@pensineee: Nhớ quá đi thôi #jack #phuongtuan #j97 #cuoicungthi #phuquoc

Pen Sì
Pen Sì
Open In TikTok:
Region: VN
Friday 25 September 2026 05:06:43 GMT
1521
141
4
7

Music

Download

Comments

lona_28090607
Lon Hay Hát🎤 :
Này ở đâu v ạ
2026-09-25 14:13:52
0
nam.trng356
Nam Trương :
Live đỉnh thật
2026-09-25 12:19:08
0
thanh.tun.dng4
Phú Quý Do Trời♥️ :
jack live đỉnh
2026-09-25 13:08:39
0
86.tom.1997
Cỏ Lau-97♡ :
hình như diễn này lâu r
2026-09-25 11:34:06
0
To see more videos from user @pensineee, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Бұл видеоны көру ауыр: әскери қызметші қаза тапқан қаруластарының есімдерін оқып тұр Кадрларда әскери қызметші Каспийдегі қайғылы оқиға кезінде қаза тапқан сарбаздардың тізімін оқиды. Ресми мәлімет бойынша, оқу-жаттығу кезінде 17 әскери қызметшіні теңізге ағызып әкеткен. Оның 12-сі қаза тапты, үшеуі құтқарылды. Тағы екі адамды іздеу жалғасып жатыр. Қаза тапқан әскери қызметшілер: 1. Мадихан Азамат, 10.06.2007 ж.т. 2. Төлеген Ақылбек, 11.02.2007 ж.т. 3. Бердиханов Мейрамбек, 21.03.2006 ж.т. 4. Аяпберген Сержан, 18.02.2006 ж.т. 5. Мұхтарұлы Олжас, 09.01.2003 ж.т. 6. Темиргалиев Женис, 08.05.2005 ж.т. 7. Кобенов Алмас, 23.01.2006 ж.т. 8. Өмірзақ Өмірбек, 23.04.2007 ж.т. 9. Жаңабай Асет, 19.09.2006 ж.т. 10. Бегей Дастан, 03.09.2007 ж.т. 11. Диханбаев Олжас, 14.12.2005 ж.т. 12. Гилаж Ақжайық, 15.09.2006 ж.т. Қайғылы оқиғаға байланысты 25 қыркүйек Қазақстанда жалпыұлттық аза тұту күні болып жарияланды. Қаза тапқандардың туыстары мен жақындарына қайғырып көңіл айтамыз. #актау #каспии #рек #qazpoint #солдат
Бұл видеоны көру ауыр: әскери қызметші қаза тапқан қаруластарының есімдерін оқып тұр Кадрларда әскери қызметші Каспийдегі қайғылы оқиға кезінде қаза тапқан сарбаздардың тізімін оқиды. Ресми мәлімет бойынша, оқу-жаттығу кезінде 17 әскери қызметшіні теңізге ағызып әкеткен. Оның 12-сі қаза тапты, үшеуі құтқарылды. Тағы екі адамды іздеу жалғасып жатыр. Қаза тапқан әскери қызметшілер: 1. Мадихан Азамат, 10.06.2007 ж.т. 2. Төлеген Ақылбек, 11.02.2007 ж.т. 3. Бердиханов Мейрамбек, 21.03.2006 ж.т. 4. Аяпберген Сержан, 18.02.2006 ж.т. 5. Мұхтарұлы Олжас, 09.01.2003 ж.т. 6. Темиргалиев Женис, 08.05.2005 ж.т. 7. Кобенов Алмас, 23.01.2006 ж.т. 8. Өмірзақ Өмірбек, 23.04.2007 ж.т. 9. Жаңабай Асет, 19.09.2006 ж.т. 10. Бегей Дастан, 03.09.2007 ж.т. 11. Диханбаев Олжас, 14.12.2005 ж.т. 12. Гилаж Ақжайық, 15.09.2006 ж.т. Қайғылы оқиғаға байланысты 25 қыркүйек Қазақстанда жалпыұлттық аза тұту күні болып жарияланды. Қаза тапқандардың туыстары мен жақындарына қайғырып көңіл айтамыз. #актау #каспии #рек #qazpoint #солдат
POV: Kembang Raga. Angin sore dari lereng Merapi berhembus lembut melalui halaman Keraton Sukmaningrat, membawa wangi dupa yang menyala di sudut-sudut pendapa. Gamelan mengalun lirih dari balik regol, namun suasana hati sang putra mahkota, Raden Mahesa Adipati, jauh dari kata tenang. Ia adalah putra tunggal Prabu Adiningrat dan Dewi Sekar Wangi, pewaris sah takhta Sukmaningrat. Hari-harinya dipenuhi tugas negara, namun dalam beberapa bulan terakhir, satu desakan terus memenuhi telinganya. Mahesa harus segera