AQUA 136 :
Cahaya Tak Pernah Sendirian
Narator:
Angin berhembus lembut, membelai rambut mereka yang masih bergandengan tangan. Cahaya matahari makin terang, menyebar ke seluruh penjuru hutan kecil itu, seolah menyentuh setiap daun, setiap bunga, setiap jengkal tanah yang mereka pijak.
Ronal — meremas pelan tangan Lestari di sebelahnya, lalu menatap semua teman-temannya:
"Tadi Bu Guru bilang... kalau kita berbagi, cahaya tak berkurang. Tapi aku merasa... justru makin banyak, makin terang!"
Lestari — tersenyum tulus, matanya berbinar:
"Benar, Ronal. Dulu aku takut lewat jalan sepi sendirian. Sekarang? Kalau kamu di sini, aku berani. Kalau kita semua bersama, jalan gelap pun terasa seperti siang hari."
Guru Christina — melingkarkan tangan di bahu mereka, suaranya lembut namun tegas:
"Ingatlah, anak-anak — cahaya terang itu bukan milik satu orang saja. Ia tak akan pernah habis jika kalian saling berbagi. Bahkan saat kalian terpisah, saat tak bisa saling bertemu... cahaya yang kalian tanam di hati satu sama lain tak akan pernah padam."
Seorang murid kecil — bertanya pelan:
"Kalau nanti kita pulang ke rumah masing-masing, Bu Guru? Apakah cahayanya tetap ada?"
Guru Christina — menatapnya dengan lembut:
"Tetap ada. Karena sekarang kalian sudah menjadi sumber cahaya satu sama lain. Saat kau sendirian, ingatlah: ada hati yang menyala untukmu. Dan saat kau menyala, kau juga menerangi hati orang lain."
Ronal — mengangkat tangan yang masih menggenggam tangan teman di sebelahnya:
"Berarti... kita bawa cahaya ini ke mana pun kita pergi?"
Semua anak — serempak menjawab riang:
"YA! KE MANA PUN KITA PERGI — KITA MEMBAWA TERANG!"
Narator:
Mereka melepaskan genggaman perlahan, tapi tak ada yang menjauh. Setiap wajah bersinar bukan karena sinar matahari saja — melainkan karena ada kehangatan yang tumbuh dari dalam, satu ke hati yang lain, menyatu, tak terpisahkan.
2026-09-24 20:09:15