@lynk.spa: Ai đang muốn căng bóng – phục hồi – chăm da – làm đẹp thì tranh thủ ghé Lynk săn deal ngay, kẻo hết suất lại tiếc đóoo! 🥹 #lynkspaquan3 #chamsocda #uudai #chotdeal #viralvideo

Lynk Spa
Lynk Spa
Open In TikTok:
Region: VN
Tuesday 22 September 2026 05:14:39 GMT
322
6
0
1

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @lynk.spa, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Anwar Congo dikenal sebagai salah satu pelaku eksekusi dalam kekerasan massal 1965–1966 di Indonesia. Ia kemudian menjadi tokoh utama film dokumenter 'The Act of Killing' karya Joshua Oppenheimer. Congo tumbuh di sekitar Medan dan meninggalkan sekolah sejak usia 12 tahun. Ia kemudian masuk dunia kriminal, mulai dari perdagangan tiket bioskop hingga pemerasan, perjudian, penyelundupan, dan akhirnya menjadi pembunuh bayaran. Saat pergolakan politik 1965 terjadi, Congo dan kelompoknya direkrut militer untuk memburu orang-orang yang dituding berafiliasi dengan komunisme. Kelompok yang dikenal sebagai Pasukan Kodok itu melakukan interogasi, penyiksaan, dan pembunuhan terhadap ratusan tersangka kiri. Dalam The Act of Killing, Congo bersama rekan-rekannya diminta memerankan kembali aksi pembunuhan tersebut. Ia bahkan memperagakan metode yang digunakan, sambil menceritakan bagaimana kelompoknya terinspirasi film mafia dan western Hollywood. Namun, proses pembuatan film perlahan membuat Congo menghadapi kembali masa lalunya. Ia mengaku mengalami mimpi buruk dan mempertanyakan perbuatannya setelah memerankan dirinya sebagai korban yang dicekik menggunakan kawat. Congo meninggal dunia pada 25 Oktober dalam usia 78 tahun. Film tersebut kemudian memicu perbincangan luas mengenai pembunuhan massal 1965. Meski mendapat kritik karena memberi ruang kepada para pelaku, film pendamping 'The Look of Silence' kemudian menyoroti pengalaman para penyintas. Bagaimana menurut kamu? Creative Video: Abdul Rouf Ade Segun #Rmol #republikmerdeka #republikmerdekaonline
Anwar Congo dikenal sebagai salah satu pelaku eksekusi dalam kekerasan massal 1965–1966 di Indonesia. Ia kemudian menjadi tokoh utama film dokumenter 'The Act of Killing' karya Joshua Oppenheimer. Congo tumbuh di sekitar Medan dan meninggalkan sekolah sejak usia 12 tahun. Ia kemudian masuk dunia kriminal, mulai dari perdagangan tiket bioskop hingga pemerasan, perjudian, penyelundupan, dan akhirnya menjadi pembunuh bayaran. Saat pergolakan politik 1965 terjadi, Congo dan kelompoknya direkrut militer untuk memburu orang-orang yang dituding berafiliasi dengan komunisme. Kelompok yang dikenal sebagai Pasukan Kodok itu melakukan interogasi, penyiksaan, dan pembunuhan terhadap ratusan tersangka kiri. Dalam The Act of Killing, Congo bersama rekan-rekannya diminta memerankan kembali aksi pembunuhan tersebut. Ia bahkan memperagakan metode yang digunakan, sambil menceritakan bagaimana kelompoknya terinspirasi film mafia dan western Hollywood. Namun, proses pembuatan film perlahan membuat Congo menghadapi kembali masa lalunya. Ia mengaku mengalami mimpi buruk dan mempertanyakan perbuatannya setelah memerankan dirinya sebagai korban yang dicekik menggunakan kawat. Congo meninggal dunia pada 25 Oktober dalam usia 78 tahun. Film tersebut kemudian memicu perbincangan luas mengenai pembunuhan massal 1965. Meski mendapat kritik karena memberi ruang kepada para pelaku, film pendamping 'The Look of Silence' kemudian menyoroti pengalaman para penyintas. Bagaimana menurut kamu? Creative Video: Abdul Rouf Ade Segun #Rmol #republikmerdeka #republikmerdekaonline

About