@madhva2.0: Mwen te kòmanse ap chèche fason pou m fè plis pandan m te toujou CNA, ap travay 2 full-time jobs. So mwen pat vle yon lot Job anko. Paske Mwen te fatige ak lide ke sèl fason pou m fè plis lajan se te bay plis èdtan nan travay. Se konsa mwen kòmanse aprann sou diferan side hustles ak biznis online. Komante “CLASS” 👇🏾👇🏾 epi m ap voye envitasyon pou yon live masterclass map fè gratis Dimanche SDV 3 bagay sa yo chanje fason mwen te wè lajan sou entènèt la, e 3 kalite biznis nenpòt moun ka kòmanse pou eseye fè revni anplis? 👇🏾👇🏾 1️⃣ PWODWI DIGITAL Demand pou pwodwi digital ap grandi anpil. E pati ki pi enteresan an? Ou ka kreye epi vann yon pwodwi digital sou nenpòt sijè ki rezoud yon pwoblèm. Jodi a gen anpil zouti ak pwogram ki ka ede w kreye pwòp pwodwi pa w. Men ou ka menm kòmanse ak yon pwodwi ki deja fèt pou ou, konsa ou pa menm bezwen kreye l depi nan zewo. 2️⃣ AFFILIATE MARKETING Gen anpil konpayi ki dispoze peye w komisyon lè ou refere kliyan bay pwodwi yo. Pa egzanp, Amazon gen yon gwo pwogram affiliate. Ou ka pran pwodwi ou renmen, jwenn lyen affiliate ou, fè review oswa fè pwomosyon pou li, epi touche komisyon lè moun achte atravè lyen ou. 3️⃣ VANN / REFER SOFTWARE Sa a se yon lòt model ki enteresan anpil, sitou lè software la gen subscription chak mwa. Ou ka itilize yon software pou biznis ou, renmen li, epi kòmanse refere lòt moun bay li. Si pwogram nan peye recurring commission, ou ka kontinye touche chak mwa pandan kliyan an toujou sou plan an. E yon lòt avantaj? Ou pa bezwen okipe customer service la paske konpayi software la jere sa. Disclaimer: Wi, potansyèl revni an ka enteresan, men rezilta yo depann de efò ou, konsistans ou, estrateji ou ak lòt faktè. Pataje istwa oswa rezilta pa vle di tout moun ap jwenn menm rezilta yo. Siw vle aprann kijan mwen te kòmanse, komante “CLASS” epi m ap voye detay sou free webinar mwen an . 💸👇🏾

Madhva Positif
Madhva Positif
Open In TikTok:
Region: US
Monday 21 September 2026 14:23:44 GMT
78
4
2
1

Music

Download

Comments

marie.marcelus.no
Marie marcelus Noël :
👍👍👍
2026-09-21 19:26:52
0
To see more videos from user @madhva2.0, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menegaskan bahwa krisis geopolitik global yang berdampak pada terganggunya pasokan petrokimia dan melonjaknya harga plastik, seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk memutus ketergantungan pada plastik. Eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk ancaman penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi utama minyak dan bahan baku petrokimia dunia, kembali menunjukkan rapuhnya sistem industri nasional yang bergantung pada impor dan ekonomi linear (ambil-buat-buang). Gangguan pada pasokan nafta, bahan baku utama industri plastik, saat ini memicu lonjakan harga resin plastik secara global. Kenaikan harga polietilena (PE) dan polipropilena (PP) dalam waktu singkat berdampak langsung pada industri kemasan, pedagang kecil, dan konsumen. Di pasar domestik, kenaikan harga kantong plastik menekan margin pedagang, memicu kenaikan harga barang kebutuhan sehari-hari, serta memperburuk inflasi. Pada saat yang sama, impor plastik yang terus meningkat semakin membebani neraca perdagangan Indonesia dan memperlemah kedaulatan ekonomi nasional. Pada titik inilah agenda zero waste dan ekonomi sirkular menemukan urgensinya. WALHI memandang bahwa. mengurangi timbulan sampah di hulu, melalui pengurangan produksi plastik sekali pakai, pengembangan sistem guna ulang, dan perubahan model konsumsi, merupakan strategi paling efektif sekaligus berkeadilan untuk melindungi lingkungan dan rakyat. Transisi ini harus dibangun secara demokratis, berbasis potensi wilayah, serta selaras dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Sebagai tawaran konkrit, dalam jangka pendek, WALHI mendesak pemerintah memastikan perlindungan terhadap masyarakat kecil dari dampak lonjakan harga plastik dan produk kemasan, sekaligus mengalihkan anggaran negara dari proyek-proyek yang tidak menjawab krisis ekologis menuju penguatan sistem produksi dan distribusi yang rendah sampah, inklusif, dan berpihak pada kepentingan publik. #PulihkanIndonesia #adildanlestari
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menegaskan bahwa krisis geopolitik global yang berdampak pada terganggunya pasokan petrokimia dan melonjaknya harga plastik, seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk memutus ketergantungan pada plastik. Eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk ancaman penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi utama minyak dan bahan baku petrokimia dunia, kembali menunjukkan rapuhnya sistem industri nasional yang bergantung pada impor dan ekonomi linear (ambil-buat-buang). Gangguan pada pasokan nafta, bahan baku utama industri plastik, saat ini memicu lonjakan harga resin plastik secara global. Kenaikan harga polietilena (PE) dan polipropilena (PP) dalam waktu singkat berdampak langsung pada industri kemasan, pedagang kecil, dan konsumen. Di pasar domestik, kenaikan harga kantong plastik menekan margin pedagang, memicu kenaikan harga barang kebutuhan sehari-hari, serta memperburuk inflasi. Pada saat yang sama, impor plastik yang terus meningkat semakin membebani neraca perdagangan Indonesia dan memperlemah kedaulatan ekonomi nasional. Pada titik inilah agenda zero waste dan ekonomi sirkular menemukan urgensinya. WALHI memandang bahwa. mengurangi timbulan sampah di hulu, melalui pengurangan produksi plastik sekali pakai, pengembangan sistem guna ulang, dan perubahan model konsumsi, merupakan strategi paling efektif sekaligus berkeadilan untuk melindungi lingkungan dan rakyat. Transisi ini harus dibangun secara demokratis, berbasis potensi wilayah, serta selaras dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Sebagai tawaran konkrit, dalam jangka pendek, WALHI mendesak pemerintah memastikan perlindungan terhadap masyarakat kecil dari dampak lonjakan harga plastik dan produk kemasan, sekaligus mengalihkan anggaran negara dari proyek-proyek yang tidak menjawab krisis ekologis menuju penguatan sistem produksi dan distribusi yang rendah sampah, inklusif, dan berpihak pada kepentingan publik. #PulihkanIndonesia #adildanlestari

About