@se0356952: চাঁদ তারা একসাথে

💫K̊H̊ÅD̊I̊Z̊Å🌿
💫K̊H̊ÅD̊I̊Z̊Å🌿
Open In TikTok:
Region: BD
Thursday 17 September 2026 02:17:58 GMT
129
42
2
3

Music

Download

Comments

abusaid...khan
▄︻デ 𝒜𝒷𝓊 𝓈𝒶𝒾𝒹 ═━一 :
🥰🥰🥰
2026-09-17 02:42:21
1
sarminakther1240
💕💕অজানা পাখি💕💕 :
🥰🥰🥰
2026-09-26 01:13:47
1
To see more videos from user @se0356952, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

🔷 La arquitectura topológica de log(z) 🔷 
 El logaritmo de un número complejo no vive en un simple plano bidimensional. Para existir
 plenamente, necesita construir una escalera infinita de caracol.
 En el análisis complejo, la función log(z) tiene múltiples valores porque la fase de un número
 (su ángulo) se repite cada 2π. Para obligar a esta función a ser estrictamente continua,
 Bernhard Riemann propuso abandonar el papel plano y visualizar el dominio como una
 estructura tridimensional:
 • Cada vez que damos una vuelta completa de 360° alrededor del origen, no regresamos al
 punto de partida. En su lugar, ascendemos (o descendemos) a una nueva “hoja” de la
 superficie.
 • El parámetro k actúa como el “número de piso” de esta escalera. Al cruzar el eje real
 negativo, la función salta sutilmente a la siguiente rama para no romper la continuidad.
 • El resultado es una superficie helicoidal infinita donde cada posible solución del logaritmo
 tiene su propia coordenada geométrica exacta.
 Aquí es donde el análisis matemático deja de ser un juego de ecuaciones abstractas y se
 revela como pura arquitectura espacial.
 💼 En MerlinoMath diseño visualizaciones matemáticas y animaciones científicas de alto
 nivel para:
 – Proyectos EdTech y educación superior
 – Comunicación científica y documentales
 – Contenido técnico y de ingeniería
 🌐 Descubre nuestro trabajo y servicios en la nueva web: merlinomath.com (enlace en bio).
 Si tu proyecto necesita este nivel de rigor y estética, hablemos.
 #matematicas #geometria #fisica #mathvisualization #universidad
🔷 La arquitectura topológica de log(z) 🔷 El logaritmo de un número complejo no vive en un simple plano bidimensional. Para existir plenamente, necesita construir una escalera infinita de caracol. En el análisis complejo, la función log(z) tiene múltiples valores porque la fase de un número (su ángulo) se repite cada 2π. Para obligar a esta función a ser estrictamente continua, Bernhard Riemann propuso abandonar el papel plano y visualizar el dominio como una estructura tridimensional: • Cada vez que damos una vuelta completa de 360° alrededor del origen, no regresamos al punto de partida. En su lugar, ascendemos (o descendemos) a una nueva “hoja” de la superficie. • El parámetro k actúa como el “número de piso” de esta escalera. Al cruzar el eje real negativo, la función salta sutilmente a la siguiente rama para no romper la continuidad. • El resultado es una superficie helicoidal infinita donde cada posible solución del logaritmo tiene su propia coordenada geométrica exacta. Aquí es donde el análisis matemático deja de ser un juego de ecuaciones abstractas y se revela como pura arquitectura espacial. 💼 En MerlinoMath diseño visualizaciones matemáticas y animaciones científicas de alto nivel para: – Proyectos EdTech y educación superior – Comunicación científica y documentales – Contenido técnico y de ingeniería 🌐 Descubre nuestro trabajo y servicios en la nueva web: merlinomath.com (enlace en bio). Si tu proyecto necesita este nivel de rigor y estética, hablemos. #matematicas #geometria #fisica #mathvisualization #universidad
