@alanreviews0: Got my new Pilates board and I'm obsessed, so much exercises you can do!! #pilatesathome #pilatesbody #workoutathome #pilatesboard #umay

alanreviews0
alanreviews0
Open In TikTok:
Region: US
Monday 21 September 2026 03:04:00 GMT
72955
113
0
4

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @alanreviews0, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

KH. Ahmad Shobari, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mama Ciwedus atau Mama Sobari, adalah seorang ulama besar, pejuang, sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Ciwedus yang terletak di Timbang, Cigandamekar, Kuningan, Jawa Barat. Beliau merupakan salah satu pilar penyebaran Islam dan jajaran ulama kharismatik di tanah Pasundan.  Berikut adalah profil dan rekam jejak sejarah dari Mama Sobari Ciwedus: Silsilah dan Latar Belakang Garis Keturunan: Beliau lahir sekitar pertengahan abad ke-19 dan merupakan putra dari Kiai Adroi (pendiri Pesantren Ciwedus pada tahun 1800 M). Jika ditarik ke atas, beliau merupakan cicit dari Sultan Tubagus Kalamudin, seorang ulama yang memiliki garis keturunan langsung ke Kesultanan Banten.  Wafat: Mama Shobari wafat pada hari Rabu, 16 Agustus 1916 (sebagian sumber menyebut rentang usia beliau hingga 1938) dan dimakamkan di lingkungan Pesantren Ciwedus.  Sanad Keilmuan & Hubungan Nusantara Murid Syekh Kholil Bangkalan: Mama Sobari merupakan salah satu murid utama dari ulama legendaris Madura, Syekh Kholil Bangkalan. Beliau dianugerahi ijazah khusus untuk mengajarkan kitab Fathul Mu'in.  Satu Angkatan dengan Pendiri NU: Saat menimba ilmu di Bangkalan, beliau belajar bersama dengan para santri yang kelak menjadi ulama besar Indonesia, termasuk KH. Hasyim Asy'ari (pendiri Nahdlatul Ulama / Tebuireng). Karakter dan Keteladanan Sifat Wira'i (Sangat Hati-Hati): Beliau dikenal sangat menjaga kesucian diri dan hartanya. Kisah yang terkenal menyebutkan jika beliau menerima pemberian dari santri atau rakyat biasa, beliau menerimanya dengan tangan kanan. Namun, jika sumbangan tersebut datang dari pejabat pemerintah kolonial Belanda, beliau menerimanya dengan tangan kiri sebagai bentuk menjaga diri dan simbol keengganan berkompromi. Tradisi Sedekah Mulud: Beliau mempelopori tradisi Sedekah Mulud di Ciwedus, yaitu gerakan bersedekah massal setiap menyambut peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tanggal 12 Rabiul Awwal yang diisi dengan pembacaan Barzanji dan Diba. Kemandirian Finansial: Salah satu kisah inspiratifnya adalah ketika beliau menolak dibiayai haji oleh para jamaahnya. Beliau memilih mengumpulkan uang logam hasil panennya sendiri yang dicuci bersih dan disimpan di celengan bumbung bambu selama bertahun-tahun hingga akhirnya cukup untuk memberangkatkan haji dirinya beserta keluarga. #kuninganjawabarat #santri #gurungaji #ulamaindonesia
KH. Ahmad Shobari, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mama Ciwedus atau Mama Sobari, adalah seorang ulama besar, pejuang, sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Ciwedus yang terletak di Timbang, Cigandamekar, Kuningan, Jawa Barat. Beliau merupakan salah satu pilar penyebaran Islam dan jajaran ulama kharismatik di tanah Pasundan. Berikut adalah profil dan rekam jejak sejarah dari Mama Sobari Ciwedus: Silsilah dan Latar Belakang Garis Keturunan: Beliau lahir sekitar pertengahan abad ke-19 dan merupakan putra dari Kiai Adroi (pendiri Pesantren Ciwedus pada tahun 1800 M). Jika ditarik ke atas, beliau merupakan cicit dari Sultan Tubagus Kalamudin, seorang ulama yang memiliki garis keturunan langsung ke Kesultanan Banten. Wafat: Mama Shobari wafat pada hari Rabu, 16 Agustus 1916 (sebagian sumber menyebut rentang usia beliau hingga 1938) dan dimakamkan di lingkungan Pesantren Ciwedus. Sanad Keilmuan & Hubungan Nusantara Murid Syekh Kholil Bangkalan: Mama Sobari merupakan salah satu murid utama dari ulama legendaris Madura, Syekh Kholil Bangkalan. Beliau dianugerahi ijazah khusus untuk mengajarkan kitab Fathul Mu'in. Satu Angkatan dengan Pendiri NU: Saat menimba ilmu di Bangkalan, beliau belajar bersama dengan para santri yang kelak menjadi ulama besar Indonesia, termasuk KH. Hasyim Asy'ari (pendiri Nahdlatul Ulama / Tebuireng). Karakter dan Keteladanan Sifat Wira'i (Sangat Hati-Hati): Beliau dikenal sangat menjaga kesucian diri dan hartanya. Kisah yang terkenal menyebutkan jika beliau menerima pemberian dari santri atau rakyat biasa, beliau menerimanya dengan tangan kanan. Namun, jika sumbangan tersebut datang dari pejabat pemerintah kolonial Belanda, beliau menerimanya dengan tangan kiri sebagai bentuk menjaga diri dan simbol keengganan berkompromi. Tradisi Sedekah Mulud: Beliau mempelopori tradisi Sedekah Mulud di Ciwedus, yaitu gerakan bersedekah massal setiap menyambut peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tanggal 12 Rabiul Awwal yang diisi dengan pembacaan Barzanji dan Diba. Kemandirian Finansial: Salah satu kisah inspiratifnya adalah ketika beliau menolak dibiayai haji oleh para jamaahnya. Beliau memilih mengumpulkan uang logam hasil panennya sendiri yang dicuci bersih dan disimpan di celengan bumbung bambu selama bertahun-tahun hingga akhirnya cukup untuk memberangkatkan haji dirinya beserta keluarga. #kuninganjawabarat #santri #gurungaji #ulamaindonesia

About