@feripurwo: Ateis dimusuhi karena tidak bertuhan. Yang bertuhan dimusuhi karena Tuhannya berbeda. Tuhannya sama, masih bertengkar karena nabinya berbeda. Nabinya sama, berselisih karena alirannya berbeda. Alirannya sama, berjarak karena gurunya berbeda. Gurunya sama pun akhirnya saling meninggalkan hanya karena pendapatnya tidak serupa. Lalu sampai di mana kita akan terus membelah manusia? Sampai hanya tersisa diri sendiri? Kadang persoalannya bukan lagi tentang siapa yang memiliki keyakinan paling benar. Persoalannya adalah ketika keyakinan kepada kebenaran perlahan berubah menjadi keinginan agar semua manusia harus menjadi seperti kita. Kita boleh mempunyai keyakinan. Bahkan kita harus bersungguh-sungguh terhadap apa yang kita yakini. Tetapi bukankah ada perbedaan antara meyakini sesuatu sebagai kebenaran dan merasa diri lebih tinggi daripada manusia yang belum melihat kebenaran dengan cara yang sama? Di situlah ego sering menyamar. Ia mengenakan pakaian agama. Membawa nama Tuhan. Mengutip ajaran. Berbicara tentang kebenaran. Tetapi diam-diam menikmati perasaan menjadi manusia yang paling benar. Padahal semakin seseorang menyadari kebesaran Tuhan, semestinya semakin kecil keinginannya untuk membesarkan dirinya sendiri. Kita tidak harus kehilangan keyakinan untuk menghormati perbedaan. Kita tidak harus menyetujui seseorang untuk memperlakukannya dengan baik. Kita tidak harus mengikuti jalan hidupnya untuk mengakui bahwa ia tetap manusia yang mempunyai kehormatan, keluarga, luka, harapan, dan hak untuk diperlakukan dengan adab. Sebab kedewasaan spiritual bukan kemampuan membuat seluruh dunia sepakat dengan kita. Ia adalah kemampuan tetap mempunyai prinsip tanpa kehilangan kasih kepada manusia. Masa depan akan mempertemukan kita dengan dunia yang semakin dekat sekaligus semakin berbeda. Dalam satu layar, berbagai agama, pemikiran, budaya, mazhab, dan pandangan akan bertemu setiap hari. Jika setiap perbedaan dianggap ancaman, jiwa kita akan hidup dalam peperangan yang tidak pernah selesai. Hari ini membenci mereka yang berbeda agama. Besok berbeda kelompok. Lusa berbeda guru. Kemudian berbeda pendapat. Sampai akhirnya kita hanya mampu mencintai manusia yang menjadi pantulan diri sendiri. Lalu untuk apa Tuhan menciptakan dunia seluas ini jika hati kita hanya menyediakan ruang bagi mereka yang serupa? Berbeda bukan berarti semua pendapat benar. Toleransi bukan berarti kehilangan prinsip. Dan menghormati bukan berarti harus menyetujui. Justru kedewasaan adalah ketika kita mampu berkata: “Aku tetap meyakini jalanku, tetapi aku tidak membutuhkan kebencian untuk mempertahankannya.” Mungkin salah satu ujian spiritual terbesar bukan ketika kita berada di antara manusia yang sepakat dengan kita. Tetapi ketika Tuhan mempertemukan kita dengan seseorang yang sangat berbeda, lalu seakan bertanya: “Mampukah engkau tetap menjadi manusia yang baik kepadanya?” Karena barangkali yang paling berbahaya bukan sekadar perbedaan keyakinan atau pendapat. Melainkan ego yang membuat kita merasa hanya manusia yang serupa dengan kitalah yang pantas dihormati. Maka jagalah keyakinanmu. Pegang prinsipmu. Carilah kebenaran dengan sungguh-sungguh. Tetapi jangan sampai dalam perjalanan membela Tuhan, kita justru kehilangan sesuatu yang seharusnya tumbuh karena mengenal-Nya: kerendahan hati. Sebab jika semua yang berbeda harus kita musuhi, barangkali suatu hari nanti kita akan menemukan diri berdiri sendirian bukan karena dunia kehilangan kebenaran, tetapi karena ego kita tidak lagi menyediakan tempat bagi manusia. ~ @The Feri Purwo #fyp #feripurwo #selfreminder #muhasabahdiri #jumatberkah
Feri Purwo
Region: ID
Friday 25 September 2026 03:49:26 GMT
Music
Download
Comments
Khalisa :
dulu sering bgt dengerin mas feri Purwo diradio
2026-09-25 12:15:57
1
Few :
Setuju bangettt🙏🏻
2026-09-25 07:38:40
1
Rahmawati 1964 :
Masya Allohn Tabarakallah 😇
2026-09-25 06:33:03
1
ros :
Hidup mnrt aku dibawa santai saja tidak usah mencari pengakuan serta validasi dari orang lain,dan juga berusaha untuk berbuat baik pd sesama serta membenahi diri sendiri dan fokus ke yg menciptakanNYA
Agama hanya sebagai Jembatan untuk menuju kekosongan individu masing masing...:)
2026-09-25 12:02:30
1
Hari yanto :
membosankan sekarang bukan agama yg jadi pandangan tapi lahan basah kekuasaan jabatan 🤣
2026-09-25 07:33:25
1
Yunet :
👍👍❤️❤️
2026-09-25 05:30:59
1
Ana Regar :
🙏🏼
2026-09-25 04:24:14
1
toko mamiroemi :
Trimakasih😇😇
2026-09-25 23:47:07
0
ragil :
Alhamdulillah. Terima kasih ilmunya, mas. Tulisan penuh makna, bikin tenang.
2026-09-25 13:51:55
0
Eko_103S :
jadi adem kalau semua begitu...
pada akhirnya toh kita semua dalam perjalanan pulang ...
2026-09-25 07:10:44
1
rustu :
[Suka][Suka][Suka]
2026-09-25 07:10:48
1
❤mbok_nyai❤ :
🥰👍
2026-09-25 05:34:50
1
ELMANESA 2328 :
🙏👍👍
2026-09-25 15:12:08
0
To see more videos from user @feripurwo, please go to the Tikwm
homepage.