@oo96377: #スーパー戦隊#アカレッド

10/15生誕修羅マスターRX
10/15生誕修羅マスターRX
Open In TikTok:
Region: JP
Wednesday 16 September 2026 08:34:46 GMT
3655
71
3
2

Music

Download

Comments

gold18340
Gold :
何故アカ固定?
2026-09-16 10:45:38
1
user67146883390486
🐈‍⬛🖤ラミリス🎾🔥 :
👍👍👍
2026-09-16 10:58:46
1
To see more videos from user @oo96377, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Pati adalah venue ke tiga Silaturrahmi Musik Literasi. Digelar di Kedai Djoglo Garden Gabus, Pati, milik Mas Sigit, salah satu sesepuh yang selama ini ngemong dan mendampingi konco-konco Teater Gong. Mas Raudal dan Mas Untung rasan-rasan, mengapa tidak diselenggarakan di kota?  Saya menyampaikan kepada beliau berdua, bahwa kesenian di Pati sejak dulu sifatnya beredar, tidak memusat pada episentrum kota. Tiap-tiap daerah memiliki karakter yang berbeda seturut dengan lingkungan sosial dan alamnya.  Tentu, keragaman itu tetap memiliki benang merah watak yang khas Pati. Syekh Cebolek adalah sosok representatif di masa lalu yang menolak kikuk karena hegemoni Kartasura di masanya.  Dalam folklore, Syekh Jangkung juga lebih ditampilkan dengan sikapnya yang merdeka, baik secara ekspresi maupun pandangan teologisnya.  Dan lagi, Roromendut dalam novel YB Mangunwijaya menampilkan gadis Pati itu sebagai simbol kebebasan yang tak mau tunduk dengan otoritas Mataram dan, spesifiknya, Katemenggungan Wirogunan. Ketiganya menjadi lanskap historis yang memengaruhi perwatakan masyarakat di Pati, termasuk dalam mereka berekspresi. Syahdan, dari Blaru kami meluncur ke Gabus. Sampai di lokasi ba’da magrib. Selepas isya’ warga nampak berdatangan. Mulai dari ibu-ibu warga sekitar hingga komunitas-komunitas dari berbagai daerah di sana.  Gagego Musik Kampoeng mengawali tampil. Ini adalah kelompok sempalan Teater Gong. Sebagian personilnya juga mendukung Kelompok Sampak Gusuran pimpinan Bib Anis.  Pementasan begitu gayeng. Khas rakyat. Lirik lagu mereka umumnya bahasa Jawa spontan. Bahasa Pasaran wong Pati. Bayangkanlah, satu lagu berjudul Petinggi Samber Gelap. Apik tenan. Samber Gelap adalah pisuhan ala Pati yang setara dengan Jancuk nya Surabaya. Sarkas memang. Tapi di mulut konco-konco Gagego Musik Kampoeng, itu serasa lucu. Dan lain-lain banyak lagu yang dibawakan. Yang saya ingat, lagu Boyo lan Cecek, Vespa Biru, dan Kembang Setaman. Ya. Banyak yang lucu-lucu kendati latar ceritanya adalah kegetiran.  Vespa Biru adalah satu nomor yang saya anggap paling canggih mampu merefleksikan suasana sosial di akar rumput. Vespa Biru tetep mampu ngguyu, meskipun si pacar digondol mobil biru. Hmm. Jadi teringat karya-karya Chekov dengan tragikomedinya. Pendeknya, penampilan Gagego cair dan hangat. Respon-respon penonton yang turut teriak dan bernyanyi justru seperti kesatuan ekspresi. Inklusif. Padahal pendopo (sebagai panggungnya) lumayan berjarak dengan penonton.  Tapi video di atas belum menampilkan Gagego Musik Kampoeng. Saya belum beroleh rekaman audionya. Audio dari kamera kami bercampur dengan lalu-lalang jalan, pengajian dan suara anjing menggonggong.  Video di atas adalah duet Mas Untung dengan kak Elva, salah satu vokal Gagego Musik Kampoeng dari Sukolilo Pati, disusul saya mengintroduksi acara, dan satu lagu dari Mas Untung Basuki yang direkam ala kadarnya menggunakan hape. Sekadar gambaran suasana Acara Musik Literasi yang kami silaturrahmikan.  Di setiap venue saya juga membacakan sajak. Mas Raudal Tanjung Banua juga selalu memberikan sekapur sirih literatifnya. Yang ini akan kami tampilkan di platform lain. #musikliterasi @alinopet @nursammbahboleng @elva.nensis
