@minuka_madushan: පරිස්සම් කරන පරිස්සම් කිරිල්ල දන්නේ මමයි මෙයයි විතරයි..🥹💚💎ගෙනල්ලා හදපුවා මේවා 😌💚#viral #lancerbox⛩️🇯🇵🎌有指 #originalbox #projectcar #onemiillionaudition @Merida🌷🤍🧚‍♀ @Dulanjith Lochana @𝙍 𝙊 𝘽 𝙄 𝙉 🕊 @_KalanaZer @Waruna Madushanka 🇶🇦🇱🇰🇶🇦 @Mr_Nilupul_ Akalanka @Mr. Dananjaya.💸 @Original Lancer Box Club @Binura perera❤️‍🔥✨

Minuka_madushan 🖤🇯🇵
Minuka_madushan 🖤🇯🇵
Open In TikTok:
Region: LK
Friday 18 September 2026 17:25:50 GMT
501
113
5
9

Music

Download

Comments

dulanjith.lochana
Dulanjith Lochana :
Aniwaren❤️💯
2026-09-18 17:42:15
1
mihiraj_gireesha
Mihiraj Gireesha :
clean 🔥🔥💚💚
2026-09-19 12:05:31
0
lakiya_1917
LAKIYA_🩷 :
Aniva 😍
2026-09-19 02:53:54
0
merida31221
Merida🌷🤍🧚‍♀ :
🥰😘
2026-09-18 18:11:48
0
kalanazer
_KalanaZer :
2026-09-18 20:06:38
0
To see more videos from user @minuka_madushan, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV: Pesan beruntun dengan nama pengirim yang sama setiap bilah notifikasinya tak membuatmu lekas membuka. Kamu tahu sanak gerangan tanpa perlu melihatnya. Siapa lagi jika bukan suamimu, Jay.  “(Y/N), harus berapa kali saya mengingatkan untuk balas pesan ketika kamu longgar? Ingat, kamu sudah punya suami sekarang.”  Begitulah pesan terakhir yang Jay kirimkan dengan harapan kamu membalas. Semenjak pasang kaki menginjak Kota Gotham alias Medan, satu bulan pertama menjadi pembiasan kehidupan kalian berumah tangga. Tentunya tidak semata-mata asmara menjadi sumber bahagia. Ada upaya setiap harinya tentang bagaimana kamu maupun Jay belajar bagaimana menjaga hubungan tetap hangat. Mulanya semua berjalan seperti biasa. Kala fajar menyingsing tinggi, kamu akan bersiap lebih dahulu guna membantu persiapan Jay bekerja. Ketika ia pulang membawa lelah, pasti ada pelukanmu yang meredakannya. Pola tersebut perlahan berubah saat kamu kembali menjalankan masa residen tahun ketiga. Intensitas pertemuan dengan Jay kian berkurang, bahkan di rumah sakit yang sama tak ayal jadwal kalian tidak pernah selaras. Kurangnya kepekaanmu melakukan komunikasi dua arah kerap membuat Jay memijit pelipisnya ganar.  Ia hanya butuh kabar darimu. Setidaknya Jay ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja mengemban masa pendidikan. “Stiker ini lagi,” gumam Jay mengembuskan napas jengah. Kebiasaan generasimu yang Jay tak suka.  Segala macam pesan panjang Jay hanya kamu balas dengan satu stiker karakter bintang laut dari kartun kebanggaan dengan tulisan, ‘Siap Saya Catat’ atau tidak ‘Oke Yang Mulia’. Saat itu juga, Jay menekan log panggilan. Butuh tiga detik saja kamu langsung mengangkatnya. “Ya, Dokter?” “Posisi di mana, (Y/N)?” “Saya di bangsal anak, Dok.” Jay menautkan kedua alisnya sejenak. “Untuk apa kamu di sana? Siang ini kamu ada jadwal operasi dengan saya.” “Saya bantu residen tahun pertama pasang infus, Dok. Setelah itu-“ “Tiga puluh menit. Datang sebelum saya seret kamu ke meja operasi sekarang,” potong Jay tegas selayaknya mode konsulen, lalu menutup panggilan sepihak. Ia sontak berdiri dari duduknya dan bergegas menuju tempat pertemuan. Di sisi lain, kamu yang mendengar titah seorang suami sekaligus orang paling disegani di rumah sakit ini refleks melenggang pergi usai merampungkan aksi. Langkah kakimu bergerak cepat, setengah berlari lantaran area rawat inap dengan instalasi bedah berjarak panjang. Sesampainya di tujuan, manik matamu menangkap keberadaan Jay yang berdiri di depan ruang operasi. Ia masih mengenakan snelinya.  Kala derap langkahmu terdengar, Jay mengalihkan perhatian dari gawainya ke arahmu. Sebelum kamu betulan menghampirinya, Jay mengikis jarak dengan merengkuhmu cepat dan membawa ragamu masuk ke ruang sebelah.  “O-Om! Ini mau ngapain?!” panikmu mencoba lepas dari pelukannya. Jay tampak tenang mengunci ruang radiologi dari dalam. Ia menarikmu guna mengikutinya masuk lebih dalam ke bilik ruang eksaminasi—ruang baca rontgen. Tubuhmu di angkat seperti kertas dan didudukkan di atas meja kerja rekan sejawatnya. Kamu jelas kelimpangan akibatnya. Sempat hendak turun, tetapi Jay menahan kuat. Wajahmu ditangkup pelan guna mengecup bibirmu dua kali sentuhan. “Sudah dua hari kamu nggak pulang. Saya khawatir, (Y/N). Kenapa pesan saya nggak kamu balas?” tanya Jay lembut menyelipkan anak rambutmu ke belakang telinga. Pertanyaannya seolah memberi pelukan yang selama ini kamu damba. Kamu merasa diperhatikan.  “Om… aku capek banget. Tapi aku pengen bisa. Makannya aku fokus belajar biar nggak ketinggalan. Maaf jadinya jarang balas pesan kalau bukan urusan kerja,” keluhmu bertutur cemberut. Sebenarnya Jay ingin marah. Namun wajah menggemaskanmu sekarang amat disayangkan bila tak didayagunakan. Jarak tipis antara paras membuat Jay memangkasnya dengan cium kerinduan. Kamu yang merasa aman sontak melingkarkan lengan di lehernya. Kondisi ini membuat pertemuan peluh itu kian lekat menghasilkan alunan cecap. Tidak bohong jika kamu turut merindukannya. (+(1-4)) #jay #pov #enhypen
