@billdickeyhusband: Fair #freddiemcclair #skinsuk #cookskins #freddieskins #fyp

𐙚𝓛𝓔𝓞
𐙚𝓛𝓔𝓞
Open In TikTok:
Region: NL
Tuesday 22 September 2026 17:12:43 GMT
9365
1770
4
565

Music

Download

Comments

4lex._.xel4
𑣲. ᴀʟᴇxᴏᴇ<3 :
we still do
2026-09-22 17:14:16
4
dollrosze
ً :
@brook.el1
2026-10-09 00:36:13
0
ellieistoocoolxo
shanondebussy :
@neeva
2026-10-07 16:54:49
0
offl1ne.xe
Aleeza :
@𝐊 𝐙 @Shai
2026-10-09 21:31:00
0
To see more videos from user @billdickeyhusband, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

“Istriku sudah aku cukupi.” Gus Baha mengingatkan, jangan terlalu mudah mengatakan bahwa kita telah mencukupi pasangan hanya karena merasa sudah memberikan uang dalam jumlah tertentu. Misalnya memberi Rp10 juta atau bahkan Rp100 juta setiap bulan. Apakah otomatis sudah cukup? Belum tentu. Sebab kalau Allah memberikan ujian berupa sakit, apakah uang sebanyak itu masih terasa cukup? Ketika seseorang harus menjalani pengobatan yang panjang dan mahal, kita akan sadar bahwa kemampuan manusia memang terbatas. Bahkan kesehatan yang selama ini kita anggap biasa saja sebenarnya adalah nikmat besar dari Allah. Gus Baha kemudian mengingat kembali pesan ayahnya ketika memberikan uang: “Yang tidak cukup itu uangku. Kalau rahmatnya Allah, ya tetap cukup.” Kalimat sederhana, tetapi dalam maknanya. Kita memang wajib berusaha memenuhi kebutuhan keluarga. Seorang suami wajib menafkahi keluarganya sesuai kemampuan. Tetapi jangan sampai merasa bahwa kita adalah sumber kecukupan bagi mereka. Allah-lah yang sebenarnya mencukupi. Allah berfirman: وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” (QS. At-Talaq: 3) Maka, berikan nafkah dengan ikhlas. Berusaha semampunya. Jangan merasa paling berjasa. Sebab uang kita bisa habis. Penghasilan bisa berkurang. Kekayaan bisa hilang. Bahkan kesehatan pun bisa berubah dalam sekejap. Tetapi rahmat Allah tidak pernah terbatas. Jadi, bukan tentang seberapa besar yang mampu kita berikan. Yang paling penting adalah menyadari: kita hanya menjadi perantara, sedangkan Allah-lah Yang Maha Mencukupi. #GusBaha #Ngaji #KajianIslam #Nafkah #Keluarga #Suami #Istri #Tawakal #RahmatAllah #Rezeki #NasihatUlama #DakwahIslam #Islam #Santri #Pesantren #Ulama #NderekUlama #nderekulama
“Istriku sudah aku cukupi.” Gus Baha mengingatkan, jangan terlalu mudah mengatakan bahwa kita telah mencukupi pasangan hanya karena merasa sudah memberikan uang dalam jumlah tertentu. Misalnya memberi Rp10 juta atau bahkan Rp100 juta setiap bulan. Apakah otomatis sudah cukup? Belum tentu. Sebab kalau Allah memberikan ujian berupa sakit, apakah uang sebanyak itu masih terasa cukup? Ketika seseorang harus menjalani pengobatan yang panjang dan mahal, kita akan sadar bahwa kemampuan manusia memang terbatas. Bahkan kesehatan yang selama ini kita anggap biasa saja sebenarnya adalah nikmat besar dari Allah. Gus Baha kemudian mengingat kembali pesan ayahnya ketika memberikan uang: “Yang tidak cukup itu uangku. Kalau rahmatnya Allah, ya tetap cukup.” Kalimat sederhana, tetapi dalam maknanya. Kita memang wajib berusaha memenuhi kebutuhan keluarga. Seorang suami wajib menafkahi keluarganya sesuai kemampuan. Tetapi jangan sampai merasa bahwa kita adalah sumber kecukupan bagi mereka. Allah-lah yang sebenarnya mencukupi. Allah berfirman: وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” (QS. At-Talaq: 3) Maka, berikan nafkah dengan ikhlas. Berusaha semampunya. Jangan merasa paling berjasa. Sebab uang kita bisa habis. Penghasilan bisa berkurang. Kekayaan bisa hilang. Bahkan kesehatan pun bisa berubah dalam sekejap. Tetapi rahmat Allah tidak pernah terbatas. Jadi, bukan tentang seberapa besar yang mampu kita berikan. Yang paling penting adalah menyadari: kita hanya menjadi perantara, sedangkan Allah-lah Yang Maha Mencukupi. #GusBaha #Ngaji #KajianIslam #Nafkah #Keluarga #Suami #Istri #Tawakal #RahmatAllah #Rezeki #NasihatUlama #DakwahIslam #Islam #Santri #Pesantren #Ulama #NderekUlama #nderekulama

About