@kimchiishop: #aocardigan #doxinhhottrend #xuhuongtiktok

KimChi Boutique
KimChi Boutique
Open In TikTok:
Region: VN
Friday 18 September 2026 00:18:00 GMT
162
2
2
0

Music

Download

Comments

user1326999562074
em sợ cô đơn :
bao nhiêu tiền vậy em gái
2026-09-18 01:08:24
0
To see more videos from user @kimchiishop, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Sejarah pengusiran orang Makassar dan Bugis dari tanah Manggarai oleh Sultan Bima Musa Shafiuddin (Musa Lani Alima) merupakan salah satu fragmen penting perebutan hegemoni di Flores Barat pada abad ke-18. Peristiwa ini memuncak pada tahun 1732.  Berikut adalah kronologi dan detail sejarah peristiwa tersebut secara mendalam: 1. Akar Konflik:
Sejarah pengusiran orang Makassar dan Bugis dari tanah Manggarai oleh Sultan Bima Musa Shafiuddin (Musa Lani Alima) merupakan salah satu fragmen penting perebutan hegemoni di Flores Barat pada abad ke-18. Peristiwa ini memuncak pada tahun 1732. Berikut adalah kronologi dan detail sejarah peristiwa tersebut secara mendalam: 1. Akar Konflik: "Mas Kawin" yang Membawa Petaka Hubungan antara Kesultanan Bima (Sumbawa) dan Kesultanan Gowa-Makassar (Sulawesi) sebenarnya sangat erat karena ikatan perkawinan antarkeluarga kerajaan. Konflik di Manggarai ini justru bermula dari pernikahan politik tersebut. [1] Penyerahan Manggarai secara Sepihak: Seorang putra Sultan Bima yang menikahi seorang putri dari Makassar memutuskan untuk menyerahkan wilayah Manggarai kepada pihak Makassar sebagai mas kawin (hadiah pernikahan) atau upeti. [1] Berdirinya Kedudukan Makassar di Reo: Berbekal kesepakatan tersebut, pihak Makassar di bawah pimpinan Daeng Tamima bergerak ke pesisir utara Manggarai dan mendirikan basis pertahanan serta kerajaan Muslim pertama di Reo. Dari Reo inilah pengaruh politik dan syiar Islam ala Makassar mulai ditanamkan di tanah Manggarai. [1] Penolakan oleh Sultan Musa Alima: Ketika berita penyerahan Manggarai ini terdengar oleh Sultan Musa Lani Alima di istana Bima, ia dengan tegas menolak kesepakatan tersebut. Bagi Bima, Manggarai adalah wilayah taklukan dan hak pengaruh strategis mereka yang tidak boleh diserahkan begitu saja kepada Makassar. 2. Serangan Gelombang Pertama: Kegagalan Bima di Sisi Barat (1732) Sultan Musa Alima segera menyusun kekuatan militer untuk merebut kembali Manggarai dan mengusir orang-orang Makassar. Aliansi dengan Kedaluan Bajo: Dalam serangan awal ini, Bima bersekutu dengan Kedaluan Bajo (komunitas pelaut yang memiliki kekuatan maritim tangguh di pesisir barat Manggarai). Strategi dan Kegagalan: Pasukan gabungan Bima dan Bajo melancarkan serangan dari arah barat melalui wilayah Bajo menuju utara (Reo). Namun, pertahanan orang-orang Makassar di Reo ternyata sangat solid dan kuat. Serangan pertama dari jalur laut dan pesisir barat ini mengalami kegagalan total. Pasukan Bima terpaksa mundur dan memikirkan strategi baru. 3. Siasat Baru: Melibatkan Kekuatan Pedalaman (Todo) Sadar bahwa menyerang Reo secara langsung dari pesisir sangat sulit, Sultan Musa Alima mengubah strategi perang dengan memanfaatkan geopolitik lokal Manggarai. Ia melirik kekuatan di pedalaman, yaitu Kedaluan Todo. Persekutuan Bima - Todo: Sultan Bima mendekati Raja Todo untuk ikut serta dalam peperangan. Bagi Todo, ajakan ini adalah peluang emas. Saat itu, Todo sedang bersaing sengit dengan Kedaluan Cibal untuk berebut pengaruh kemaharajaan di pedalaman Manggarai. Dengan membantu Bima, Todo berharap bisa mendapatkan legitimasi kekuasaan atas seluruh wilayah Manggarai. Serangan Jepitan (Barat dan Selatan): Strategi baru pun dijalankan. Pasukan gabungan dirombak: Bima dan Bajo tetap menekan dari arah barat (pesisir), sementara pasukan adat Todo bergerak menyerang secara masif dari arah selatan (jalur darat/pedalaman). ##fypbudayadansejarahbimaind

About