@ellsyyanaaputri: .

🅱️4kp4u🐬
🅱️4kp4u🐬
Open In TikTok:
Region: ID
Thursday 17 September 2026 08:07:59 GMT
212943
12407
90
2035

Music

Download

Comments

wlndrinavara
wlndr🐣 :
menyala seperti neraka 😭😭😭
2026-09-18 02:07:28
220
araaja416
Hi ini araa🍭🫧 :
km knp brut, sedih ya
2026-09-18 12:18:58
48
xy_kepo0
PUSPITAMBUTTTT :
kamu kenapa cantikkk??
2026-09-19 06:04:15
4
leecok29
vlnsia02 :
baju nya merek apa kk kok bagus
2026-09-18 06:27:40
31
kyy29679
kyy🌪 :
cini peluk
2026-09-18 04:10:51
0
cumnyusda_
𝖞𝖚𝖘𝖉𝖆𝖜𝖜𝖜 :
2026-09-18 09:02:42
2
yundaaaaaa01
BLONDEE BAIKK😉 :
ka kurang deket[Menangis]
2026-09-18 15:10:31
2
k13l73lek
_ :
manyun nya lucu
2026-09-18 04:15:42
2
yendi.mmnto
tombong bngka :
cntikkk
2026-09-18 04:12:31
2
fhczrii0
fhczrii :
2026-09-18 04:28:28
3
momyyviaa
momyy oviaa💋 :
sumpah perih banget pas pertama kali😭😭
2026-09-18 12:24:46
0
golekop0_
saputra_ :
2026-09-18 09:27:23
2
kepo5567
kenapa hayo :
2026-09-18 01:08:31
1
alazhar_26
alazhar_26 :
putih y
2026-09-18 07:13:26
1
kawan.kapet
wong tulus🥀🥀 :
ayuu mbakk eee rekkk
2026-09-18 02:34:01
1
alamfaturohman7
mas al :
cantik kak
2026-09-18 09:18:35
1
ytta19108
drax :
cantik banget 😍
2026-09-18 04:15:49
1
naksnmnbkabsb
Qiin. :
cntik
2026-09-18 03:12:33
1
evosjose3
JOSE 457 🇮🇩/> :
2026-09-18 04:47:07
0
zonasilaban
🚀 :
semangat kak
2026-09-18 08:34:08
0
_username44401
🍭 :
2026-09-18 14:32:49
0
camat_ngantru.21
𝙎𝘼𝙋𝙐𝙏𝙍𝘼.𝟮𝟭 :
2026-09-18 16:41:30
0
bagongg599
𝕯𝖊𝖆𝖉𝖃𝖎𝖓𝖘𝖎𝖉𝖊 :
2026-09-18 09:41:05
0
ezzaa904
memei  :
cek dm
2026-09-18 10:02:23
0
najua.imutttt
Najua zahra putri maliwa💖 :
p
2026-09-17 10:28:23
0
To see more videos from user @ellsyyanaaputri, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV | Namanya Sunghoon—dan di kampus, namanya selalu disebut dengan nada setengah takut, setengah hormat. Dosen killer, kata orang-orang. Tegas, jarang senyum, dan kalau bicara suaranya datar seperti tidak memberi ruang untuk dibantah.  Setiap kali dia masuk kelas, satu ruangan langsung hening, seolah semua tahu, satu kesalahan kecil saja bisa jadi masalah panjang. Dan buat kamu, dia bukan cuma dosen. Dia juga suamimu. Pernikahan itu terjadi setahun lalu, di usia yang bahkan belum sempat kamu pahami sepenuhnya. Tanpa cinta, tanpa pacaran, tanpa proses saling mengenal. Orang tuamu bilang itu keputusan terbaik—aman, terjamin, masa depanmu katanya akan baik-baik saja. Orang tua Sunghoon setuju, seolah semuanya sudah dihitung matang.  Kamu? Kamu cuma duduk diam, mengangguk kecil, sambil merasa hidupmu diputuskan sepihak oleh orang-orang yang bahkan tidak akan menjalaninya. Kamu dua puluh. Sunghoon dua puluh lima. Perbedaan usia itu bukan sekadar angka. Rasanya seperti tembok tinggi yang selalu berdiri di antara kalian—dingin, kokoh, dan sulit dilewati. ----- Hari pertama kamu tinggal di rumahnya, suasananya terasa kaku sampai ke tulang. Rumah itu besar, rapi, dan terlalu teratur. Semua benda seolah punya garis tak terlihat yang melarang siapa pun menggesernya. Tidak ada barang berserakan, tidak ada sudut hangat yang membuatmu ingin duduk lama. “Kamar kamu di sebelah kiri,” kata Sunghoon waktu itu, suaranya datar sambil menunjuk lorong. “Kamar saya di