@rejyclosetape: Что-то нереальное произошло… #closetape #нарезки #прокачки #caser @Closetape

rejyclosetape
rejyclosetape
Open In TikTok:
Region: UA
Thursday 17 September 2026 14:34:03 GMT
14206
170
4
14

Music

Download

Comments

lil6abywa1ker
lil6abywa1ker :
чудеса партнерки
2026-09-18 11:15:01
12
mrvihandr
MrVihandr :
у меня после большого слива такое же было с 16р до 10к кидая чисто в х2
2026-09-18 16:21:20
3
sadrainday
perfume :
🥰🥰🥰
2026-09-18 10:04:43
2
ermach.120kg
ermaсk :
[Громкий смех][Громкий смех][Громкий смех]
2026-09-18 16:59:47
0
To see more videos from user @rejyclosetape, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Riset neurosains terbaru bilang kalau Gen Z jadi generasi pertama dalam sejarah yang nilai tes akademiknya lebih rendah dari generasi sebelumnya. Ini berarti tren peningkatan kecerdasan yang udah berlangsung lama, yang dikenal
Riset neurosains terbaru bilang kalau Gen Z jadi generasi pertama dalam sejarah yang nilai tes akademiknya lebih rendah dari generasi sebelumnya. Ini berarti tren peningkatan kecerdasan yang udah berlangsung lama, yang dikenal "Efek Flynn", akhirnya putus di generasi ini. Menurut ahli saraf Dr. Jared Cooney Horvath, yang baru-baru ini kasih kesaksian di depan Kongres, Gen Z nunjukin performa lebih rendah dalam hal perhatian, memori, literasi, numerasi, fungsi eksekutif, sampai IQ umum dibanding generasi sebelumnya. "Gen Z adalah generasi pertama dalam sejarah yang punya skor tes akademik lebih rendah dibanding generasi sebelumnya. Dan parahnya, banyak dari anak muda ini terlalu percaya diri tentang seberapa pinter mereka. Makin mereka ngerasa pinter, makin keliatan gak pinter." Selama lebih dari 200 tahun, setiap generasi selalu lebih cerdas dari generasi sebelumnya, tapi tren itu berhenti di Gen Z. Horvath sebut screen time sebagai faktor utamanya. Ia bilang ke para pembuat kebijakan kalau lebih dari setengah waktu terjaga remaja dihabisin buat natap layar, dan teknologi digital kayak AI di kelas sering gantiin pembelajaran mendalam dengan ringkasan instan dan konten serba pendek. Menurutnya, manusia secara biologis emang dirancang buat belajar lewat baca yang fokus dan interaksi langsung dengan orang lain, bukan lewat scroll cepat dan informasi yang terpotong-potong. Di sisi lain, tren kecerdasan ini juga dipengaruhi banyak faktor lain, mulai dari perubahan standar ujian, sistem pendidikan, tekanan ekonomi, sampai dampak jangka panjang pandemi. Sebenernya, AI itu powerful buat proses belajar, bisa bantu kita ngerti konsep yang susah, nyari informasi lebih cepat, bahkan berpikir lebih luas. Tapi ada bedanya antara pakai AI dan bergantung pada AI. Kalau semua jawaban tinggal tanya AI tanpa kita proses sendiri, lama-lama kemampuan berpikir kritis kita bisa tumpul. Kuncinya ada di cara kita pakai, gunakan AI sebagai alat bantu buat berpikir lebih dalam, bukan pengganti berpikir itu sendiri. Source: Fortune.com #artificialintelligence #aiupdates #aitrends #contentAI #aicontent