menikah. Para pinisepuh, punggawa, bahkan rakyat di luar tembok keraton membicarakan hal itu dengan penuh harap. Namun di balik banyak nama gadis bangsawan yang diusulkan, hanya satu yang diam-diam mengisi batin Mahesa: Y/N Ayu Sarasvati, putri tunggal Keraton Suryanegara. Gadis berparas ayu, bertutur lembut, namun diselimuti aura mistis yang tidak dimiliki putri manapun. Konon ia lahir ketika rembulan purnama tepat berada di tengah langit—tanda seorang anak yang membawa keseimbangan antara alam kasat mata dan alam alus. Banyak yang berkata bahwa Y/N memiliki waskita, mata batin kedua yang terbuka. Tidak mengherankan bila kehadirannya selalu membuat orang lain merunduk hormat, bukan sekadar karena darah biru, tapi karena aura halus yang menyertainya. Dan pada suatu malam penuh cahaya obor, Mahesa akhirnya menghadap kedua orang tuanya. “Ibu, Rama… kawula sampun gadhah pilihan,” ucapnya sambil menundukkan kepala dalam-dalam. “Sinten niku, Le?” tanya Dewi Sekar Wangi, lirih namun menembus hati. Mahesa menarik napas panjang. “Putri Prabu Suryantara… Y/N Ayu Sarasvati.” Keheningan memenuhi pendapa. Namun dalam senyap, Prabu Adiningrat tersenyum kecil. Maka, malam itu juga, Mahesa berangkat ke Keraton Suryanegara untuk menyampaikan niatnya. Keesokan harinya, Y/N menemuinya di sebuah taman penuh bunga sedap malam. Cahaya pagi memantul lembut di kulitnya, membuat aura halus itu semakin terasa. Mahesa menahan degup jantungnya ketika akhirnya bicara. “Dek… kedatengan kulo teng mriki, kulo arepe ngiket sampean.” Y/N menunduk, jemarinya menekan kain jariknya. “Mas… yen panjenengan ajenge ngiket kulo, kulo nyuwun setunggal soko saka panjenengan.” Mahesa mendekat, tatapannya teguh. “Opo sing kok jaluk, dek? Mas siap nuruti.” Y/N mengangkat wajahnya. Tatapannya tenang… namun mengandung beban besar. “Kulo nyuwun mas nggolek kembang tujuh rupa ing Alas Kulon.” Mahesa menelan ludah. Alas Kulon bukan sembarang hutan. Itu adalah gerbang antara dunia manusia dan dunia alus, tempat para penunggu dan makhluk tak bernama tinggal. Namun Y/N belum selesai. Dengan suara yang sedikit bergetar, ia menambahkan. “Mas Mahesa… kulo maringi wektu 7 dinten 7 bengi.
POV: Kembang Raga. Angin sore dari lereng Merapi berhembus lembut melalui halaman Keraton Sukmaningrat, membawa wangi dupa yang menyala di sudut-sudut pendapa. Gamelan mengalun lirih dari balik regol, namun suasana hati sang putra mahkota, Raden Mahesa Adipati, jauh dari kata tenang. Ia adalah putra tunggal Prabu Adiningrat dan Dewi Sekar Wangi, pewaris sah takhta Sukmaningrat. Hari-harinya dipenuhi tugas negara, namun dalam beberapa bulan terakhir, satu desakan terus memenuhi telinganya. Mahesa harus segera menikah. Para pinisepuh, punggawa, bahkan rakyat di luar tembok keraton membicarakan hal itu dengan penuh harap. Namun di balik banyak nama gadis bangsawan yang diusulkan, hanya satu yang diam-diam mengisi batin Mahesa: Y/N Ayu Sarasvati, putri tunggal Keraton Suryanegara. Gadis berparas ayu, bertutur lembut, namun diselimuti aura mistis yang tidak dimiliki putri manapun. Konon ia lahir ketika rembulan purnama