ujung.” Kamu sempat menatapnya, lalu ke arah lorong itu. Oh. Ternyata benar-benar dipisah. Dan satu tahun berlalu tanpa ada perubahan. Kalian tinggal di satu rumah, makan di meja yang sama, kadang berpapasan di dapur atau koridor, tapi jarak itu selalu ada. Seperti dua orang asing yang kebetulan memakai cincin serupa di jari. Sunghoon tidak pernah menyentuhmu, bahkan tidak pernah berdiri terlalu dekat. Kalau kalian berpapasan, dia hanya mengangguk kecil, singkat, lalu berlalu begitu saja. Di kampus, semuanya terasa lebih berat. Di sana, Sunghoon bukan suamimu. Dia dosenmu—dan dia kejam. “Kamu telat lagi,” katanya suatu pagi, tepat ketika kamu berdiri di ambang pintu kelas dengan napas masih terengah. Semua mata langsung tertuju padamu. “Maaf, Pak—” “Duduk. Dan jangan ulangi.” Nada itu dingin, tanpa ruang untuk penjelasan. Kamu menunduk dan berjalan ke bangku dengan jantung berdebar. Tidak ada tatapan lembut, tidak ada perlakuan istimewa.  Justru sebaliknya. Tugas yang dia berikan padamu selalu lebih banyak. Lebih detail. Lebih rumit. Kamu sadar itu, dan teman-temanmu juga. “Eh, kok tugas kamu beda?” bisik salah satu dari mereka. “Iya, punyamu lebih ribet deh.” Kamu hanya tersenyum pahit, bahu terangkat kecil. Kamu tahu alasannya, dan kamu juga tahu kamu tidak bisa mengeluh. ----- Di rumah, alasannya sama. Sunghoon tahu kamu jarang belajar di rumah—dan dia tidak suka itu. Jadi hukumannya berpindah ke tempat yang paling kamu benci. “Cuci piring.” “Rapikan ruang tamu.” “Jangan tidur sebelum lantai bersih.” Awalnya kamu nurut. Kamu pikir itu bagian dari hidup baru yang harus kamu jalani. Tapi hari demi hari, capek itu menumpuk. Kamu kuliah, kamu masih dua puluh tahun, dan kamu merasa seperti kehilangan ruang untuk bernapas. Dan malam itu, capekmu tumpah. Kamu berdiri di depan kamar Sunghoon cukup lama, tangan terangkat tapi ragu. Dadamu terasa sesak. Akhirnya kamu mengetuk juga. Tok Tok. “Masuk.” Dia duduk di meja kerjanya, mengenakan kemeja rumah, kacamata bertengger di hidung. Begitu melihat matamu yang merah, tatapannya terangkat sedikit lebih lama dari biasanya. “Kamu kenapa?” tanyanya, tenang. Selalu tenang. Dan ketenangan itu justru membuat dadamu makin sesak. “Aku capek,” katamu akhirnya, suaramu bergetar. “Di kampus kamu marah-marah. Di rumah kamu nyuruh ini itu. Aku bukan robot.” Sunghoon diam, menatapmu tanpa menyela. [lanjut?] #sunghoon #enhypen #pov #foryou #fyp
POV | Namanya Sunghoon—dan di kampus, namanya selalu disebut dengan nada setengah takut, setengah hormat. Dosen killer, kata orang-orang. Tegas, jarang senyum, dan kalau bicara suaranya datar seperti tidak memberi ruang untuk dibantah. Setiap kali dia masuk kelas, satu ruangan langsung hening, seolah semua tahu, satu kesalahan kecil saja bisa jadi masalah panjang. Dan buat kamu, dia bukan cuma dosen. Dia juga suamimu. Pernikahan itu terjadi setahun lalu, di usia yang bahkan belum sempat kamu pahami sepenuhnya. Tanpa cinta, tanpa pacaran, tanpa proses saling mengenal. Orang tuamu bilang itu keputusan terbaik—aman, terjamin, masa depanmu katanya akan baik-baik saja. Orang tua Sunghoon setuju, seolah semuanya sudah dihitung