Pati adalah venue ke tiga Silaturrahmi Musik Literasi. Digelar di Kedai Djoglo Garden Gabus, Pati, milik Mas Sigit, salah satu sesepuh yang selama ini ngemong dan mendampingi konco-konco Teater Gong. Mas Raudal dan Mas Untung rasan-rasan, mengapa tidak diselenggarakan di kota? Saya menyampaikan kepada beliau berdua, bahwa kesenian di Pati sejak dulu sifatnya beredar, tidak memusat pada episentrum kota. Tiap-tiap daerah memiliki karakter yang berbeda seturut dengan lingkungan sosial dan alamnya. Tentu, keragaman itu tetap memiliki benang merah watak yang khas Pati. Syekh Cebolek adalah sosok representatif di masa lalu yang menolak kikuk karena hegemoni Kartasura di masanya. Dalam folklore, Syekh Jangkung juga lebih ditampilkan dengan sikapnya yang merdeka, baik secara ekspresi maupun pandangan teologisnya. Dan lagi, Roromendut dalam novel YB Mangunwijaya menampilkan gadis Pati itu sebagai simbol kebebasan yang tak mau tunduk dengan otoritas Mataram dan, spesifiknya, Katemenggungan Wirogunan. Ketiganya menjadi lanskap historis yang memengaruhi perwatakan masyarakat di Pati, termasuk dalam mereka berekspresi. Syahdan, dari Blaru kami meluncur ke Gabus. Sampai di lokasi ba’da magrib. Selepas isya’ warga nampak berdatangan. Mulai dari ibu-ibu warga sekitar hingga komunitas-komunitas dari berbagai daerah di sana. Gagego Musik Kampoeng mengawali tampil. Ini adalah kelompok sempalan Teater Gong. Sebagian personilnya juga mendukung Kelompok Sampak Gusuran pimpinan Bib Anis. Pementasan begitu gayeng. Khas rakyat. Lirik lagu mereka umumnya bahasa Jawa spontan. Bahasa Pasaran wong Pati. Bayangkanlah, satu lagu berjudul Petinggi Samber Gelap. Apik tenan. Samber Gelap adalah pisuhan ala Pati yang setara dengan Jancuk nya Surabaya. Sarkas memang. Tapi di mulut konco-konco Gagego Musik Kampoeng, itu serasa lucu. Dan lain-lain banyak lagu yang dibawakan. Yang saya ingat, lagu Boyo lan Cecek, Vespa Biru, dan Kembang Setaman. Ya. Banyak yang lucu-lucu kendati latar ceritanya adalah kegetiran. Vespa Biru adalah satu nomor yang saya anggap paling canggih mampu merefleksikan suasana sosial di akar rumput. Vespa Biru tetep mampu ngguyu, meskipun si pacar digondol mobil biru. Hmm. Jadi teringat karya-karya Chekov dengan tragikomedinya. Pendeknya, penampilan Gagego cair dan hangat. Respon-respon penonton yang turut teriak dan bernyanyi justru seperti kesatuan ekspresi. Inklusif. Padahal pendopo (sebagai panggungnya) lumayan berjarak dengan penonton. Tapi video di atas belum menampilkan Gagego Musik Kampoeng. Saya belum beroleh rekaman audionya. Audio dari kamera kami bercampur dengan lalu-lalang jalan, pengajian dan suara anjing menggonggong. Video di atas adalah duet Mas Untung dengan kak Elva, salah satu vokal Gagego Musik Kampoeng dari Sukolilo Pati, disusul saya mengintroduksi acara, dan satu lagu dari Mas Untung Basuki yang direkam ala kadarnya menggunakan hape. Sekadar gambaran suasana Acara Musik Literasi yang kami silaturrahmikan. Di setiap venue saya juga membacakan sajak. Mas Raudal Tanjung Banua juga selalu memberikan sekapur sirih literatifnya. Yang ini akan kami tampilkan di platform lain. #musikliterasi @alinopet @nursammbahboleng @elva.nensis

About