@emmabelenantun: podría pasa y paso #fyp #entrevista

Emma
Emma
Open In TikTok:
Region: AR
Saturday 19 September 2026 15:04:42 GMT
6679
463
12
7

Music

Download

Comments

aviadorjando
Aviador Jando :
muy poco profesional la verdad
2026-09-19 18:38:18
1
zoekunischi
𝒵𝑜𝑒𝓀𝓊𝓃𝒾𝓈𝒸𝒽𝒾 :
JAKAJJAJ TE AMO
2026-09-19 18:44:45
0
gonza53817
Gonza :
JDJDJSKWJQJWJQ
2026-09-20 00:57:55
0
victoriapollola.okkk
vicky pollolaa :
JAJAJAJAAJ AMO
2026-09-19 15:45:04
0
rodrigoolmos4
Rodrigo Olrust :
jjajajajajaj
2026-09-19 21:06:58
0
emmadutschmann_
emmaa★ :
JAJAJAJA TE AMO
2026-09-19 16:32:28
0
almaloppezz
almii :
JAJAJAJAJ
2026-09-19 15:47:16
0
marianaprestianni
Nani Pres :
😂😂😂
2026-09-19 16:34:14
0
To see more videos from user @emmabelenantun, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV : Menjadi buah bibir bersama James—terutama karena ia memegang ancaman kuat untuk tidak membongkar rahasia terbesarmu adalah sebuah mimpi buruk.  Sebagai mahasiswa Teknik Arsitektur dengan rambut pirang paling mencolok seantero fakultas, James selalu tahu cara mendikte harimu lewat ketengilannya. Namun, sore itu di trotoar jalan yang sepi setelah keluar dari kafe, seluruh tabiat santai dan usil pria itu menguap tanpa bekas. Begitu pintu kaca kafe berdering dan tertutup rapat di belakang kalian, langkah kakimu langsung terhenti. Kamu menyentak pergelangan tanganmu dengan kasar, melepaskan cengkeraman James yang sejak tadi menuntunmu keluar. Napasmu memburu, memotong udara sore di trotoar jalan yang mulai mendingin. Rasa cemas, malu, dan kemarahan yang sejak berada di dalam kafe menumpuk di dadamu kini tidak bisa dibendung lagi. Kamu melangkah maju, memojokkan James di dekat tiang pembatas jalan dengan tatapan penuh kilat amarah.
POV : Menjadi buah bibir bersama James—terutama karena ia memegang ancaman kuat untuk tidak membongkar rahasia terbesarmu adalah sebuah mimpi buruk. Sebagai mahasiswa Teknik Arsitektur dengan rambut pirang paling mencolok seantero fakultas, James selalu tahu cara mendikte harimu lewat ketengilannya. Namun, sore itu di trotoar jalan yang sepi setelah keluar dari kafe, seluruh tabiat santai dan usil pria itu menguap tanpa bekas. Begitu pintu kaca kafe berdering dan tertutup rapat di belakang kalian, langkah kakimu langsung terhenti. Kamu menyentak pergelangan tanganmu dengan kasar, melepaskan cengkeraman James yang sejak tadi menuntunmu keluar. Napasmu memburu, memotong udara sore di trotoar jalan yang mulai mendingin. Rasa cemas, malu, dan kemarahan yang sejak berada di dalam kafe menumpuk di dadamu kini tidak bisa dibendung lagi. Kamu melangkah maju, memojokkan James di dekat tiang pembatas jalan dengan tatapan penuh kilat amarah. "James! Lo beneran udah gila, ya?!" semprotmu dengan suara yang mulai bergetar menahan tangis. Kedua tanganmu mengepal erat di sisi tubuh. "Maksud lo apa tadi di dalem? Sengaja milih meja tepat di sebelah mereka, ngomongin soal kantin Teknik pake volume keras, terus rangkul-rangkul gue segala?! Lo tahu gak, lo hampir bikin rahasia gue terbongkar di depan Ella! Lo sengaja mau bikin gue kelihatan kayak orang bodoh di depan Juhoon, kan?!" Kamu menahan napas, menatap tajam ke arah mata pirangnya. Kamu sudah bersiap jika James akan membalas rentetan kemarahanmu dengan seringai tengil, cengiran usil, atau kalimat godaan menyebalkan yang biasa ia gunakan untuk memanipulasi kepanikan orang lain. Kamu sudah bersiap untuk semakin membencinya sore itu. Namun, tebakanmu salah besar. Seringai jahil yang biasanya melekat erat pada wajah James perlahan memudar, menyusut hingga akhirnya lenyap sepenuhnya. Untuk pertama kalinya sejak kamu mengenal si pirang badut fakultas ini, sepasang matanya nampak begitu serius, tajam, dan dingin. James menegakkan tubuhnya yang tinggi, melangkah maju satu tindak yang otomatis memangkas jarak di antara kalian hingga bayangan tubuh tegapnya seolah mengurungmu. "Bikin lu kelihatan kayak orang bodoh, lu bilang?" tanya James. Suaranya merendah, kehilangan seluruh nada jenaka yang biasa ia pakai di tongkrongan. "Gue justru lagi bangunin lu dari mimpi bodoh lu yang gak bangun-bangun, tahu kagak?" Kamu tertegun, lidahmu mendadak kelu melihat perubahan drastis pada seluruh auranya. Pria di hadapanmu saat ini terasa asing, begitu dominan dan intimidatif. James merogoh saku jaket kuliah berlogo Teknik miliknya. Saat tangannya kembali keluar, benda yang selama ini menjadi momok menakutkan bagimu kini menggantung di udara. Itu adalah pembatas buku rajutan tangan berinisial JH yang selama ini ia sandera. Tanpa ragu, James meraih jemarimu secara paksa, membuka telapak tanganmu yang dingin, dan meletakkan rajutan lecek itu di atasnya sebelum menutup jemarimu kembali dengan rapat. "Utang lu lunas. Gue gak butuh imbalan apa-apa lagi dari lu mulai detik ini," kata James lurus-lurus, sepasang matanya seolah mengunci pergerakanmu. "Gue emang friendly ke semua cewek di kampus, tapi gue paling gak suka liat ada orang yang kelihatan sehina itu demi cowok lain. Gue sengaja ngelakuin itu tadi di dalam kafe karena gue udah muak. Gue muak tiap hari liat lu terus-terusan ngemis perhatian Juhoon, pura-pura bego di depan draf maket, dan nangisin cowok yang jelas-jelas udah khianatin lu dengan pacaran backstreet di belakang satu kampus." James mundur satu langkah, membetulkan letak tasnya di bahu sebelum memberikan satu tatapan terakhir, seolah sedang membaca sisa-sisa kerapuhan di matamu. "Rajutan lu udah balik. Jadi, berhenti kelihatan menyedihkan di depan dia." Tanpa menunggu jawaban atau pembelaan darimu, James berbalik. Dia berjalan pergi membelakangimu, melangkah santai menyusuri trotoar jalan yang mulai temaram. [💬💬]+ #JAMES #cortis #foryoupage

About