matang. Kamu? Kamu cuma duduk diam, mengangguk kecil, sambil merasa hidupmu diputuskan sepihak oleh orang-orang yang bahkan tidak akan menjalaninya. Kamu dua puluh. Sunghoon dua puluh lima. Perbedaan usia itu bukan sekadar angka. Rasanya seperti tembok tinggi yang selalu berdiri di antara kalian—dingin, kokoh, dan sulit dilewati. ----- Hari pertama kamu tinggal di rumahnya, suasananya terasa kaku sampai ke tulang. Rumah itu besar, rapi, dan terlalu teratur. Semua benda seolah punya garis tak terlihat yang melarang siapa pun menggesernya. Tidak ada barang berserakan, tidak ada sudut hangat yang membuatmu ingin duduk lama. “Kamar kamu di sebelah kiri,” kata Sunghoon waktu itu, suaranya datar sambil menunjuk lorong. “Kamar saya di ujung.” Kamu sempat menatapnya, lalu ke arah lorong itu. Oh. Ternyata benar-benar dipisah. Dan satu tahun berlalu tanpa ada perubahan. Kalian tinggal di satu rumah, makan di meja yang sama, kadang berpapasan di dapur atau koridor, tapi jarak itu selalu ada. Seperti dua orang asing yang kebetulan memakai cincin serupa di jari. Sunghoon tidak pernah menyentuhmu, bahkan tidak pernah berdiri terlalu dekat. Kalau kalian berpapasan, dia hanya mengangguk kecil, singkat, lalu berlalu begitu saja. Di kampus, semuanya terasa lebih berat. Di sana, Sunghoon bukan suamimu. Dia dosenmu—dan dia kejam. “Kamu telat lagi,” katanya suatu pagi, tepat ketika kamu berdiri di ambang pintu kelas dengan napas masih terengah. Semua mata langsung tertuju padamu. “Maaf, Pak—” “Duduk. Dan jangan ulangi.” Nada itu dingin, tanpa ruang untuk penjelasan. Kamu menunduk dan berjalan ke bangku dengan jantung berdebar. Tidak ada tatapan lembut, tidak ada perlakuan istimewa. Justru sebaliknya. Tugas yang dia berikan padamu selalu lebih banyak. Lebih detail. Lebih rumit. Kamu sadar itu, dan teman-temanmu juga. “Eh, kok tugas kamu beda?” bisik salah satu dari mereka. “Iya, punyamu lebih ribet deh.” Kamu hanya tersenyum pahit, bahu terangkat kecil. Kamu tahu alasannya, dan kamu juga tahu kamu tidak bisa mengeluh. ----- Di rumah, alasannya sama. Sunghoon tahu kamu jarang belajar di rumah—dan dia tidak suka itu. Jadi hukumannya berpindah ke tempat yang paling kamu benci. “Cuci piring.” “Rapikan ruang tamu.” “Jangan tidur sebelum lantai bersih.” Awalnya kamu nurut. Kamu pikir itu bagian dari hidup baru yang harus kamu jalani. Tapi hari demi hari, capek itu menumpuk. Kamu kuliah, kamu masih dua puluh tahun, dan kamu merasa seperti kehilangan ruang untuk bernapas. Dan malam itu, capekmu tumpah. Kamu berdiri di depan kamar Sunghoon cukup lama, tangan terangkat tapi ragu. Dadamu terasa sesak. Akhirnya kamu mengetuk juga. Tok Tok. “Masuk.” Dia duduk di meja kerjanya, mengenakan kemeja rumah, kacamata bertengger di hidung. Begitu melihat matamu yang merah, tatapannya terangkat sedikit lebih lama dari biasanya. “Kamu kenapa?” tanyanya, tenang. Selalu tenang. Dan ketenangan itu justru membuat dadamu makin sesak. “Aku capek,” katamu akhirnya, suaramu bergetar. “Di kampus kamu marah-marah. Di rumah kamu nyuruh ini itu. Aku bukan robot.” Sunghoon diam, menatapmu tanpa menyela. [lanjut?] #sunghoon #enhypen #pov #foryou #fyp

About