@tribunnews: Kecintaan terhadap budaya menjadi alasan Mufti terus mempertahankan seni ukir khas Dayak di Kalimantan Tengah. Di tengah perkembangan zaman, budaya lokal menghadapi tantangan dari masuknya berbagai budaya asing, terutama di kalangan remaja dan pemuda. Bagi Mufti, pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui cerita maupun dokumentasi. Budaya harus terus hidup melalui karya nyata yang dapat dilihat, digunakan, dan dikenal masyarakat luas. Salah satu karya yang banyak diminati adalah talawang, perisai tradisional Dayak yang dihiasi motif khas dan sarat akan makna tentang keberanian, identitas, serta kearifan leluhur. Selain talawang, ada pula miniatur kapal naga dan berbagai ornamen ukiran khas Kalimantan yang menarik minat kolektor maupun wisatawan. Menariknya, meski berada di kawasan seberang sungai yang jauh dari pusat kota, karya Baniang 42 Jaya Sampit telah menjangkau pasar internasional. Mufti mengungkapkan, produknya pernah diminati pembeli dari Sarawak, Malaysia, Korea Selatan hingga Tiongkok. Permintaan tersebut muncul karena ukiran khas Kalimantan Tengah memiliki karakteristik yang sulit ditemukan di tempat lain. Namun, tingginya minat pasar juga menghadirkan tantangan. Permintaan dari luar negeri dapat mencapai 50 hingga 200 unit per bulan. Sementara itu, kapasitas produksi saat ini masih terbatas. Untuk membuat satu kapal ukiran saja, setidaknya dibutuhkan waktu tiga hingga empat hari. Dengan jumlah tenaga kerja yang ada, produksinya hanya mampu mencapai sekitar tiga hingga empat unit per bulan. Keterbatasan tenaga kerja bukan satu-satunya persoalan. Modal usaha juga menjadi tantangan dalam mengembangkan produksi. Padahal, Kalimantan Tengah memiliki potensi bahan baku yang melimpah. Bahkan, sebagian karya dibuat dari limbah kayu yang diolah kembali menjadi produk bernilai ekonomi. Potensi pasar yang besar membuat Mufti optimistis seni ukir Dayak dapat terus berkembang dan menembus pasar ekspor. Ia berharap pemerintah daerah memberikan dukungan kepada para seniman dan perajin lokal melalui bantuan permodalan, pelatihan, pengembangan sumber daya manusia, serta pendampingan pemasaran. Mufti juga siap membuka pelatihan bagi masyarakat yang ingin mempelajari seni ukir Dayak apabila mendapat dukungan yang memadai. Baginya, upaya mempertahankan seni ukir bukan hanya soal menjaga warisan budaya, tetapi juga membuka peluang lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Di tengah berbagai keterbatasan, Mufti memilih untuk terus bertahan. Setiap ukiran yang dihasilkan bukan sekadar produk kerajinan. Di dalamnya terdapat upaya menjaga cerita, identitas, dan warisan leluhur Dayak agar tetap hidup di tengah perubahan zaman. Bagi Mufti, mencintai budaya leluhur merupakan bagian dari menjaga jati diri masyarakat. Karena itu, seni ukir khas Dayak akan terus dipertahankan agar tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi tetap hidup dan dikenal hingga generasi mendatang. #UMKM #budaya #budayalokal #muftisalmanazhar #kalimantan #kalimantantengah
Tribunnews
Region: ID
Wednesday 16 September 2026 11:41:22 GMT
Music
Download
Comments
botak :
pertama
2026-09-16 11:55:26
0
Revisi terdepan :
kedua
2026-09-16 11:56:20
0
To see more videos from user @tribunnews, please go to the Tikwm
homepage.