches :
Have all the money he had stolen been recovered by the government. Or his family, children sre enjoying it.
2026-09-16 13:21:22
1
kumanee
Angel Star :
Fair decision from Agong
2026-09-16 16:44:17
0
henry38385
HL :
🤣🤣🤣 be come black sheep 🐑
2026-09-16 16:52:45
0
juarameru2236
Juarameru2236 :
No need to explain. No one has explained before. All p& C
2026-09-16 08:31:21
0
jmes_611
NameSake :
2026-09-16 22:56:25
0
jeperedi777
Jep :
agong cannot pardon without unanimous decisions by other board members. agong just do the formalities by signing the order.
2026-09-16 06:31:47
0
sarasaroja96
Sarasaroja :
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🇲🇾🇲🇾🇲🇾🇲🇾🇸🇬🇸🇬🇸🇬🇸🇬💷💷💷💷💷💷💷
2026-09-16 05:34:18
0
chi.tuh.ke
TOK TOK :
Parti parti politik gaduh rebut kuasa utk CURI CURI CURI duit negara.
2026-09-16 12:41:43
0
ried622
Ried :
The PENYAMUNS wants ALI BABA out so badly and there must be a reason ?????
2026-09-16 08:10:56
0
To see more videos from user @nstonline, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Di suatu hari yang tenang di Madinah, suasana Masjid dipenuhi oleh para sahabat. Cahaya matahari masuk lembut dari celah-celah dinding, menyinari mimbar tempat berdirinya sosok yang paling mereka cintai: Nabi Muhammad ﷺ. Beliau naik ke atas mimbar. Wajahnya teduh, namun ada sesuatu yang berbeda—sebuah ketenangan yang terasa lebih dalam, seakan mengandung pesan yang tak biasa. Dengan suara yang lembut namun penuh makna, beliau bersabda: “Sesungguhnya ada seorang hamba yang Allah beri pilihan: antara dunia dengan segala keindahan dan kenikmatannya, atau apa yang ada di sisi Allah. Maka hamba itu memilih apa yang ada di sisi Allah.” Para sahabat terdiam. Mereka mendengarkan, namun belum sepenuhnya memahami. Kalimat itu terasa seperti perumpamaan—sebuah kisah tentang seseorang yang tak mereka kenal. Namun tiba-tiba… Terdengar suara tangis yang pecah di tengah keheningan. Itu adalah tangisan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Air matanya jatuh deras. Dadanya bergetar. Dengan suara yang tertahan, ia berkata: “Demi ayah dan ibuku, kami tebus engkau, wahai Rasulullah…” Para sahabat saling berpandangan. Mereka heran. Mengapa Abu Bakar menangis? Mengapa ia begitu emosional atas kisah yang tampaknya hanya perumpamaan? Sebagian bahkan berbisik: “Lihatlah orang tua ini… Rasulullah hanya menceritakan tentang seorang hamba, tapi ia malah menangis seperti ini…” Namun mereka tidak tahu. Mereka belum mengerti. Bahwa “hamba” yang dimaksud bukanlah orang lain… Itu adalah Rasulullah sendiri. Dan Abu Bakar… adalah satu-satunya yang langsung memahami. Hatinya yang paling dekat, cintanya yang paling dalam, membuatnya menangkap makna yang tersembunyi. Ia sadar—ini bukan sekadar cerita. Ini adalah isyarat. Isyarat bahwa Rasulullah ﷺ sedang diberi pilihan oleh Allah… Dan beliau memilih untuk kembali kepada-Nya. Itulah sebabnya Abu Bakar menangis. Bukan karena lemah. Tapi karena ia paling paham… bahwa perpisahan itu sudah dekat. Rasulullah ﷺ kemudian melanjutkan sabdanya, seakan menegaskan kedudukan sahabat yang menangis itu: “Sesungguhnya orang yang paling banyak jasanya kepadaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar…” Para sahabat kembali terdiam. Kali ini, bukan karena bingung. Tapi karena mulai menyadari betapa dalam hubungan di antara mereka. Rasulullah ﷺ melanjutkan: “Seandainya aku boleh mengambil seorang khalil (sahabat yang sangat dekat) dari umatku, pasti aku akan mengambil Abu Bakar. Namun yang ada adalah ukhuwah Islam.” Kalimat itu menggema di dalam hati mereka. Betapa tinggi kedudukan Abu Bakar… Bukan hanya karena amalnya. Tapi karena hatinya. Hati yang mampu memahami Rasulullah bahkan sebelum kata-kata itu dijelaskan. Kemudian Rasulullah ﷺ memberikan perintah yang penuh makna simbolis: “Jangan ada pintu (ke masjid) yang tersisa terbuka, kecuali pintu Abu Bakar.” Itu bukan sekadar tentang pintu. Itu adalah penegasan. Tentang kedekatan. Tentang kepercayaan. Tentang seseorang yang akan berdiri paling depan setelah Rasulullah tiada. Hari itu, sebagian sahabat pulang dengan kebingungan. Namun Abu Bakar pulang dengan hati yang remuk. Karena ia tahu… Dunia ini sebentar lagi akan kehilangan cahaya terbesarnya. Dan benar saja… Tak lama setelah itu, Rasulullah ﷺ benar-benar berpulang kepada Allah. Dan saat seluruh Madinah terguncang oleh kesedihan… Abu Bakar berdiri tegar. Karena sejak hari itu di atas mimbar… Ia sudah lebih dulu belajar menerima. Kalau kisah ini menyentuh hatimu, jangan lewatkan kesempatan untuk bershalawat hari ini… Tulis di kolom komentar ya🤍 Allahumma Shalli ‘ala Muhammad✨🌙 Semoga kita termasuk umat yang kelak dikumpulkan bersama beliau🥹 📚Sumber Hadis: HR. Sahih al-Bukhari No. 3904, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu.
