@coach_kaiser: #Happy_National_Day #Saudi_Arabia 96th Saudi national day, I would say my second home, but I’d be lying, as it’s my first 💚🤍💚

Kaiser 🇸🇦
Kaiser 🇸🇦
Open In TikTok:
Region: SA
Wednesday 23 September 2026 18:21:51 GMT
1694
101
14
12

Music

Download

Comments

hadi32310
Hadi🇸🇦 :
You are officially saudi my friend
2026-09-23 18:36:46
4
iram.logs
iram.logs :
افااا وين الاحتفالات ياكيسر
2026-09-23 18:28:48
2
tnezc
پسگوڤ🇸🇦 :
ithe the
2026-09-23 18:33:34
1
faisal.albishi4
faisal.albishi4 :
2026-09-23 19:25:15
1
lvbpjr
3rksh :
2026-09-23 18:25:25
1
catonamission
catonamission :
Walahi ?
2026-09-23 22:17:05
0
ddrreeaammi
🧣Dream🧣 :
2026-09-23 18:27:30
0
yaseiruh
Yaseiruh :
Rate my fit
2026-09-23 18:23:50
1
roubalogy
Na :
قيصر كم طولك تبارك الله فتحت الكومنت بكتب ولازالت صلعتك طالعه 🙊
2026-09-23 18:25:38
1
To see more videos from user @coach_kaiser, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Malam selepas Isya terasa sedikit gerah. Seperti biasa, ketika suasana mulai tenang, kubuat secangkir kopi. Ini kopi keempat hari ini. Kopi ketiga kuminum siang tadi, di sebuah kedai kopi di tengah kota, bersama dua sahabat lama. Mereka sama-sama pengusaha properti dan aku sebagai petani. Awalnya, seperti biasa, percakapan kami berputar pada dunia usaha situasi bisnis properti, perubahan zaman, dan berbagai kendala yang sedang kami hadapi. Namun entah mengapa, siang tadi kami tidak terlalu ingin membicarakan kesulitan. Mungkin usia membuat cara pandang kami mulai berubah. Percakapan perlahan meninggalkan angka-angka, tanah, bangunan, dan urusan bisnis. Kami mulai berbicara tentang sesuatu yang lebih dekat dengan hati: tentang rasa yang kami alami ketika usia mulai mendekati setengah abad. Ternyata kami memiliki rasa yang hampir sama. Di usia seperti ini, malam hari tidak lagi terlalu menarik untuk dihabiskan di luar rumah. Ada kenikmatan yang berbeda ketika bisa pulang, duduk bersama keluarga, mendengar cerita anak-anak, berbincang dengan istri, lalu menikmati malam tanpa harus mengejar apa-apa. Kami bercerita tentang keluarga masing-masing. Tentang anak-anak yang kini mulai dewasa dan sebagian masih menempuh kuliah. Tentang bagaimana mereka kelak menghadapi zaman yang mungkin jauh berbeda dari zaman yang pernah kami lalui. Kami bertukar pikiran tentang masa depan mereka. Tentang pekerjaan, tentang kehidupan, tentang tanggung jawab, bahkan tentang jodoh. Kami tertawa ketika menyadari bahwa dulu kami sibuk memikirkan bagaimana membangun masa depan kami sendiri. Kini, pikiran kami justru banyak tertuju pada bagaimana menyiapkan masa depan anak-anak. Kemudian percakapan membawa kami pada sesuatu yang lebih sunyi. Tentang kehidupan yang tersisa. Tentang bagaimana menikmati hidup hari ini, tetapi tetap mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian. Aku berkata kepada mereka dengan kalimat yang sederhana,
Malam selepas Isya terasa sedikit gerah. Seperti biasa, ketika suasana mulai tenang, kubuat secangkir kopi. Ini kopi keempat hari ini. Kopi ketiga kuminum siang tadi, di sebuah kedai kopi di tengah kota, bersama dua sahabat lama. Mereka sama-sama pengusaha properti dan aku sebagai petani. Awalnya, seperti biasa, percakapan kami berputar pada dunia usaha situasi bisnis properti, perubahan zaman, dan berbagai kendala yang sedang kami hadapi. Namun entah mengapa, siang tadi kami tidak terlalu ingin membicarakan