POV: Pesan beruntun dengan nama pengirim yang sama setiap bilah notifikasinya tak membuatmu lekas membuka. Kamu tahu sanak gerangan tanpa perlu melihatnya. Siapa lagi jika bukan suamimu, Jay. “(Y/N), harus berapa kali saya mengingatkan untuk balas pesan ketika kamu longgar? Ingat, kamu sudah punya suami sekarang.” Begitulah pesan terakhir yang Jay kirimkan dengan harapan kamu membalas. Semenjak pasang kaki menginjak Kota Gotham alias Medan, satu bulan pertama menjadi pembiasan kehidupan kalian berumah tangga. Tentunya tidak semata-mata asmara menjadi sumber bahagia. Ada upaya setiap harinya tentang bagaimana kamu maupun Jay belajar bagaimana menjaga hubungan tetap hangat. Mulanya semua berjalan seperti biasa. Kala fajar menyingsing tinggi, kamu akan bersiap lebih dahulu guna membantu persiapan Jay bekerja. Ketika ia pulang membawa lelah, pasti ada pelukanmu yang meredakannya. Pola tersebut perlahan berubah saat kamu kembali menjalankan masa residen tahun ketiga. Intensitas pertemuan dengan Jay kian berkurang, bahkan di rumah sakit yang sama tak ayal jadwal kalian tidak pernah selaras. Kurangnya kepekaanmu melakukan komunikasi dua arah kerap membuat Jay memijit pelipisnya ganar. Ia hanya butuh kabar darimu. Setidaknya Jay ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja mengemban masa pendidikan. “Stiker ini lagi,” gumam Jay mengembuskan napas jengah. Kebiasaan generasimu yang Jay tak suka. Segala macam pesan panjang Jay hanya kamu balas dengan satu stiker karakter bintang laut dari kartun kebanggaan dengan tulisan, ‘Siap Saya Catat’ atau tidak ‘Oke Yang Mulia’. Saat itu juga, Jay menekan log panggilan. Butuh tiga detik saja kamu langsung mengangkatnya. “Ya, Dokter?” “Posisi di mana, (Y/N)?” “Saya di bangsal anak, Dok.” Jay menautkan kedua alisnya sejenak. “Untuk apa kamu di sana? Siang ini kamu ada jadwal operasi dengan saya.” “Saya bantu residen tahun pertama pasang infus, Dok. Setelah itu-“ “Tiga puluh menit. Datang sebelum saya seret kamu ke meja operasi sekarang,” potong Jay tegas selayaknya mode konsulen, lalu menutup panggilan sepihak. Ia sontak berdiri dari duduknya dan bergegas menuju tempat pertemuan. Di sisi lain, kamu yang mendengar titah seorang suami sekaligus orang paling disegani di rumah sakit ini refleks melenggang pergi usai merampungkan aksi. Langkah kakimu bergerak cepat, setengah berlari lantaran area rawat inap dengan instalasi bedah berjarak panjang. Sesampainya di tujuan, manik matamu menangkap keberadaan Jay yang berdiri di depan ruang operasi. Ia masih mengenakan snelinya. Kala derap langkahmu terdengar, Jay mengalihkan perhatian dari gawainya ke arahmu. Sebelum kamu betulan menghampirinya, Jay mengikis jarak dengan merengkuhmu cepat dan membawa ragamu masuk ke ruang sebelah. “O-Om! Ini mau ngapain?!” panikmu mencoba lepas dari pelukannya. Jay tampak tenang mengunci ruang radiologi dari dalam. Ia menarikmu guna mengikutinya masuk lebih dalam ke bilik ruang eksaminasi—ruang baca rontgen. Tubuhmu di angkat seperti kertas dan didudukkan di atas meja kerja rekan sejawatnya. Kamu jelas kelimpangan akibatnya. Sempat hendak turun, tetapi Jay menahan kuat. Wajahmu ditangkup pelan guna mengecup bibirmu dua kali sentuhan. “Sudah dua hari kamu nggak pulang. Saya khawatir, (Y/N). Kenapa pesan saya nggak kamu balas?” tanya Jay lembut menyelipkan anak rambutmu ke belakang telinga. Pertanyaannya seolah memberi pelukan yang selama ini kamu damba. Kamu merasa diperhatikan. “Om… aku capek banget. Tapi aku pengen bisa. Makannya aku fokus belajar biar nggak ketinggalan. Maaf jadinya jarang balas pesan kalau bukan urusan kerja,” keluhmu bertutur cemberut. Sebenarnya Jay ingin marah. Namun wajah menggemaskanmu sekarang amat disayangkan bila tak didayagunakan. Jarak tipis antara paras membuat Jay memangkasnya dengan cium kerinduan. Kamu yang merasa aman sontak melingkarkan lengan di lehernya. Kondisi ini membuat pertemuan peluh itu kian lekat menghasilkan alunan cecap. Tidak bohong jika kamu turut merindukannya. (+(1-4)) #jay #pov #enhypen

About