@c7sfl: اخذ ذكراك من گلبي …… #ميرزا_حيدر_الابراهيمي #عزاء_الناصرية_الموحد #ياحسين #اكسبلور

﮼مملوك،الرقيـة ³¹⁵
﮼مملوك،الرقيـة ³¹⁵
Open In TikTok:
Region: IQ
Thursday 24 September 2026 11:50:38 GMT
3509
819
1
36

Music

Download

Comments

5.20z_
زهٓـرﭑ۽ . :
💔.
2026-09-24 20:28:50
0
To see more videos from user @c7sfl, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

“Apakah, kita bisa mempunyai rumah yang hangat karena kemesraan di dalamnya? Apakah kita bisa mendapatkan kemesraan itu?” Barangkali, rumah bukanlah sekadar bangunan yang berdiri di atas tanah, dengan dinding yang kokoh dan atap yang melindungi penghuninya dari hujan. Rumah adalah tempat di mana hati menemukan alasan untuk pulang. Tempat di mana nama kita disebut dengan penuh kasih, bukan sekadar untuk memanggil, melainkan untuk memastikan bahwa kita masih ada. Sebab, ada rumah yang begitu besar, tetapi terasa sunyi meskipun di dalamnya tinggal banyak manusia. Ada pula rumah yang sederhana, tidak memiliki banyak kemewahan, tetapi selalu menyimpan kehangatan di setiap sudutnya. Mungkin, yang membuat sebuah rumah terasa hangat bukanlah luas ruangannya, mahalnya perabotan, ataupun indahnya bangunan. Melainkan mereka yang tinggal di dalamnya. Sebuah tatapan yang memahami tanpa perlu banyak bertanya. Sebuah percakapan sederhana di penghujung hari. Suara seseorang yang menanyakan apakah kita sudah makan. Tangan yang bersedia mengusap kepala ketika dunia terasa terlalu berat. Atau sekadar keberadaan seseorang yang membuat kesunyian tidak lagi terasa seperti kesepian. Kemesraan, barangkali, tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar. Ia dapat bersembunyi di antara hal-hal kecil yang sering kita anggap biasa. Di balik secangkir teh yang dibuatkan tanpa diminta. Di balik pintu yang sengaja dibiarkan terbuka karena seseorang tahu kita akan pulang. Di balik meja makan yang mungkin tidak menyajikan hidangan mewah, tetapi selalu menyediakan tempat untuk kita duduk. Kita sering kali mencari kebahagiaan jauh-jauh, seolah-olah ia berada di tempat yang belum pernah kita datangi. Padahal, mungkin, kebahagiaan pernah duduk di samping kita, menemani makan malam, lalu mengingatkan kita untuk tidur lebih awal. Namun, tidak semua orang beruntung mengenal rumah seperti itu. Ada mereka yang tumbuh dengan rumah sebagai tempat tinggal, tetapi tidak pernah benar-benar merasa memiliki tempat untuk pulang. Ada yang mengenal suara pintu terbuka, tetapi tidak mengenal suara seseorang yang menunggu kepulangannya. Ada yang hafal bentuk setiap sudut rumahnya, tetapi asing dengan perasaan nyaman di dalamnya. Lalu, apakah kemesraan dapat diciptakan? Mungkin bisa. Tetapi kemesraan tidak dapat dipaksa untuk tumbuh hanya karena kita menginginkannya. Ia membutuhkan waktu, perhatian, kesabaran, dan hati yang bersedia saling memahami. Sebab, kehangatan tidak lahir dari satu orang yang terus-menerus memberi, sementara yang lain hanya menerima. Rumah yang hangat dibangun oleh banyak hal yang sederhana: saling mendengar, saling menghargai, saling memaafkan, dan yang paling penting, saling memilih untuk tetap menjadi tempat pulang. Karena pada akhirnya, rumah bukan tentang ke mana kita pergi. Rumah adalah tentang kepada siapa kita ingin kembali. Dan mungkin, selama kita masih memiliki seseorang yang menunggu di balik pintu, masih ada suara yang memanggil nama kita dengan penuh kasih, masih ada tangan yang bersedia menggenggam ketika langkah kita mulai lelah—barangkali, di sanalah kita menemukan arti rumah yang sesungguhnya. Sebuah tempat yang tidak selalu sempurna. Sebuah tempat yang mungkin pernah dipenuhi pertengkaran, tangisan, dan kesalahpahaman. Namun, tetap menjadi tempat yang ingin kita datangi lagi. Sebab kehangatan bukan berarti tidak pernah ada dingin. Kehangatan adalah ketika, setelah segala dingin berlalu, masih ada seseorang yang menyalakan lampu dan berkata, “Pulanglah. Kami masih menunggumu.” Rumah Hangat Yang Selalu Dinanti. On Wattpad By : NalaSinga/4evernala. Ayo ramaikan! #fyp  #wattpad  #4evernala  #masukberanda  #rameinyuk
