@naimatun_niqmah: “Mas, Bi Ijah ke mana ya? Aku cari-cari nggak ada,” tanyaku ke Mas Angga, suamiku. Badanku rasanya remuk, ingin sekali menyesap teh hangat agar sedikit lega. Tapi, sosok Bi Ijah, ART yang sudah bertahun kerja di rumah ini, tak kutemukan. “Sudah dipecat sama Ibu,” jawabnya santai. Aku terhenyak. “Apa? Bi Ijah kan aku yang gaji! Ibu nggak punya hak memecat dia!” bentakku, darahku langsung naik ke kepala. Lagi-lagi, Ibu ikut campur urusan rumah tanggaku. “Kata Ibu, sayang duitnya. Katanya istri itu harus ngerjain sendiri semua pekerjaan rumah,” balas Mas Angga santai. Saking santainya, membuat aku nyaris meledak. “Aku ini kerja, Mas! Dari pagi sampai sore! Lagian, Bi Ijah aku bayar pakai duitku sendiri! Bukan duitmu, apalagi duit Ibu!” sahutku, menahan emosi yang mendidih. “Kamu kok perhitungan banget sih jadi istri? Harusnya kamu bangun pagi, masak, beresin rumah, baru kerja. Gitu aja susah amat?” jawabnya. Dingin. Menusuk. Hatiku terasa koyak. Nafasku memburu. “Aku kerja, urus rumah juga, kamu ngapain? Mana tanggung jawabmu sebagai suami?” Tanyaku lantang. Matanya mulai tajam menatapku. “Kok jadi nyalahin aku? Kamu tahu kan, aku juga lagi cari kerja!” “Iya, tapi sampai sekarang nihil kan?” sahutku, pedas. “Kamu juga tahu sebelum nikah aku belum kerja!” balasnya, seperti tak ada penyesalan. “Dan kamu juga tahu sebelum nikah, aku kerja keras bangun rumah ini! Kamu cuma modal cinta!” bentakku makin panas. Mas Angga diam. “Kalau kamu masih nganggur, ya gantiin tugas Bi Ijah! Atau Ibumu sekalian!” timpalku. Suasana mendadak hening, lalu… “Kamu jangan kurang ajar, Dewi!” Ibu muncul, menyala-nyala. “Pekerjaan rumah itu tugas istri, bukan suami, apalagi mertua!” sambungnya nyaring. Aku menatap Ibu tajam, dengan senyum sinis yang kutahan sejak tadi. “Aku ini capek, pulang kerja malah diajak ribut. Ini rumah saya! Kalau nggak suka dengan aturan saya, silakan keluar dari rumah saya!” ujarku sembari menunjuk pintu. “Dek, kamu ngusir suami dan mertua? Kamu nggak takut dosa?” sahut Mas Angga. Aku mendekat, menatap matanya lekat. “Dosa? Kamu udah setahun nikah, belum pernah ngasih aku nafkah!” ucapku, menekan setiap kata. “Kamu nggak kelaparan kan?” Ibu menimpali. “Cuma karena mecat ART aja sampai kayak gini! Kualat kamu nanti!” Mulutku menyeringai. “Lagian harta kamu juga haknya Angga. Kalian udah nikah, artinya harta bersama!” tambah Ibu. Kalimat itu seperti cambuk menyambar. “Kalau masih mau tinggal di sini, gantikan tugas Bi Ijah. Kalau tidak, saya akan sewa pengacara dan urus semuanya!” tegasku. Aku pun naik ke lantai dua. Kutinggalkan mereka yang masih melongo di ruang tamu. “Ibu itu niatnya baik, Dek! Biar kamu tahu tugas istri!” teriak Mas Angga dari bawah. Aku tidak menjawab. Rasanya, hatiku sudah cukup terluka. Dasar benalu. Apa aku salah pilih suami? Sejak Ibu tinggal di rumah, semua berubah. Awalnya aku terima, bahkan tetap mengirim uang ke Ibu tiap bulan tanpa protes. Tapi makin hari, makin tak tahu diri. Dan Mas Angga? Lebih sering membela Ibunya, bukan istrinya. Yang aku tahu sekarang, sabarku hampir habis. ⸻ Tamat di KBM App. Tersedia juga dia telegram berbayar 40K. Minat bisa hub 0821 7974 1045 Judul: Benalu Penulis: Naimatun_Niqmah
Naimatun Niqmah
Region: ID
Friday 18 September 2026 09:06:19 GMT
Music
Download
Comments
Sah Han :
lanjut kk
2026-09-18 12:00:50
1
something :
kbm ceritanya bagus2... tp gpunya uang aku
2026-09-18 18:49:13
1
makyung :
aqu naik darah baca nya ahh
2026-09-18 12:34:34
0
linanofiani127 :
😳😳😳
2026-09-18 12:29:42
0
To see more videos from user @naimatun_niqmah, please go to the Tikwm
homepage.