kesulitan. Mungkin usia membuat cara pandang kami mulai berubah. Percakapan perlahan meninggalkan angka-angka, tanah, bangunan, dan urusan bisnis. Kami mulai berbicara tentang sesuatu yang lebih dekat dengan hati: tentang rasa yang kami alami ketika usia mulai mendekati setengah abad. Ternyata kami memiliki rasa yang hampir sama. Di usia seperti ini, malam hari tidak lagi terlalu menarik untuk dihabiskan di luar rumah. Ada kenikmatan yang berbeda ketika bisa pulang, duduk bersama keluarga, mendengar cerita anak-anak, berbincang dengan istri, lalu menikmati malam tanpa harus mengejar apa-apa. Kami bercerita tentang keluarga masing-masing. Tentang anak-anak yang kini mulai dewasa dan sebagian masih menempuh kuliah. Tentang bagaimana mereka kelak menghadapi zaman yang mungkin jauh berbeda dari zaman yang pernah kami lalui. Kami bertukar pikiran tentang masa depan mereka. Tentang pekerjaan, tentang kehidupan, tentang tanggung jawab, bahkan tentang jodoh. Kami tertawa ketika menyadari bahwa dulu kami sibuk memikirkan bagaimana membangun masa depan kami sendiri. Kini, pikiran kami justru banyak tertuju pada bagaimana menyiapkan masa depan anak-anak. Kemudian percakapan membawa kami pada sesuatu yang lebih sunyi. Tentang kehidupan yang tersisa. Tentang bagaimana menikmati hidup hari ini, tetapi tetap mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian. Aku berkata kepada mereka dengan kalimat yang sederhana, "Tidak apa-apa kalau hari ini bekal amal ibadah kita mungkin belum begitu banyak. Tapi kalau hari ini kita mampu tidak berbuat dosa, bukankah itu juga sesuatu yang layak kita rayakan?" Kami terdiam sebentar. Sebab semakin bertambah usia, mungkin kita mulai memahami bahwa hidup bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan. Ada juga sesuatu yang harus kita jaga agar tidak semakin bertambah: dosa. Mungkin kita belum mampu menjadi manusia yang amalnya memenuhi langit. Tetapi setidaknya, setiap hari kita masih bisa berusaha menjaga lisan, menjaga hati, menahan diri dari menyakiti, dan pulang ke rumah tanpa membawa keburukan kepada orang lain. Barangkali itulah bentuk sederhana dari syukur yang sering tidak kita sadari. Menjelang sore, kami pun berpisah dan pulang ke rumah masing-masing. Sebelum berpisah, kami membuat janji kecil untuk Jumat besok. Mereka akan datang ke rumahku untuk melihat kebun anggur. Mungkin ada beberapa bibit yang bisa mereka tanam di halaman rumah masing-masing. Menarik rasanya melihat perjalanan hidup kami. Dulu kami bertemu untuk membicarakan bagaimana membangun dan menjual rumah. Kini, menjelang setengah abad, kami justru berbicara tentang rumah sebagai tempat pulang, tentang keluarga sebagai tempat menenangkan hati, tentang anak-anak yang harus kami lepaskan perlahan, dan tentang bekal yang akan kami bawa ketika suatu hari nanti benar-benar meninggalkan rumah. Malam semakin larut. Kopi keempat masih mengepulkan aroma di hadapanku. Dan aku kembali berpikir, mungkin semakin tua seseorang bukan semakin banyak yang ingin dimilikinya, tetapi semakin sedikit yang ingin dikejarnya. Cukup keluarga yang sehat. Cukup sahabat yang masih bisa diajak berbicara. Cukup rezeki yang halal. Cukup hati yang tenang. Dan semoga, ketika waktunya tiba, kita tidak terlalu banyak membawa dunia di dalam hati—agar tangan kita lebih ringan membawa bekal menuju pulang. #ebietgade #masihadawaktu #ceritakopi #malam #fyp

About