Pov: Kamu sempat mengira akan ada sesuatu kurang menyenangkan kian hadir dari hidup serumah dengan orang lain.  Nyatanya, pagi-pagimu masih bisa diawali dengan kebiasaan yang sama. Kamu masih bisa bangun sesukamu ketika sedang libur, mengunjungi tempat-tempat yang kamu kehendaki, bahkan tidak jarang pula Jungwon ikut serta menemani, kemudian menyelesaikan pekerjaan dan pulang ketika hari sudah condong ke sore. Aneh, memang. Sebab pernikahan yang semula kamu bayangkan seperti pintu yang akan menutup banyak hal dalam hidupmu ternyata malah terasa seperti sebuah ruangan baru yang perlahan sedang kalian kenali bersama. Kamu sedang menikmati minuman matcha di ruang tengah ketika Jungwon keluar dari kamar dengan pakaian yang tampak lebih rapi. Penampilannya membuatmu menoleh dua kali, meski kamu buru-buru mengalihkan pandangan ketika menyadari ia sempat menangkap gerakanmu. Jungwon berhenti di dekat sofa yang sedang kamu tempati. “Malam ini ikut saya ya.” Kamu yang semula bersandar langsung mengangkat kepala. “Ke mana?” “Salah satu rekan kerja saya baru menikah. Ada acara kecil untuk mereka.” Keningmu sedikit berkerut mendengarnya. Mendengar Jungwon mengatakan, kamu sudah bisa membayangkan seperti apa acara itu nantinya. Tentu saja kata “kecil” yang ia sebutkan akan jauh berbeda dengan situasi nyata di depan mata. “Pasti ramai banget, kan?” tanyamu.  “Terus pasti obrolannya bisnis, bisnis, bisnis lagi. Aku pasti di sana nanti cuma jadi pajangan.” Jungwon memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Setelahnya menatapmu beberapa detik dengan ekspresi wajah yang tidak mudah ditebak. Tatapan itu justru membuatmu semakin yakin bahwa dugaanmu memang benar adanya. Kamu menghela napas panjang, lalu menegakkan tubuh. “Kalau begitu, izin tidak bisa hadir Pak. Saya mau tidur saja di rumah.” katamu, mengangkat satu tangan setinggi bahu dengan wajah dibuat seserius mungkin. Tanganmu masih terangkat ketika kamu mengucapkannya, dengan ekspresi seperti seorang bawahan yang sedang menyampaikan keputusan penting kepada atasannya. Kamu bahkan sempat menundukkan kepala sedikit, menahan tawa yang mulai menggelitik ujung bibir sendiri. Jungwon menatap tingkah yang sedang kamu peragakan dan sontak tawanya mengalun begitu saja. Ia menggeleng sambil menatapmu dengan sorot geli. Setelahnya melangkah mendekat dan dengan santai menurunkan lenganmu yang sejak tadi terangkat, mengembalikan ke posisi semula. “Izin tidak diterima.” Kamu langsung mendongak guna menatap sang pria. “Kamu harus ikut.” Ujarnya sekali lagi, terdengar tidak terbantahkan. “Mas Jungwon,” panggilanmu kali ini dengan nada memelas yang kamu buat sedikit berlebihan, mungkin.  “Aku benar-benar mau di rumah. Kamu pergi sana, aku doakan dari sini.” “Doakan apa?” Alis Jungwon terangkat sedikit sembari melontarkan pertanyaan itu ke arahmu. “Semoga acaranya lancar.” Jawabmu santai dan setelahnya berhasil membuat Jungwon menghela nafasnya, lagi. “Terima kasih. Tapi kamu tetap ikut.” “Kalau kamu ikut… setelah dari sana, saya turuti ke mana pun kamu mau.” Kamu terdiam sejenak, menimbang tawaran yang baru saja diberikan. Rasanya terlalu mudah untuk diterima, apalagi kalau Jungwon sendiri yang sudah membuka kesempatan selebar itu. Mata kamu langsung membesar, seolah masih ingin memastikan bahwa kamu tidak salah dengar. “Beneran? Serius?” Jungwon mengangguk sekali. “Serius.” Dan begitu saja, keputusan untuk ikut bersamanya malam ini rasanya menjadi jauh lebih mudah. Bahkan sebelum kalian berangkat, pikiranmu sudah sibuk menyusun daftar kecil tentang ke mana saja kamu akan mengajaknya setelah acara selesai. Mungkin membeli sesuatu yang sudah lama kamu incar. Atau, kalau sedang ingin sedikit jahil, sekalian memilih tempat yang cukup jauh untuk membuatnya menyesal sudah memberimu kebebasan seluas itu. Lagipula, sesekali menikmati keuntungan menjadi istri Jungwon tidak ada salahnya. Kamu hanya perlu memastikan Jungwon tidak sempat berubah pikiran sebelum malam berakhir. (di sl/komen) #jungwonenhypen #jungwonedit #fyp #foryoupage