tepat berada di tengah langit—tanda seorang anak yang membawa keseimbangan antara alam kasat mata dan alam alus. Banyak yang berkata bahwa Y/N memiliki waskita, mata batin kedua yang terbuka. Tidak mengherankan bila kehadirannya selalu membuat orang lain merunduk hormat, bukan sekadar karena darah biru, tapi karena aura halus yang menyertainya. Dan pada suatu malam penuh cahaya obor, Mahesa akhirnya menghadap kedua orang tuanya. “Ibu, Rama… kawula sampun gadhah pilihan,” ucapnya sambil menundukkan kepala dalam-dalam. “Sinten niku, Le?” tanya Dewi Sekar Wangi, lirih namun menembus hati. Mahesa menarik napas panjang. “Putri Prabu Suryantara… Y/N Ayu Sarasvati.” Keheningan memenuhi pendapa. Namun dalam senyap, Prabu Adiningrat tersenyum kecil. Maka, malam itu juga, Mahesa berangkat ke Keraton Suryanegara untuk menyampaikan niatnya. Keesokan harinya, Y/N menemuinya di sebuah taman penuh bunga sedap malam. Cahaya pagi memantul lembut di kulitnya, membuat aura halus itu semakin terasa. Mahesa menahan degup jantungnya ketika akhirnya bicara. “Dek… kedatengan kulo teng mriki, kulo arepe ngiket sampean.” Y/N menunduk, jemarinya menekan kain jariknya. “Mas… yen panjenengan ajenge ngiket kulo, kulo nyuwun setunggal soko saka panjenengan.” Mahesa mendekat, tatapannya teguh. “Opo sing kok jaluk, dek? Mas siap nuruti.” Y/N mengangkat wajahnya. Tatapannya tenang… namun mengandung beban besar. “Kulo nyuwun mas nggolek kembang tujuh rupa ing Alas Kulon.” Mahesa menelan ludah. Alas Kulon bukan sembarang hutan. Itu adalah gerbang antara dunia manusia dan dunia alus, tempat para penunggu dan makhluk tak bernama tinggal. Namun Y/N belum selesai. Dengan suara yang sedikit bergetar, ia menambahkan. “Mas Mahesa… kulo maringi wektu 7 dinten 7 bengi." "Yen panjenengan mboten bali sakwise wekdal punika… kulo bakal nganggep yen panjenengan mboten diparengake pepadane.” Mahesa tahu, 7 hari 7 malam di Alas Kulon bukan sekadar tenggat waktu. Itu batas antara hidup dan tidak kembali. Namun tanpa ragu, ia berkata: “Nggih dek… kulo sanggup.” Y/N menunduk dalam-dalam. Seolah dalam hatinya terdapat ketakutan besar yang tidak ia ungkapkan. "Semoga berhasil, Mas Raden..." --- Mahesa memasuki hutan itu pada dini hari. Begitu melewati batas Alas Kulon, dunia seakan berubah. Angin lenyap. Burung-burung tak berkicau. Suara gamelan samar terdengar dari kejauhan—namun bukan gamelan manusia. Kabut turun dari segala penjuru. Mahesa mengusap dadanya. “Kulo mlebet kanthi niat suci,” gumamnya. --- Di depan sendang jernih, Mahesa melihat bayangannya. Namun bayangan itu berubah menjadi lelaki tua berbusana jubah putih. Sosok itu berbicara tanpa membuka mulut. “Anak Prabu Adiningrat… elinga. Wektu ora mlaku podo ing kene. 7 dina ing njaba iso dadi sak wulan ing njero.” Mahesa hanya sempat mengangguk sebelum bayangan itu menghilang. --- Saat ia kembali berjalan, tiba-tiba. Tangis bayi terdengar keras. Mahesa menemukan bayi itu, namun saat ia menghampiri, tubuh bayi memanjang, meliuk, dan berubah menjadi raksasa pucat setinggi dua pohon kelapa. (lanjut di komen) ⚠JUST POV⚠ #POV #HEESEUNG

About