@ficqwoodworking: #crifts #like #followers #viraltiktok #foryou

craft my hobby
craft my hobby
Open In TikTok:
Region: US
Wednesday 16 September 2026 08:20:42 GMT
5407
11
1
0

Music

Download

Comments

daniela.teren
Daniela Teren :
😰
2026-09-16 10:29:33
0
To see more videos from user @ficqwoodworking, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Takdir Yang Bertaut 2 Setahun berselang, malam merayap lambat di rumah sederhana berdinding tembok berlapis keramik dingin. Pendar lampu lima watt di ruang tamu menangkap kepulan tipis asap rokok yang membubung dari sela jemari Ayah. Pria paruh baya itu duduk bersila di atas karpet tipis, matanya menatap tajam jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh. Urat-urat di pelipisnya menegang, menahan letih seharian bekerja sebagai tukang bangunan, berpadu dengan gulana kepala yang tak pernah tenang.  Suara gerbang besi digeser kasar dari luar. Diki—kakak Hasya—melangkah masuk dengan bau alkohol yang menyengat dari jaketnya. Langkahnya terhuyung.
Takdir Yang Bertaut 2 Setahun berselang, malam merayap lambat di rumah sederhana berdinding tembok berlapis keramik dingin. Pendar lampu lima watt di ruang tamu menangkap kepulan tipis asap rokok yang membubung dari sela jemari Ayah. Pria paruh baya itu duduk bersila di atas karpet tipis, matanya menatap tajam jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh. Urat-urat di pelipisnya menegang, menahan letih seharian bekerja sebagai tukang bangunan, berpadu dengan gulana kepala yang tak pernah tenang. Suara gerbang besi digeser kasar dari luar. Diki—kakak Hasya—melangkah masuk dengan bau alkohol yang menyengat dari jaketnya. Langkahnya terhuyung. "Baru pulang jam segini?!" bentak Ayah, suaranya menghantam ruang tamu. "Diki dari rumah teman, Yah. Main sebentar." "Main?! Kamu habis minum, ya?! Bau mulutmu busuk begitu!" Ayah berdiri, menuding dengan jari kasar. "Nggak usah nuduh yang nggak-nggak, Yah!" Diki mengelak dengan suara serak, mencoba melangkah melewati ayahnya. "Mau jadi apa kamu, hah?!" Ayah mencengkeram kuat bahu Diki, memaksanya berbalik menghadap. "Bukannya cari kerja, bantu ekonomi keluarga, malah keluyuran nggak jelas bergaul sama preman jalanan! Mau jadi anak yang nggak punya masa depan?! Tujuan hidup mu mau Jadi sampah masyarakat hah?!" "Lepas, Yah!" Diki menghempas kasar tangan ayahnya. "Emang peduli apa Ayah sama aku?! Dari dulu yang Ayah tahu cuma nuntut! Harus jadi ini, harus jadi itu! Ayah nggak pernah ngeliat aku berusaha, yang Ayah tahu cuma mencaci maki kalau aku salah!" "Ayah begini karena Ayah sayang sama kamu!" Ayah kembali membentak Isak Mamah pecah dari dapur. Ia berlari, wajah pias. "Udah, Yah! Diki, Malu sama tetangga!" Tepat saat itu, derit pagar depan terdengar. Tiga kali ketukan di pintu utama. "Assalamualaikum..." suara lembut Hasya dari balik pintu. Suasana hening beberapa detik. Ayah menurunkan tangan. Diki membuang muka. Mamah buru-buru mengusap air mata dan membuka pintu. Hasya berdiri dengan senyum lebar, ransel di bahu dan brosur Pesantren Al-Basir di tangan. "Mamah... tadi kata Rani kalau daftar sekarang bisa—" Kalimatnya tercekat. Senyumnya hilang saat mencium aroma alkohol dan rokok yang pekat. Brosur di tangannya terasa berat. Ayah menoleh. Amarahnya melunak melihat anak bungsunya. "Dari mana, Dek?" Hasya meremas ujung brosur. "Aku... baru pulang perpisahan, Yah. Tadi Ayah nyuruh pulang cepat..." Ayah menghela napas, memijat kening. Diki melewatinya dan membanting pintu kamar. Hasya mengangkat brosur dengan tangan bergetar. "Yah... ini brosur Pesantren Al-Basir. Besok terakhir pendaftaran. Kalau ada rezeki... aku pengin mondok..." Ayah menatap lama. Ia mengusap wajahnya. "Dedek... Bukannya Ayah nggak mau nurutin keinginan kamu buat mondok... tapi coba kamu lihat sendiri kondisi ekonomi kita. Ayah capek, Dek. Tiap hari kerja banting tulang buat nutupin kebutuhan, tapi rasanya nggak pernah cukup." Mamah mengelus punggung Hasya pelan, meredam getar ketakutan gadis itu. "Biaya masuk pesantren itu jutaan, Dek. Kalau Ayah paksain, uang dari mana? Mau ngutang ke siapa lagi? Ayah pusing, Dek." Hasya menelan ludah mentah-mentah. Tenggorokannya tercekat, air matanya menggenang. Di balik sifat keras Ayah, ia tahu lelaki itu sedang berdarah-darah memikul beban keluarga. "Maafin Ayah, Dek," ucap Ayah pelan. "Untuk sekarang... urungkan dulu niat mondokmu. Lanjut SMA di kampung aja ya. Ayah juga khawatir kalau kamu mondok jauh jauh ." Hasya hanya bisa mengangguk pelan. Brosur di genggamannya ia lipat erat-erat, impiannya yang harus mati sebelum sempat tumbuh. #konflikkeluarga #takdiryangbertaut

About