Pov: Kamu sempat mengira akan ada sesuatu kurang menyenangkan kian hadir dari hidup serumah dengan orang lain. Nyatanya, pagi-pagimu masih bisa diawali dengan kebiasaan yang sama. Kamu masih bisa bangun sesukamu ketika sedang libur, mengunjungi tempat-tempat yang kamu kehendaki, bahkan tidak jarang pula Jungwon ikut serta menemani, kemudian menyelesaikan pekerjaan dan pulang ketika hari sudah condong ke sore. Aneh, memang. Sebab pernikahan yang semula kamu bayangkan seperti pintu yang akan menutup banyak hal dalam hidupmu ternyata malah terasa seperti sebuah ruangan baru yang perlahan sedang kalian kenali bersama. Kamu sedang menikmati minuman matcha di ruang tengah ketika Jungwon keluar dari kamar dengan pakaian yang tampak lebih rapi. Penampilannya membuatmu menoleh dua kali, meski kamu buru-buru mengalihkan pandangan ketika menyadari ia sempat menangkap gerakanmu. Jungwon berhenti di dekat sofa yang sedang kamu tempati. “Malam ini ikut saya ya.” Kamu yang semula bersandar langsung mengangkat kepala. “Ke mana?” “Salah satu rekan kerja saya baru menikah. Ada acara kecil untuk mereka.” Keningmu sedikit berkerut mendengarnya. Mendengar Jungwon mengatakan, kamu sudah bisa membayangkan seperti apa acara itu nantinya. Tentu saja kata “kecil” yang ia sebutkan akan jauh berbeda dengan situasi nyata di depan mata. “Pasti ramai banget, kan?” tanyamu. “Terus pasti obrolannya bisnis, bisnis, bisnis lagi. Aku pasti di sana nanti cuma jadi pajangan.” Jungwon memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Setelahnya menatapmu beberapa detik dengan ekspresi wajah yang tidak mudah ditebak. Tatapan itu justru membuatmu semakin yakin bahwa dugaanmu memang benar adanya. Kamu menghela napas panjang, lalu menegakkan tubuh. “Kalau begitu, izin tidak bisa hadir Pak. Saya mau tidur saja di rumah.” katamu, mengangkat satu tangan setinggi bahu dengan wajah dibuat seserius mungkin. Tanganmu masih terangkat ketika kamu mengucapkannya, dengan ekspresi seperti seorang bawahan yang sedang menyampaikan keputusan penting kepada atasannya. Kamu bahkan sempat menundukkan kepala sedikit, menahan tawa yang mulai menggelitik ujung bibir sendiri. Jungwon menatap tingkah yang sedang kamu peragakan dan sontak tawanya mengalun begitu saja. Ia menggeleng sambil menatapmu dengan sorot geli. Setelahnya melangkah mendekat dan dengan santai menurunkan lenganmu yang sejak tadi terangkat, mengembalikan ke posisi semula. “Izin tidak diterima.” Kamu langsung mendongak guna menatap sang pria. “Kamu harus ikut.” Ujarnya sekali lagi, terdengar tidak terbantahkan. “Mas Jungwon,” panggilanmu kali ini dengan nada memelas yang kamu buat sedikit berlebihan, mungkin. “Aku benar-benar mau di rumah. Kamu pergi sana, aku doakan dari sini.” “Doakan apa?” Alis Jungwon terangkat sedikit sembari melontarkan pertanyaan itu ke arahmu. “Semoga acaranya lancar.” Jawabmu santai dan setelahnya berhasil membuat Jungwon menghela nafasnya, lagi. “Terima kasih. Tapi kamu tetap ikut.” “Kalau kamu ikut… setelah dari sana, saya turuti ke mana pun kamu mau.” Kamu terdiam sejenak, menimbang tawaran yang baru saja diberikan. Rasanya terlalu mudah untuk diterima, apalagi kalau Jungwon sendiri yang sudah membuka kesempatan selebar itu. Mata kamu langsung membesar, seolah masih ingin memastikan bahwa kamu tidak salah dengar. “Beneran? Serius?” Jungwon mengangguk sekali. “Serius.” Dan begitu saja, keputusan untuk ikut bersamanya malam ini rasanya menjadi jauh lebih mudah. Bahkan sebelum kalian berangkat, pikiranmu sudah sibuk menyusun daftar kecil tentang ke mana saja kamu akan mengajaknya setelah acara selesai. Mungkin membeli sesuatu yang sudah lama kamu incar. Atau, kalau sedang ingin sedikit jahil, sekalian memilih tempat yang cukup jauh untuk membuatnya menyesal sudah memberimu kebebasan seluas itu. Lagipula, sesekali menikmati keuntungan menjadi istri Jungwon tidak ada salahnya. Kamu hanya perlu memastikan Jungwon tidak sempat berubah pikiran sebelum malam berakhir. (di sl/komen) #jungwonenhypen #jungwonedit #fyp #foryoupage

About