Matthew Gallagher punya ide sederhana: kalau AI bisa ngerjain hampir semua hal, kenapa masih butuh banyak karyawan? Dengan modal sekitar Rp300 juta, dia bikin bisnis bernama MEDVi. Strateginya agresif, pakai AI untuk jualan obat pelangsing, didukung lebih dari 800 akun Facebook palsu yang nyamar jadi dokter, lengkap dengan foto profil hasil AI. Akun-akun ini dipakai buat kasih review dan membangun kepercayaan. Hasilnya kelihatan luar biasa. Bisnis ini diklaim menghasilkan sampai Rp28 triliun. Bahkan sempat dipuji media seperti The New York Times sebagai “kisah sukses” AI-driven company. Tapi di balik itu, masalah mulai muncul. Pada Februari 2026, badan pengawas obat AS, Food and Drug Administration (FDA), mengirim surat peringatan karena metode marketing MEDVi dianggap menyesatkan, seolah-olah produknya sudah disetujui resmi. Ironisnya, ini terjadi hanya sekitar enam minggu sebelum liputan positif media terbit. Lalu muncul kebocoran data besar, sekitar 1,6 juta data pasien terekspos. Kasus ini berujung pada gugatan class action di Delaware. Saat ditelusuri lebih dalam, banyak klaim bisnisnya ternyata tidak bisa diverifikasi. Tidak ada audit independen, dan angka-angka yang diumumkan diragukan. Investigasi dari Futurism mengungkap hal yang lebih serius. Foto before-after pasien ternyata deepfake, dibuat dari hasil editan AI. Pertumbuhan bisnisnya juga didorong oleh ratusan halaman Facebook yang berpura-pura jadi dokter untuk menargetkan perempuan usia 35–55 tahun. Bahkan di bagian kecil situs mereka sendiri, MEDVi mengakui bahwa orang-orang di iklan bisa saja aktor atau hasil AI, bukan tenaga medis sungguhan. Akhirnya, narasi “bisnis miliaran dolar berbasis AI” mulai runtuh. Banyak analis menilai cerita suksesnya jauh lebih besar daripada realitas bisnisnya. #artificialintelligence #aiupdates #aitrends #contentAI #aicontent
Matthew Gallagher punya ide sederhana: kalau AI bisa ngerjain hampir semua hal, kenapa masih butuh banyak karyawan? Dengan modal sekitar Rp300 juta, dia bikin bisnis bernama MEDVi. Strateginya agresif, pakai AI untuk jualan obat pelangsing, didukung lebih dari 800 akun Facebook palsu yang nyamar jadi dokter, lengkap dengan foto profil hasil AI. Akun-akun ini dipakai buat kasih review dan membangun kepercayaan. Hasilnya kelihatan luar biasa. Bisnis ini diklaim menghasilkan sampai Rp28 triliun. Bahkan sempat dipuji media seperti The New York Times sebagai “kisah sukses” AI-driven company. Tapi di balik itu, masalah mulai muncul. Pada Februari 2026, badan pengawas obat AS, Food and Drug Administration (FDA), mengirim surat peringatan karena metode marketing MEDVi dianggap menyesatkan, seolah-olah produknya sudah disetujui resmi. Ironisnya, ini terjadi hanya sekitar enam minggu sebelum liputan positif media terbit. Lalu muncul kebocoran data besar, sekitar 1,6 juta data pasien terekspos. Kasus ini berujung pada gugatan class action di Delaware. Saat ditelusuri lebih dalam, banyak klaim bisnisnya ternyata tidak bisa diverifikasi. Tidak ada audit independen, dan angka-angka yang diumumkan diragukan. Investigasi dari Futurism mengungkap hal yang lebih serius. Foto before-after pasien ternyata deepfake, dibuat dari hasil editan AI. Pertumbuhan bisnisnya juga didorong oleh ratusan halaman Facebook yang berpura-pura jadi dokter untuk menargetkan perempuan usia 35–55 tahun. Bahkan di bagian kecil situs mereka sendiri, MEDVi mengakui bahwa orang-orang di iklan bisa saja aktor atau hasil AI, bukan tenaga medis sungguhan. Akhirnya, narasi “bisnis miliaran dolar berbasis AI” mulai runtuh. Banyak analis menilai cerita suksesnya jauh lebih besar daripada realitas bisnisnya. #artificialintelligence #aiupdates #aitrends #contentAI #aicontent

About