@susanty.mei:

❤️Susanty.mei💝
❤️Susanty.mei💝
Open In TikTok:
Region: ID
Wednesday 16 September 2026 07:33:57 GMT
557
30
19
3

Music

Download

Comments

aguschang2601
Agus Chang😎 :
Selamat Malam Cecan 🥰🥰🥰👍👍👍
2026-09-16 13:24:24
1
unagi126
Jesyka :
Wan an cecansayku nice caption 🥰🥰🥰🩷🩷🩷
2026-09-17 11:16:38
0
lanny_paulsimon
𝐋𝐚𝐧𝐧𝐲💞𝐏𝐚𝐮𝐥𝐬𝐢𝐦𝐨𝐧 :
Selamat siang sayanggg 🥰🥰🥰🌺🌺🌺🙏🙏🙏
2026-09-17 04:31:25
0
mey_lie88
Mey_lie88 :
selamat sore.. Cc cayang😘😘
2026-09-16 09:27:08
0
linacen5
STL-Lina-丽娜 🪷🪷🪷 :
sore cecan 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2026-09-16 07:47:08
0
rikoagustuslim
Riko agustuslim :
2026-09-18 10:31:07
0
carina_pontianak
carina_liem :
2026-09-17 05:19:08
0
apin6256
Drama lintas :
👍👍
2026-09-16 12:50:32
0
llw1717
LLW🌷 :
🥰🥰🥰
2026-09-17 12:37:49
0
To see more videos from user @susanty.mei, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Di sebuah sudut tenang di Kampung Gelam, Daik, Kabupaten Lingga, dapur sederhana milik Maryam (72), menjadi saksi hidup tradisi kuliner yang tak lekang oleh waktu. Sore itu, asap tipis perlahan membumbung keluar dari celah ventilasi dapur beratap daun, mengisyaratkan aktivitas yang telah berlangsung puluhan tahun. Begitu melangkah masuk, aroma harum langsung menyergap. Lantainya yang mulai retak dan dinding papan yang sederhana tak mengurangi hangatnya suasana. Justru dari tempat inilah lahir roti bakar yang telah dikenal luas, bahkan hingga ke luar daerah.  Di salah satu sudut, kayu-kayu bakar tersusun rapi, siap memberi nyala pada tungku tradisional yang menjadi jantung dari proses memasak. Di atas tungku, sebuah panci besar bertengger, di dalamnya puluhan roti tersusun rapi. Uniknya, bukan hanya bagian bawah yang dipanaskan, tetapi bagian atas panci juga ditutup dengan bara api dari kayu dan sabut kelapa. Metode memasak tradisional ini menciptakan panas merata, menghasilkan roti dengan kematangan sempurna sekaligus aroma khas yang sulit ditiru. Dengan cekatan, Lansia yang dikenal dengan sapaan Nek Yam sesekali mengatur kayu bakar, memastikan bara tetap menyala stabil.  Tak butuh waktu lama, sekitar lima menit roti-roti itu pun matang, lalu diangkat dan dipindahkan ke
Di sebuah sudut tenang di Kampung Gelam, Daik, Kabupaten Lingga, dapur sederhana milik Maryam (72), menjadi saksi hidup tradisi kuliner yang tak lekang oleh waktu. Sore itu, asap tipis perlahan membumbung keluar dari celah ventilasi dapur beratap daun, mengisyaratkan aktivitas yang telah berlangsung puluhan tahun. Begitu melangkah masuk, aroma harum langsung menyergap. Lantainya yang mulai retak dan dinding papan yang sederhana tak mengurangi hangatnya suasana. Justru dari tempat inilah lahir roti bakar yang telah dikenal luas, bahkan hingga ke luar daerah. Di salah satu sudut, kayu-kayu bakar tersusun rapi, siap memberi nyala pada tungku tradisional yang menjadi jantung dari proses memasak. Di atas tungku, sebuah panci besar bertengger, di dalamnya puluhan roti tersusun rapi. Uniknya, bukan hanya bagian bawah yang dipanaskan, tetapi bagian atas panci juga ditutup dengan bara api dari kayu dan sabut kelapa. Metode memasak tradisional ini menciptakan panas merata, menghasilkan roti dengan kematangan sempurna sekaligus aroma khas yang sulit ditiru. Dengan cekatan, Lansia yang dikenal dengan sapaan Nek Yam sesekali mengatur kayu bakar, memastikan bara tetap menyala stabil. Tak butuh waktu lama, sekitar lima menit roti-roti itu pun matang, lalu diangkat dan dipindahkan ke "Badang", sebuah wadah tradisional. Hangatnya masih terasa, mengundang siapa saja untuk segera mencicipi. Roti bakar buatan Nek Yam bukan sekadar makanan biasa. Di Daik Lingga, nama roti bakar sudah begitu dikenal.

About