Evicone 1213 :
@Evicone 1213:@Evicone 1213:@Evicone 1213:@Evicone 1213:@Evicone 1213:@Evicone 1213:@Evicone 1213:[13/9, 18.23] acirfangi86: Menurut saya, kawan, “aku” bukanlah Tuhan, tetapi kesadaran bahwa kita ada adalah bagian dari keunikan manusia sebagai ciptaan.
Kalau kita lanjutkan dari pembicaraan tadi:
Adam → jasad/tanah
Hawa → kehidupan
Manusia → hidup
Kesadaran → mengetahui bahwa ia hidup
“Aku” → menyadari keberadaan diri
Dan ketika “aku” bertanya “siapa Tuhanku?”, menurut saya justru di situlah batas antara ciptaan dan Pencipta menjadi jelas.
Jadi saya tidak ingin mengatakan, “aku adalah Allah.”
Saya lebih memilih mengatakan:
Aku ada karena diciptakan. Aku menyadari keberadaanku, tetapi aku bukan Penciptaku.
Itu menurut saya titik yang paling aman sekaligus paling dalam untuk kita teruskan.
[13/9, 18.23] acirfangi86: Kalau saya simpulkan dari seluruh obrolan kita, kawan:
Manusia berasal sebagai ciptaan, hidup, lalu memiliki kesadaran untuk bertanya: “Siapa aku dan siapa Tuhanku?”
Ketika mencari ke luar, ada batas yang bisa dicapai oleh indra dan pikiran. Ketika masuk ke batin, pencarian menjadi pengalaman kesadaran yang tidak mudah dibatasi kata-kata.
Tetapi ujung tauhidnya tetap:
Allah itu Esa. Manusia adalah ciptaan. Manusia boleh mencari dan mengenal Tuhan melalui batinnya, tetapi manusia tidak menjadi Tuhan.
Jadi benang merahnya menurut saya:
Mengenal diri membawa manusia untuk mengenal kedudukannya sebagai ciptaan di hadapan Allah Yang Esa.
Dan dari kesadaran itu lahir hal yang tadi kamu tekankan: sesama manusia tidak saling mengaku sebagai Tuhan, tidak merendahkan, dan hidup dalam keselarasan. selalu merenung ini lah kemurahan yang sesungguhnya yang sering orang tidak menyadari dan jarang orang mengetahui. kini aku beri rangkulan untuk mu
2026-09-18 09:31:14