“Apakah, kita bisa mempunyai rumah yang hangat karena kemesraan di dalamnya? Apakah kita bisa mendapatkan kemesraan itu?” Barangkali, rumah bukanlah sekadar bangunan yang berdiri di atas tanah, dengan dinding yang kokoh dan atap yang melindungi penghuninya dari hujan. Rumah adalah tempat di mana hati menemukan alasan untuk pulang. Tempat di mana nama kita disebut dengan penuh kasih, bukan sekadar untuk memanggil, melainkan untuk memastikan bahwa kita masih ada. Sebab, ada rumah yang begitu besar, tetapi terasa sunyi meskipun di dalamnya tinggal banyak manusia. Ada pula rumah yang sederhana, tidak memiliki banyak kemewahan, tetapi selalu menyimpan kehangatan di setiap sudutnya. Mungkin, yang membuat sebuah rumah terasa hangat bukanlah luas ruangannya, mahalnya perabotan, ataupun indahnya bangunan. Melainkan mereka yang tinggal di dalamnya. Sebuah tatapan yang memahami tanpa perlu banyak bertanya. Sebuah percakapan sederhana di penghujung hari. Suara seseorang yang menanyakan apakah kita sudah makan. Tangan yang bersedia mengusap kepala ketika dunia terasa terlalu berat. Atau sekadar keberadaan seseorang yang membuat kesunyian tidak lagi terasa seperti kesepian. Kemesraan, barangkali, tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar. Ia dapat bersembunyi di antara hal-hal kecil yang sering kita anggap biasa. Di balik secangkir teh yang dibuatkan tanpa diminta. Di balik pintu yang sengaja dibiarkan terbuka karena seseorang tahu kita akan pulang. Di balik meja makan yang mungkin tidak menyajikan hidangan mewah, tetapi selalu menyediakan tempat untuk kita duduk. Kita sering kali mencari kebahagiaan jauh-jauh, seolah-olah ia berada di tempat yang belum pernah kita datangi. Padahal, mungkin, kebahagiaan pernah duduk di samping kita, menemani makan malam, lalu mengingatkan kita untuk tidur lebih awal. Namun, tidak semua orang beruntung mengenal rumah seperti itu. Ada mereka yang tumbuh dengan rumah sebagai tempat tinggal, tetapi tidak pernah benar-benar merasa memiliki tempat untuk pulang. Ada yang mengenal suara pintu terbuka, tetapi tidak mengenal suara seseorang yang menunggu kepulangannya. Ada yang hafal bentuk setiap sudut rumahnya, tetapi asing dengan perasaan nyaman di dalamnya. Lalu, apakah kemesraan dapat diciptakan? Mungkin bisa. Tetapi kemesraan tidak dapat dipaksa untuk tumbuh hanya karena kita menginginkannya. Ia membutuhkan waktu, perhatian, kesabaran, dan hati yang bersedia saling memahami. Sebab, kehangatan tidak lahir dari satu orang yang terus-menerus memberi, sementara yang lain hanya menerima. Rumah yang hangat dibangun oleh banyak hal yang sederhana: saling mendengar, saling menghargai, saling memaafkan, dan yang paling penting, saling memilih untuk tetap menjadi tempat pulang. Karena pada akhirnya, rumah bukan tentang ke mana kita pergi. Rumah adalah tentang kepada siapa kita ingin kembali. Dan mungkin, selama kita masih memiliki seseorang yang menunggu di balik pintu, masih ada suara yang memanggil nama kita dengan penuh kasih, masih ada tangan yang bersedia menggenggam ketika langkah kita mulai lelah—barangkali, di sanalah kita menemukan arti rumah yang sesungguhnya. Sebuah tempat yang tidak selalu sempurna. Sebuah tempat yang mungkin pernah dipenuhi pertengkaran, tangisan, dan kesalahpahaman. Namun, tetap menjadi tempat yang ingin kita datangi lagi. Sebab kehangatan bukan berarti tidak pernah ada dingin. Kehangatan adalah ketika, setelah segala dingin berlalu, masih ada seseorang yang menyalakan lampu dan berkata, “Pulanglah. Kami masih menunggumu.” Rumah Hangat Yang Selalu Dinanti. On Wattpad By : NalaSinga/4evernala. Ayo ramaikan! #fyp #wattpad #4evernala #masukberanda #rameinyuk

About