Di suatu hari yang tenang di Madinah, suasana Masjid dipenuhi oleh para sahabat. Cahaya matahari masuk lembut dari celah-celah dinding, menyinari mimbar tempat berdirinya sosok yang paling mereka cintai: Nabi Muhammad ﷺ. Beliau naik ke atas mimbar. Wajahnya teduh, namun ada sesuatu yang berbeda—sebuah ketenangan yang terasa lebih dalam, seakan mengandung pesan yang tak biasa. Dengan suara yang lembut namun penuh makna, beliau bersabda: “Sesungguhnya ada seorang hamba yang Allah beri pilihan: antara dunia dengan segala keindahan dan kenikmatannya, atau apa yang ada di sisi Allah. Maka hamba itu memilih apa yang ada di sisi Allah.” Para sahabat terdiam. Mereka mendengarkan, namun belum sepenuhnya memahami. Kalimat itu terasa seperti perumpamaan—sebuah kisah tentang seseorang yang tak mereka kenal. Namun tiba-tiba… Terdengar suara tangis yang pecah di tengah keheningan. Itu adalah tangisan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Air matanya jatuh deras. Dadanya bergetar. Dengan suara yang tertahan, ia berkata: “Demi ayah dan ibuku, kami tebus engkau, wahai Rasulullah…” Para sahabat saling berpandangan. Mereka heran. Mengapa Abu Bakar menangis? Mengapa ia begitu emosional atas kisah yang tampaknya hanya perumpamaan? Sebagian bahkan berbisik: “Lihatlah orang tua ini… Rasulullah hanya menceritakan tentang seorang hamba, tapi ia malah menangis seperti ini…” Namun mereka tidak tahu. Mereka belum mengerti. Bahwa “hamba” yang dimaksud bukanlah orang lain… Itu adalah Rasulullah sendiri. Dan Abu Bakar… adalah satu-satunya yang langsung memahami. Hatinya yang paling dekat, cintanya yang paling dalam, membuatnya menangkap makna yang tersembunyi. Ia sadar—ini bukan sekadar cerita. Ini adalah isyarat. Isyarat bahwa Rasulullah ﷺ sedang diberi pilihan oleh Allah… Dan beliau memilih untuk kembali kepada-Nya. Itulah sebabnya Abu Bakar menangis. Bukan karena lemah. Tapi karena ia paling paham… bahwa perpisahan itu sudah dekat. Rasulullah ﷺ kemudian melanjutkan sabdanya, seakan menegaskan kedudukan sahabat yang menangis itu: “Sesungguhnya orang yang paling banyak jasanya kepadaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar…” Para sahabat kembali terdiam. Kali ini, bukan karena bingung. Tapi karena mulai menyadari betapa dalam hubungan di antara mereka. Rasulullah ﷺ melanjutkan: “Seandainya aku boleh mengambil seorang khalil (sahabat yang sangat dekat) dari umatku, pasti aku akan mengambil Abu Bakar. Namun yang ada adalah ukhuwah Islam.” Kalimat itu menggema di dalam hati mereka. Betapa tinggi kedudukan Abu Bakar… Bukan hanya karena amalnya. Tapi karena hatinya. Hati yang mampu memahami Rasulullah bahkan sebelum kata-kata itu dijelaskan. Kemudian Rasulullah ﷺ memberikan perintah yang penuh makna simbolis: “Jangan ada pintu (ke masjid) yang tersisa terbuka, kecuali pintu Abu Bakar.” Itu bukan sekadar tentang pintu. Itu adalah penegasan. Tentang kedekatan. Tentang kepercayaan. Tentang seseorang yang akan berdiri paling depan setelah Rasulullah tiada. Hari itu, sebagian sahabat pulang dengan kebingungan. Namun Abu Bakar pulang dengan hati yang remuk. Karena ia tahu… Dunia ini sebentar lagi akan kehilangan cahaya terbesarnya. Dan benar saja… Tak lama setelah itu, Rasulullah ﷺ benar-benar berpulang kepada Allah. Dan saat seluruh Madinah terguncang oleh kesedihan… Abu Bakar berdiri tegar. Karena sejak hari itu di atas mimbar… Ia sudah lebih dulu belajar menerima. Kalau kisah ini menyentuh hatimu, jangan lewatkan kesempatan untuk bershalawat hari ini… Tulis di kolom komentar ya🤍 Allahumma Shalli ‘ala Muhammad✨🌙 Semoga kita termasuk umat yang kelak dikumpulkan bersama beliau🥹 📚Sumber Hadis: HR. Sahih al-Bukhari No. 3904, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu.

About